KAMU KUAT – Jakarta
Setiap tanggal 1 Mei dunia memperingati May Day atau Hari Buruh Internasional. Mungkin bagi sebagian remaja, hari ini hanya sekadar tanggal merah di kalender waktu untuk beristirahat dari rutinitas sekolah atau menikmati liburan singkat.
Namun, di balik tanggal itu, tersimpan sejarah panjang perjuangan para pekerja yang dulu harus berkorban demi hak-hak yang kini dianggap biasa : jam kerja manusiawi, upah yang layak, dan perlakuan adil di tempat kerja.
May Day bukan cuma milik para buruh, tetapi juga momentum bagi generasi muda seperti kita untuk belajar nilai-nilai perjuangan, keadilan, dan empati. Sebab, di masa depan, kitalah yang akan mengisi dunia kerja dan mewarisi tanggung jawab untuk menjaganya tetap adil dan manusiawi.
Nah, seperti apa para anak muda memahami apa yang dimaksud dengan sebutan buruh atau karyawan, dinamika serta perannya dalam kehidupan? Pendapat para mahasiswa sahabat kanal remaja KAMU KUAT! Avesiar.com berikut menarik untuk dicermati.
Banyu Bening Luhpermataku, mahasiswa semester 4, Universitas Indonesia

Banyu membagikan pandangannya tentang kondisi buruh Indonesia yang menurutnya masih jauh dari kata layak.
“May Day itu momen penting buat mengenang perjuangan buruh dan mengakui kontribusi besar mereka di sektor industri,” ujar Banyu.
Menurutnya, buruh selama ini memegang peranan vital dalam roda ekonomi nasional, tapi kenyataan di lapangan belum selalu menunjukkan keadilan. Banyu menilai bahwa kondisi pekerja di Indonesia masih belum ideal.
“Banyak buruh yang menerima upah tidak layak dan jam kerja yang sangat panjang. Apalagi mereka yang bekerja di sektor informal dan pabrik, sering kali tidak mendapatkan jaminan sosial,” katanya.
Ia juga menyoroti bahwa para buruh belum sepenuhnya memperoleh hak-haknya. “Menurut saya, buruh masih belum mendapatkan hak yang layak, seperti upah adil, jaminan sosial menyeluruh, dan perlindungan hukum,” jelasnya.
Bahkan, menurutnya, kebijakan seperti UU Cipta Kerja justru membuat posisi buruh makin rentan, karena mempermudah perusahaan melakukan PHK tanpa kewajiban memberikan pesangon yang memadai.
Dalam pandangannya, Banyu berharap pemerintah dan perusahaan bisa menjadi pihak yang netral serta berpihak pada keadilan sosial. Namun realitanya, “Yang terlihat justru sebaliknya. Banyak kebijakan lebih mendukung investasi dan dunia usaha, sementara kesejahteraan buruh sering kali diabaikan,” ungkapnya.
Ia juga menilai bahwa perusahaan masih banyak yang terlalu fokus pada efisiensi biaya daripada kepentingan tenaga kerja.
Meski belum masuk dunia kerja, Banyu percaya bahwa remaja punya peran penting dalam mendukung perjuangan buruh. “Kita bisa mulai dari memahami isu-isu ketenagakerjaan dan menyuarakan dukungan lewat media sosial secara kritis,” katanya.
Menurutnya, kesadaran itu penting sebagai bekal menghadapi dunia kerja di masa depan. Ia juga menekankan pentingnya pelajar mengenal sejarah perjuangan buruh. “Agar kita sadar, hak-hak yang dinikmati sekarang itu hasil dari perjuangan panjang, bukan hadiah instan,” ujarnya.
Dengan begitu, para pelajar bisa belajar menghargai buruh dan memahami kontribusi besar mereka terhadap perekonomian bangsa. Terkait aksi demonstrasi yang biasa dilakukan buruh setiap 1 Mei, Banyu punya sikap terbuka. “Demo itu bentuk ekspresi demokrasi yang sah dan penting,” tegasnya.
Ia menyadari bahwa kericuhan bisa saja terjadi, tetapi itu menjadi cerminan dari ketidakpuasan buruh terhadap sistem yang tak kunjung berpihak. “Selama dilakukan dengan damai dan tertib, aksi ini penting agar suara buruh tetap terdengar dan tidak dibungkam,” tutupnya.
Shafa Nasywa Dhiya, mahasiswa semester 6, Universitas Negeri Surabaya

