Avesiar – Cerpen dan Puisi
Kota Seribu Topeng (bagian 2)
Oleh: Mas Ngabehi
***************
Pertemuan dengan Sang Pembuat Topeng
Hari itu, langit Kota Metaphora dihiasi semburat jingga, tetapi bagi Rendra, keindahan itu tidak lagi menghibur. Ia berjalan menyusuri jalan-jalan kota yang ramai dengan pikiran penuh tanya. Laras telah memberitahunya tentang toko kecil milik Pak Topan, sang pembuat topeng terbaik di kota ini.
“Dia tidak hanya membuat topeng,” kata Laras sehari sebelumnya. “Dia menciptakan simbol. Topeng-topeng itu mengubah nasib orang-orang di sini.”
Rendra mendapati toko itu di ujung jalan sempit yang sepi. Pintu kayunya tampak tua, dengan ukiran rumit yang menggambarkan wajah-wajah bertopeng. Di dalam, toko itu dipenuhi ratusan topeng, dari yang sederhana hingga yang begitu rumit hingga tampak seperti karya seni museum.
“Selamat datang,” suara parau menyapa.
Di belakang meja kerja, seorang lelaki tua dengan rambut putih panjang duduk di kursi kayu yang sudah lapuk. Ia mengenakan topeng, tentu saja—topeng berwarna kelabu dengan garis-garis perak yang berkilau samar.
“Kau pasti Pak Topan,” kata Rendra.
Lelaki itu mengangguk pelan. “Dan kau pasti bukan orang Metaphora,” jawabnya sambil memperhatikan Rendra dari ujung kepala hingga kaki.
“Aku mendengar kau pembuat topeng terbaik,” kata Rendra. “Aku ingin tahu kenapa kota ini begitu terobsesi dengan topeng.”
Pak Topan tertawa kecil, nadanya seperti ironi. “Orang-orang memakai topeng bukan karena mereka suka, tapi karena mereka butuh,” jawabnya sambil mengambil topeng setengah jadi dari mejanya.
Rendra mendekat, mengamati bagaimana tangan Pak Topan yang keriput bekerja dengan cekatan, mengukir detail halus pada kayu. “Maksudmu, butuh untuk apa?”
“Dunia ini penuh dengan ketidakpastian, anak muda,” kata Pak Topan. “Topeng memberikan perlindungan. Ia menutupi kelemahan, menyembunyikan rasa takut, dan memberikan identitas yang diinginkan. Bukankah itu yang diinginkan semua orang?”
Rendra terdiam sejenak, tetapi hatinya memberontak. “Tapi apa gunanya perlindungan jika itu berarti kehilangan kejujuran? Bukankah dengan topeng, kita malah menciptakan jarak? Bukannya mendekatkan, topeng membuat kita semakin jauh dari orang lain, bahkan dari diri kita sendiri.”
Pak Topan berhenti bekerja. Ia menatap Rendra, meski mata sebenarnya tersembunyi di balik topeng. “Kau punya keberanian untuk berpikir berbeda, tetapi kau tidak mengerti, anak muda. Tanpa topeng, manusia rapuh. Mereka saling melukai dengan kebenaran yang terlalu tajam.”
Rendra mendekati rak yang penuh dengan topeng-topeng indah. Setiap topeng tampak seperti memiliki jiwa, seolah-olah siap berbicara. “Dan siapa yang memutuskan apa yang layak disembunyikan atau diungkapkan?” tanyanya.
Pak Topan terdiam lama sebelum menjawab. “Itulah seni kehidupan, Rendra. Setiap orang memutuskan sendiri, tetapi dengan bantuan topeng, mereka merasa memiliki kendali atas keputusan itu.”
Rendra menggenggam sebuah topeng kecil dari rak. Topeng itu terbuat dari kayu sederhana, tanpa hiasan mencolok, tetapi terasa berat di tangannya. “Apakah kau sendiri pernah melepas topengmu, Pak Topan?” tanyanya, menatap lurus ke arah lelaki tua itu.
