• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home KAMU KUAT

Kecewa dan Sedih Pernah Melanda, Bagaimana Mereka Berjuang Agar Kuat Melewatinya

by Ave Rosa
10 Maret 2025 | 23:55 WIB
in KAMU KUAT
Reading Time: 6 mins read
A A
Kecewa dan Sedih Pernah Melanda, Bagaimana Mereka Berjuang Agar Kuat Melewatinya

Ilustrasi. Foto: ist & Pexels. Kolase: Avesiar.com

KAMU KUAT – Jakarta

Tidak selamanya hidup berjalan sesuai dengan harapan. Setiap orang pasti pernah mengalami kesedihan dan kekecewaan dalam hidupnya. Hal ini bisa datang dari berbagai situasi, seperti kegagalan dalam mencapai sesuatu, kehilangan orang yang disayangi, atau harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Ada kalanya kita mengalami momen yang penuh kekecewaan dan kesedihan. Mungkin karena kegagalan, kehilangan, atau bahkan dikhianati oleh orang yang dipercaya.

Sebagai remaja, perasaan sedih dan kecewa sering kali terasa lebih dalam karena banyak hal baru yang kita alami dan pelajari. perasaan ini bisa terasa lebih mendalam karena kita masih belajar memahami dunia dan diri sendiri. Namun, kesedihan dan kekecewaan bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari pengalaman tersebut, kita bisa belajar tentang ketahanan, keikhlasan, dan bagaimana cara bangkit kembali.

Berikut cerita dari para sahabat kanal remaja kamu kuat avesiar.com

Echa, mahasiswi semester 7, Universitas Mercu Buana

Echa, mahasiswi semester 7, Universitas Mercu Buana, Jakarta. Foto: istimewa

Di balik senyum seorang mahasiswi semester 7 di Universitas Mercu Buana, Echa menyimpan cerita hidup yang penuh liku. Tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis, ia terbiasa menghadapi kehidupan seorang diri. Kedua orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan, hingga interaksi mereka lebih sering berupa pemberian uang daripada kebersamaan yang hangat.

“Sejak kecil, aku tidak pernah diberikan kesempatan untuk mengeluarkan pendapat. Setiap keputusan dalam hidupku diatur oleh mereka. Itu membuatku tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri, takut berbicara di depan orang lain, bahkan ragu dalam mengambil keputusan,” ungkapnya.

Bacaan Terkait :

Kesedihan dan Keterpurukan yang Menjadi Penyemangat serta Motivasi Masa Depan, Kata Mereka

Korban Salah Tangkap, Warga London Berdarah Somalia Kecewa Saat Bebas

Load More

Rasa haus akan kasih sayang dan perhatian membuat Echa sangat menghargai kehadiran teman-temannya di kampus. Dari semester 1 hingga 5, ia memiliki tiga sahabat dekat yang selalu mendukungnya. Mereka mengajarinya cara percaya diri saat presentasi, memberi ruang untuk menyuarakan pendapat, dan menjadi tempatnya berbagi cerita.

Namun, segalanya berubah ketika mereka mengetahui bahwa Echa memiliki Mix Anxiety Depression Disorder (MADD), sebuah gangguan mental yang membuat suasana hatinya berubah drastis dalam waktu singkat. Rasa cemas berlebih sering membuatnya menyakiti diri sendiri, kehilangan konsentrasi, dan kehilangan semangat.

Alih-alih merangkulnya, sahabat-sahabatnya justru menjauh. “Sejak mereka tahu, mereka meninggalkanku. Aku sendirian di kampus dari semester 6 hingga sekarang. Aku sempat berpikir untuk pindah kampus karena tekanan batin yang terus menghantui—bertanya-tanya, ‘Kenapa aku dijauhi? Harusnya mereka merangkulku.’”

Namun, perjalanan Echa tidak berhenti di sana. Ia memilih untuk bangkit. Perlahan, ia kembali menemukan semangat, terutama setelah bertemu teman-teman baru yang benar-benar peduli padanya. “Sekarang aku sudah jauh lebih baik. Aku kembali semangat kuliah dan bersyukur dikelilingi orang-orang yang tulus.”

Dari semua pengalaman yang ia lalui, Echa selalu berpegang pada satu prinsip hidup:

“Mungkin kamu memang tidak seberuntung orang lain, tapi orang lain belum tentu sekuat kamu. Jadi kamu harus bangga pada diri sendiri.”

Perjalanan Echa adalah bukti bahwa keterpurukan bukan akhir dari segalanya. Dengan kekuatan dalam diri dan dukungan yang tepat, seseorang bisa bangkit dan menemukan kebahagiaan yang sejati.