“Menurut saya, Hari Buruh itu hari yang sangat penting untuk para pekerja karena muncul dari perjuangan mereka buat dapetin hak-hak kerja yang lebih adil,” ujar Shafa.
Ia juga menambahkan bahwa dari sudut pandang mahasiswa, May Day mengingatkan bahwa dunia kerja tidak semudah yang dibayangkan. “Apa yang menjadi hak kami harus tetap diperjuangkan, baik itu sebagai pekerja maupun sebagai masyarakat sosial.”
Meski lowongan pekerjaan di Indonesia terlihat banyak, Shafa melihat ada sisi gelap di baliknya. “Syarat dan ketentuan jadi pekerja sekarang tuh kadang nggak masuk akal. Gaji di bawah standar, tapi tuntutannya tinggi,” jelasnya.
Ia juga menyoroti nasib pekerja kontrak dan korban PHK massal. “Rasanya nggak adil, mereka kerja sepenuh waktu tapi gajinya setengah hati.”
Apakah hak pekerja sudah layak? “Belum,” jawab Shafa tegas saat ditanya apakah buruh di Indonesia sudah mendapatkan hak yang layak.
Menurutnya, kondisi seperti gaji di bawah UMR, jam kerja tidak menentu, dan fasilitas kerja yang seadanya masih jauh dari kata layak. Ia merasa banyak pekerja yang belum mendapatkan perlindungan dan penghargaan yang semestinya.
Dalam pandangannya, pemerintah dan perusahaan seharusnya menjadi aktor utama dalam memastikan kesejahteraan buruh. “Pemerintah harusnya bikin dan jalankan aturan soal upah, jaminan sosial, dan jam kerja manusiawi,” katanya.
Namun ia juga menyayangkan realita di lapangan yang tidak seindah teori. “Masih banyak celah hukum atau sistem yang merugikan buruh, kayak kontrak kerja yang nggak pasti itu.”
Meski belum masuk ke dunia kerja, Shafa yakin remaja bisa mengambil peran dalam perjuangan buruh. “Kita bisa mulai dengan belajar isu-isu buruh, nyebarin informasi yang benar di media sosial, atau ikut seminar buruh. Intinya, kita nggak boleh cuek,” tegasnya.
Ia percaya, kesadaran itu penting karena suatu saat nanti, remaja pun akan merasakan langsung kerasnya dunia kerja.
Aksi demo buruh setiap 1 Mei menurut Shafa adalah bentuk penyampaian aspirasi yang wajar. “Itu cara mereka menyampaikan unek-unek yang nggak bisa mereka sampaikan di hari biasa,” ucapnya. Ia menilai bahwa aksi ini penting sebagai bentuk ekspresi demokratis, asalkan dilakukan dengan damai dan tertib.
Dari pernyataan Shafa, jelas bahwa Hari Buruh bukan sekadar hari bagi pekerja aktif, tetapi juga momen penting bagi generasi muda untuk mulai peduli. Mengenal sejarah perjuangan buruh dan memahami realita kerja hari ini adalah langkah awal untuk membentuk dunia kerja yang lebih adil. Sebab, seperti yang diingatkan Shafa,
“Sebagai mahasiswa kita harus melek tentang perjuangan buruh untuk mendapatkan haknya.”
Davina Adelia R, mahasiswa semester 2, Universitas Negeri Padang (UNP)

Menurut Davina, para pekerja di Indonesia sejatinya memiliki potensi luar biasa untuk memajukan industri. “Pekerja di Indonesia memiliki segudang potensi yang bisa dimaksimalkan untuk kemajuan industri,” tuturnya.
Ia juga menyoroti pentingnya moralitas dalam dunia kerja. “Minimnya edukasi moral menyebabkan banyak pekerja yang belum paham makna dari etika dalam bekerja.”
Davina menilai bahwa buruh di Indonesia belum benar-benar menikmati hak yang layak. Ia mengatakan, “Pekerjaan yang dilakukan buruh Indonesia tidak sebanding dengan apa yang sepatutnya mereka dapatkan.”
Ia menyoroti bahwa jaminan keselamatan masih kerap diabaikan, padahal itu adalah hak dasar setiap pekerja. “Buruh berhak mendapatkan jaminan keselamatan dalam bekerja terlepas dari risiko pekerjaan mereka.”
Dalam pandangannya, Davina berharap pemerintah lebih tegas dan berpihak pada buruh. “Pemerintah seharusnya membuat regulasi yang tidak menyepelekan buruh,” tegasnya.
Ia percaya bahwa setiap hasil kerja keras buruh pantas dihargai dengan bayaran dan perlindungan yang layak.
Sebagai bagian dari generasi muda, Davina yakin remaja tidak boleh apatis terhadap isu buruh. “Remaja juga seharusnya bisa turun langsung ke lapangan untuk memperjuangkan hak buruh,” ucapnya.
Ia menyarankan agar remaja aktif mengikuti seminar atau workshop yang meningkatkan kualitas buruh termasuk dari sisi moral. “Langkah kecilnya bisa dimulai dengan melek isu dan menyebarkan informasi melalui teknologi.” ujar Davina
Menurut Davina, sejarah perjuangan buruh adalah hal yang wajib dipahami oleh pelajar. Pemahaman sejarah akan membuat pelajar lebih sadar akan pentingnya memperjuangkan keadilan di dunia kerja. “Sejarah itu punya fungsi sebagai tolak ukur atau parameter keberhasilan perbaikan dari masa lalu,” jelasnya.
Terkait aksi unjuk rasa setiap 1 Mei, Davina menyatakan dukungannya. “Menurut saya, aksi demo buruh adalah hal yang sudah semestinya dilakukan,” ujarnya.
Bagi Davina, demo bukanlah sekadar keramaian di jalanan, tapi ekspresi demokratis untuk memperjuangkan hak yang semestinya didengar dan dihargai.
Suara Davina adalah contoh nyata bahwa mahasiswa muda pun bisa peduli dan bersuara untuk buruh. Dengan pemahaman yang kritis dan langkah-langkah nyata baik turun ke lapangan maupun menyuarakan melalui media digital remaja bisa jadi bagian dari perubahan. Karena memperjuangkan hak buruh bukan hanya tugas pekerja, tapi tanggung jawab sosial kita semua.
Di tengah gemuruh demonstrasi dan orasi para buruh setiap 1 Mei, ada pesan penting yang patut direnungkan oleh para remaja dunia kerja yang adil tidak lahir begitu saja, tapi diperjuangkan. Hari
Buruh bukan hanya soal masa lalu, tapi juga tentang masa depan yang sedang kita bangun bersama. Sebagai remaja, kita memang belum terjun langsung ke dunia kerja, tetapi bukan berarti kita tak bisa ambil peran. (Resty)













Discussion about this post