KAMU KUAT – Jakarta
Membaca dan menghafal Al-Qur’an adalah sebagai seorang Muslim merupakan bagian dari ibadah untuk memahami syariat agama yang penuh makna dan pelajaran hidup.
Al-Qur’an bukan sekadar tentang hafalan, tetapi juga perjalanan spiritual yang membawa ketenangan dan kedekatan dengan Allah. Setiap tantangan yang dihadapi, baik rasa rindu pada keluarga maupun kesulitan dalam menghafal, bisa diatasi dengan ketekunan dan dukungan orang-orang di sekitar.
Bagi Muslim baik dewasa dan anak muda di zaman digital, hal ini merupakan sebuah solusi bagi ketenangan hidup. Tidak hanya itu, di dalam Al Qur’an terkandung surah dan ayat yang mengingatkan manusia untuk bagaimana berperilaku sebagai tuntunan hidup. Bagian sebagian orang, ada surah-surah yang menyentuh bagi pribadi masing-masing.
Nah, bagaimana dengan beberapa remaja dan anak muda yang berbagi kisah mereka ke redaksi kanal remaja dan anak muda KAMU KUAT! Avesiar.com? Cek yuk!
Farrel Omar Kadarsyah, santri kelas 12 di SMA Plus Liwaul Furqon, Bogor

Farrel berbagi kisahnya tentang bagaimana ia mulai menghafal Al-Qur’an di pesantren. Awalnya, ada sedikit paksaan ketika baru masuk SMP, tetapi seiring waktu, kebiasaan itu menjadi sesuatu yang dijalani dengan ikhlas. Bahkan, ia merasa semakin betah hingga akhirnya melanjutkan pendidikannya di pesantren saat SMA.
Tinggal jauh dari orang tua tentu bukan hal yang mudah, apalagi saat masih kecil. Perasaan ingin menyerah sempat muncul karena sulit berpisah dengan keluarga. Namun, berkat dukungan teman-teman di pesantren, ia akhirnya bisa melupakan kesedihannya dan fokus menghafal.
“Saat SMP, mungkin karena masih kecil, saya susah pisah dengan orang tua. Ada perasaan hampir menyerah, tapi karena dibantu oleh teman-teman di sana, akhirnya saya bisa melupakan perasaan itu,” ungkapnya.
Setiap orang punya cara sendiri dalam menghafal, dan bagi dirinya, teknik yang digunakan cukup sederhana. Ia membaca ayat-ayat yang ingin dihafal sebanyak tiga hingga lima kali, lalu mengulanginya terus-menerus hingga lancar. Setelah itu, hafalan yang sudah dikuasai kembali diulang agar tetap teringat.
Dari 114 surah dalam Al-Qur’an, salah satu yang paling berkesan baginya adalah Surah Al-Waqiah. “Surah ini membahas tentang hari kiamat, balasan bagi orang baik dan buruk, serta ke mana jiwa manusia setelah meninggal. Surah ini mengingatkan saya bahwa dunia hanya sementara, jadi buat apa kita berleha-leha?” katanya.
Perjalanan menghafal Al-Qur’an tidak hanya memberinya hafalan semata, tetapi juga membawa ketenangan hati. “Setelah membaca Al-Qur’an, hati saya merasa lebih tenang dan tenteram. Saya bisa melupakan masalah yang dihadapi dan merasa lebih dekat dengan Allah,” ujarnya.
Sebagai seorang santri, ia juga memiliki target khusus di bulan Ramadan ini. “Target pribadi saya semoga bisa mengkhatamkan Al-Qur’an tiga kali di bulan Ramadan,” katanya berharap.
Athari Harraz, sekolah terakhir kelas 11 di SMAIT Al-Qudwah, Depok, saat ini belajar di Mesir
Bagi Athari Harraz, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi cahaya yang membimbing hidupnya. Remaja yang pernah bersekolah di SMAIT Al-Qudwah, Depok, ini kini sedang menempuh pendidikan di Mesir. Perjalanannya dalam memahami Al-Qur’an semakin mendalam, terutama setelah mengikuti kajian tafsir dan tadabbur ayat-ayat suci.