Nur Asyifa Gunawan, mahasiswi semester 6, Universitas Padjadjaran, Bandung

Nur Asyifa Gunawan, mahasiswi semester 6, Universitas Padjadjaran, Bandung. Foto: istimewa

Bagi sebagian orang, kekecewaan datang dari harapan yang tak terpenuhi. Namun, bagi Nur Asyifa Gunawan, mahasiswi semester 6 Universitas Padjadjaran, kekecewaan bukanlah sesuatu yang ia arahkan ke keadaan atau orang lain melainkan kepada dirinya sendiri.

“Aku nggak merasa kecewa dengan keadaan, tapi lebih marah ke diri sendiri,” ungkapnya.

Dalam perjalanan akademiknya, Asyifa menghadapi tantangan besar. Ia merasa bahwa orang lain bisa dengan mudah memahami pelajaran, sementara ia harus berjuang lebih keras. “Sebesar apa pun aku mencoba, aku masih kesulitan untuk menerima pelajaran secepat yang lain,” katanya.

Ketika rasa putus asa semakin kuat, ia bahkan pernah menarik diri dari perkuliahan. “Ada beberapa kali aku pull out dari kegiatan perkuliahan. Nggak punya energi atau motivasi untuk bahkan keluar kamar.” ujar Asyifa

Di tengah keterpurukan, Asyifa mencari cara untuk mengembalikan kendali atas dirinya. Bermain game atau melakukan hal-hal yang bisa ia kontrol sepenuhnya menjadi caranya untuk menyeimbangkan perasaan. “Supaya kepalaku nggak merasa semua yang aku lakukan itu di luar kendali.”

Namun, satu hal yang paling berat baginya adalah menahan semua ini sendiri. “Aku nggak berani mengungkapkannya karena bukan merasa kecewa dengan keadaan, tapi sibuk menyalahkan diri sendiri.” Ia belum menemukan hikmah dari setiap kekecewaan yang ia rasakan, tetapi tetap berusaha bertahan.

Baginya, ada satu ketakutan yang lebih besar dari rasa kecewa, melihat kekecewaan di wajah orang tuanya. “Aku sekuat tenaga bertahan supaya nggak mengecewakan orang tua. Aku nggak berani lihat mereka kecewa sama aku, meskipun aku harus remuk sendiri.”

Perjalanan Asyifa mungkin masih penuh tanda tanya, tetapi keberaniannya untuk terus berusaha adalah bukti bahwa ia lebih kuat dari yang ia kira. Meskipun ia merasa remuk, ia tetap berdiri dan itu sudah merupakan kemenangan tersendiri.

Shevila Nyssa Sofiana, mahasiswi semester 4, Universitas Pamulang, Tangsel

Shevila Nyssa Sofiana, mahasiswi semester 4, Universitas Pamulang, Tangsel. Foto: istimewa

: istoSalah satu momen paling menyedihkan dalam hidup Shevila adalah ketika ia mengetahui bahwa ayahnya mengalami kecelakaan saat pulang kerja. Saat itu, ia sedang bermain bersama teman-temannya, hingga tiba-tiba tetangga menelepon orang tuanya dan memberi tahu tentang kejadian tersebut.

Perasaan takut kehilangan orang yang sangat ia sayangi begitu kuat, membuatnya merasa sedih dan cemas. “Saya sangat sayang dengan ayah saya, maka ketika hal-hal yang tidak baik terjadi kepadanya, saya merasa sangat sedih dan takut kehilangannya,” ujarnya.

Selain kesedihan, kekecewaan juga menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Shevila mengaku bahwa ia sering kali kecewa terhadap ekspektasi yang ia buat sendiri. Salah satu contohnya adalah saat ia mengikuti perlombaan. Ia telah berlatih keras dan yakin akan menang, tetapi ternyata hasilnya tidak sesuai harapan. “Ketika sudah berusaha keras untuk mencapai sesuatu tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, itu bisa sangat menyakitkan,” katanya.

Saat mengalami kesedihan atau kekecewaan, Shevila sering merasa kosong dan kehilangan semangat. Bahkan, terkadang ia mengalami kecemasan hingga sulit tidur. Namun, seiring waktu, ia berusaha untuk bangkit kembali. Salah satu cara yang ia lakukan untuk mengatasi perasaan itu adalah dengan melakukan hobinya, yaitu mendaki gunung. “Setiap kali merasa sedih, saya selalu mengajak teman untuk pergi mendaki. Setelah pulang, hati dan perasaan saya kembali membaik. Saya punya prinsip, lebih baik menyakiti fisik daripada hati yang sakit,” ujarnya dengan candaan.

Selain itu, ia juga selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena baginya, hanya Tuhan yang tidak akan pernah mengecewakan. Ia percaya bahwa setiap ujian yang datang adalah bagian dari rencana yang lebih besar.

