Avesiar – Cerpen dan Puisi
Sajak Sunyi Tanpa Puisi
Oleh: Mas Ngabehi
****************
Di lorong sepi tanpa aksara,
malam menggigil dalam gelisah,
Kata-kata yang dulu menyala,
kini padam dalam resah.
——————————————-
Di bibir penyair, tinta membisu,
tercekik janji yang dipasung waktu,
Kebebasan yang dulu bergema,
dipasung oleh relasi kuasa buta.
——————————————-
Puisi mati di tangan penguasa,
dirobek sunyi, dilipat dusta,
dikubur dalam sidang kata,
diadili tanpa suara.
——————————————-
Tak ada lagi sajak yang berani,
tak ada metafora yang menari,
yang tersisa hanya sunyi,
dan kebebasan yang dikafani.
——————————————-
Namun, sejarah tak bisa dibungkam,
meski puisi dicabut dari malam,
suatu saat kata-kata kan bangkit,
menjadi nyala api di tangan semesta.
Selayang pandang:
Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.
Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.
Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).













Discussion about this post