Sejak kecil, Athar sudah mencintai Al-Qur’an. Kini, ia telah menghafal lebih dari 10 juz. Meski belum sepenuhnya dimurojaah kembali, ia terus berusaha menjaga hafalannya.
“Alhamdulillah, saya suka membaca Al-Qur’an. Akhir-akhir ini saya juga senang mempelajari tafsir dan tadabbur ayat-ayatnya,” ujar Athar.
Dari 114 surah dalam Al-Qur’an, Surah Luqman menjadi favoritnya. Namun, ada satu ayat yang paling membekas dalam hatinya, yaitu Surah Al-Mulk ayat 2:
“(Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji dari kalian mana yang paling baik amalannya.”
Bagi Athar, ayat ini memiliki makna mendalam. Hidup dan mati, kebahagiaan dan kesedihan, semuanya adalah ujian dari Allah. Bagaimana seseorang merespons ujian tersebut akan menentukan siapa yang memiliki amal terbaik di hadapan-Nya.
Athar pernah mengalami dua fase dalam hidupnya merasa sangat dekat dengan Al-Qur’an dan merasa jauh darinya.
“Saya pernah menghafal dan membaca Al-Qur’an setiap hari, memahami maknanya. Saat itu, hidup terasa lebih mudah, masalah sehari-hari bisa diselesaikan dengan baik, dan saya tahu apa yang harus dilakukan,” katanya.
Namun, ketika ia mulai menjauh dari Al-Qur’an, perbedaan besar terasa. “Saya sering merasa sedih tanpa sebab, cepat lupa sesuatu, tidak tahu harus melakukan apa, dan sering khilaf melakukan keburukan, baik sengaja maupun tidak,” ungkapnya Athar menutup wawancara ini.
Annisa Sekar Nurani, mahasiswi semester 6, Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro
Bagi Annisa Sekar Nurani, mahasiswa semester 6 Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Al-Qur’an bukan hanya kitab suci, tetapi juga sahabat dalam perjalanan hidup. Meski belum membacanya secara rutin setiap hari, ia merasakan bahwa Al-Qur’an selalu menjadi tempatnya kembali, terutama saat hati gelisah dan butuh ketenangan.

“Saya masih ada di maqom di mana membaca Al-Qur’an adalah kebutuhan di kala hati gelisah dan sedih. Namun, saya akan terus meng-upgrade kebiasaan saya, dan membaca Al-Qur’an secara rutin adalah salah satu goals saya tahun ini.”
Sejak mondok di pesantren, Annisa telah menghafal beberapa juz, di antaranya juz 29 dan 30. Surah-surah utama seperti Al-Baqarah, Yasin, Ar-Rahman, dan Al-Waqiah juga lekat dalam ingatannya. Meski kini tak lagi berada di lingkungan pesantren, ia berkomitmen untuk terus menjaga hafalannya sebisa mungkin.
Dari sekian banyak surah dalam Al-Qur’an, Annisa paling menyukai Surah Ar-Rahman.
“Saat membaca dan memahami terjemahannya, saya tersadar betapa seringnya kita lupa bersyukur. Allah sudah memberikan begitu banyak nikmat, tapi kita masih sering kufur. Surah Ar-Rahman mengingat
Sebagai mahasiswa perantau, Annisa merasakan bahwa hidup jauh dari rumah membutuhkan ketenangan spiritual agar tetap kuat menghadapi berbagai tantangan.
“Saya merasa siraman itu selalu datang ketika membaca Al-Qur’an. Ketenangan hati dan pikiran membuat hidup lebih nyaman, karena kita merasa selalu dilindungi dan diberikan petunjuk oleh Allah SWT,” ujarnya.
Perubahan yang Annisa rasakan setelah lebih dekat dengan Al-Qur’an tidak datang secara tiba-tiba, melainkan perlahan-lahan.
“Setelah membaca dan meresapi artinya, ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Kadang, kerumitan pikiran terurai dengan sendirinya, atau tiba-tiba saya mendapat petunjuk atas suatu kebingungan.”
Baginya, Al-Qur’an benar-benar berfungsi sebagai petunjuk dalam hidup. Membacanya bukan sekadar ritual, tetapi sebuah kenikmatan yang bisa dirasakan siapa saja secara cuma-cuma.
Kisah para remaja dan anak muda di atas mengajarkan kita bahwa mendekatkan diri pada Al-Qur’an tidak harus langsung sempurna. Mulailah membiasakanya membaca setiap hari, bahkan setiap saat, sambil membaca dan merenungi maknanya.
Karena sejatinya, Al-Qur’an akan selalu menjadi cahaya bagi siapa pun yang ingin mendekatinya dan di Yaumil Akhir bagi Muslim. (Resty)













Discussion about this post