Dalam menghadapi masa-masa sulit, Shevila merasa beruntung memiliki keluarga dan sahabat yang selalu mendukungnya. Mereka tidak hanya memberikan semangat, tetapi juga menjadi tempatnya bercerita dan mencurahkan isi hati. “Mereka selalu meyakinkan bahwa dunia akan baik-baik saja, dan sahabat saya ini selalu terbuka saat saya butuh teman untuk berbagi,” katanya.

Kehadiran orang-orang terdekat membuatnya merasa lebih kuat dan tidak sendirian dalam menghadapi tantangan hidup.

Dari pengalaman-pengalaman tersebut, Shevila belajar banyak hal. Ia menyadari bahwa larut dalam kesedihan bukanlah solusi, terutama jika masih ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Selain itu, ia juga memahami bahwa menaruh harapan terlalu tinggi pada sesuatu yang belum pasti hanya akan berujung pada kekecewaan. “Sebaik-baiknya harapan, hanya berharap kepada Allah SWT, karena pasti tidak akan mengecewakan,” tuturnya.

Kesedihan dan kekecewaan adalah bagian dari hidup yang tidak bisa dihindari. Namun, Shevila percaya bahwa semua itu bisa dihadapi dengan sikap yang lebih realistis dan penuh keikhlasan. Meskipun terasa menyakitkan, pengalaman tersebut bisa menjadi pelajaran yang membuat kita lebih memahami diri sendiri dan dunia di sekitar kita. Yang terpenting adalah bagaimana kita bangkit, belajar dari pengalaman tersebut, dan tetap melangkah ke depan.

Dengan belajar dari pengalaman, bangkit dari keterpurukan, dan bersandar pada Tuhan, setiap orang pasti bisa menemukan kembali kebahagiaannya. Justru dengan mengalaminya, kita bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijaksana. Yang perlu kita yakini bahwa setelah badai, selalu ada langit cerah.

Begitu juga dengan hidup, setelah kesedihan dan kekecewaan, akan ada kebahagiaan yang menunggu jika kita terus melangkah ke depan. Karena pada akhirnya, kesedihan dan kekecewaan hanyalah sementara, dan kebahagiaan akan selalu menunggu di depan jika kita terus berusaha dan tidak menyerah. (Resty)

Tags: KecewaKesedihanSedih
ShareTweetSendShare
Previous Post

Tarik Ulur Pemakzulan Presiden Korsel, Yoon Ditangkap Kemudian Dibebaskan dan Diadili Tanpa Ditahan

Next Post

Kisah Nabi Idris AS, Nabi ke-2 yang Sholeh dan Penyabar

Mungkin Anda Juga Suka :

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

14 Januari 2026

...

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

14 Oktober 2025

...

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

13 Oktober 2025

...

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

10 Oktober 2025

...

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

9 Oktober 2025

...

Load More
Next Post
Kisah Nabi Idris AS, Nabi ke-2 yang Sholeh dan Penyabar

Kisah Nabi Idris AS, Nabi ke-2 yang Sholeh dan Penyabar

Dilanda Kekeringan, Akan Mengimpor Satu Juta Domba Menyambut Idul Adha

Dilanda Kekeringan, Akan Mengimpor Satu Juta Domba Menyambut Idul Adha

Discussion about this post

TERKINI

Pertamina Energy AdSport Challenge Mahasiswa Pungkas dengan Awarding Session di ITB Bandung

23 Mei 2026

Memahami Talak dan Jenisnya, Perkara Halal yang Paling Dibenci oleh Allah Ta’ala

23 Mei 2026

Google Diduga Memecat Insinyur AI Karena Memprotes Pekerjaan untuk Pemerintah Israel dalam Kejahatan Perang

22 Mei 2026

Tikus ‘Menyerbu ‘Pangkalan Pelatihan AL Israel di Haifa Hingga Bau Busuk, Dapur Dikuasai dan Masuk ke Panci

21 Mei 2026

Penyakit Hati yang Merusak Diri Menurut Al Qur’an dan Hadits

21 Mei 2026

Direktur Pusat Islam San Diego Mengutuk Serangan Islamophobia di Masjid San Diego

20 Mei 2026

Warga AS Menanggung Biaya Bahan Bakar Tambahan Lebih dari  40 Miliar Dolar Setelah Sejak Ikut Israel Perang Menyerang Iran

19 Mei 2026

Berkontribusi Besar Mencetak SDM Unggul, PTS Harus Setara dengan Kampus Negeri

19 Mei 2026

Luwesnya Chintya Dian Astuti, Wakil Ketua Kadin Pelestarian Hutan & Sungai Konsisten Jaga Lingkungan

18 Mei 2026

Jemaah Lansia dan Risiko Tinggi Akan Ikut Skema Murur, Kurangi Kepadatan di Muzdalifah

17 Mei 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video