Pak Topan tampak terguncang. Tangannya gemetar, tetapi ia segera menenangkan dirinya. “Pertanyaan yang menarik,” jawabnya, mengalihkan pandangannya ke jendela kecil di sudut ruangan. “Tapi tidak relevan.”
“Justru itu yang paling relevan,” tegas Rendra. “Bagaimana seseorang yang membuat topeng untuk orang lain bisa memahami kehidupan tanpa topeng, jika ia sendiri tak pernah mengalaminya?”
Ruangan menjadi sunyi. Bahkan suara hiruk-pikuk dari luar toko terasa menjauh. Rendra menyadari bahwa ia baru saja menyentuh sesuatu yang sensitif.
“Ada harga yang harus dibayar untuk setiap topeng yang dibuat, Rendra,” kata Pak Topan akhirnya. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan. “Dan itu termasuk topeng yang aku kenakan.”
Rendra ingin bertanya lebih lanjut, tetapi Pak Topan berdiri, mengambil topeng dari rak, dan menyerahkannya kepadanya. “Ambil ini. Aku membuatnya bertahun-tahun lalu, untuk seseorang yang tidak pernah kembali.”
Rendra memegang topeng itu. Bentuknya sederhana tetapi elegan, dengan pola halus yang sulit dilihat kecuali diperhatikan dengan saksama. “Apa artinya?” tanyanya.
Pak Topan menghela napas panjang. “Topeng itu dibuat untuk seseorang yang percaya bahwa dunia lebih indah tanpa kebohongan. Tetapi bahkan ia akhirnya memilih pergi, karena ia tidak bisa hidup di dunia seperti ini.”
Kata-kata itu menghantam Rendra seperti angin dingin. Ia menyadari bahwa ada lebih banyak hal tersembunyi di balik topeng Pak Topan daripada yang ia duga.
“Pak Topan,” katanya perlahan. “Aku tidak percaya bahwa topeng adalah satu-satunya cara untuk melindungi diri. Ada kekuatan dalam menghadapi dunia apa adanya, meski itu berarti menerima luka dan ketakutan.”
Pak Topan tersenyum samar, tetapi senyumnya terasa pahit. “Kau adalah harapan, Rendra. Tetapi harapan itu berat untuk dipikul. Ingatlah itu.”
Ketika Rendra keluar dari toko, topeng yang ia bawa terasa lebih dari sekadar benda. Ia adalah simbol, sebuah pertanyaan yang harus ia jawab sendiri: Apakah ia akan memilih menghadapi dunia tanpa topeng, atau ikut larut dalam kebiasaan kota ini?
Dan di belakangnya, Pak Topan berdiri diam di dalam tokonya, menatap ke cermin dengan topeng kelabu yang tetap melekat di wajahnya, bahkan ketika tidak ada orang lain di sana.
Pemberontakan Rendra
Fajar menyingsing di atas Kota Metaphora, membawa kilau lembut yang menyapu arsitektur modernnya. Namun, di salah satu sudut kota yang sunyi, Rendra memandang ke cermin kecil di kamarnya, melihat pantulan wajahnya sendiri. Tak ada topeng. Tak ada ornamen buatan. Hanya dirinya.
Keputusan itu telah bulat. Pagi ini, ia akan berjalan tanpa topeng di kota yang menganggap tindakan itu sebagai pelanggaran besar. Di balik kegusarannya, ada tekad yang membara. “Kebenaran harus dimulai dari seseorang,” bisiknya pada dirinya sendiri.
Ketika Rendra melangkah keluar dari penginapan kecilnya, angin dingin menyapu wajahnya. Ia merasa telanjang, bukan karena udara, tetapi karena ketidakhadiran topeng. Orang-orang yang melintas menatapnya dengan terkejut, beberapa melangkah mundur, bahkan ada yang mencemooh.
“Dia gila,” bisik seorang wanita sambil menutupi mulutnya dengan tangan.
“Tidak tahu malu,” gumam seorang pria dengan suara rendah tetapi menusuk.
(bersambung ke bagian 3)
______________
Selayang pandang:
Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.
Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.
Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).













Discussion about this post