Avesiar – Jakarta
Kecerdasan buatan saat ini menjadi salah satu fenomena baru dalam membantu manusia dalam melakukan hal-hal tertentu dalam penggalian informasi serta kegiatan-kegiatan tertentu. Meskipun, hingga saat ini, terjadi banyak pro-kontra mengenai hasil yang diberikan oleh teknologi tersebut.
Ketika dianggap sebagai salah satu referensi pencarian data, kecerdasan buatan mungkin saja bisa menjadi alternative sumber. Seperti yang dilakukan oleh ChatGPT membantu memberikan informasi alternative kepada seorang wanita berusia 40 tahun bernama Lauren Bannon, yang merupakan warga AS, dikutip dari TRT World, Rabu (30/4/2025).
Ibu dua anak yang merasa mulai kesulitan menekuk jari-jarinya dan curiga ada yang tidak beres, telah mendatangi dokter pada Februari 2024, di mana dokter mengabaikan gejala-gejalanya. Ia mengalami kekakuan yang makin parah di pagi dan malam hari, dan mendiagnosisnya dengan artritis reumatoid. Meskipun beberapa hasil tesnya tidak mengonfirmasinya.
Setelah itu, ia merasakan sakit perut yang hebat dan penurunan berat badan yang cepat beberapa bulan kemudian. Bannon menyadari bahwa ia perlu mencari pendapat kedua di tempat lain. Saat itulah ia beralih ke ChatGPT, chatbot kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh OpenAI.
Sebagaimana dikutip dari TRT World, wanita tersebut itu kepada alat tersebut tentang apa yang mungkin menyerupai artritis reumatoid. Alat tersebut menyarankan penyakit Hashimoto, suatu kondisi autoimun yang memengaruhi tiroid, dan bahkan memberi tahu dia tes mana yang harus diminta. Jawaban itu mengubah hidupnya.
“Saya perlu mencari tahu apa yang terjadi pada saya, saya merasa sangat putus asa. Saya tidak mendapatkan jawaban yang saya butuhkan,” kata Bannon, seperti dilansir New York Post.
Ia kemudian bersikeras untuk menjalani tes pada September 2024, meskipun dokternya skeptis. Hasilnya mengonfirmasi kecurigaan AI. Tes tersebut menghasilkan USG tiroid, yang menunjukkan dua benjolan kecil. Pada bulan Oktober, dokter mengonfirmasi bahwa benjolan tersebut bersifat kanker.
“Jika saya tidak memeriksa ChatGPT, saya akan minum obat artritis reumatoid dan kanker akan menyebar dari leher ke mana-mana,” kata Bannon.
Banon mengklaim bahwa wawasan dari chatbot AI menghasilkan diagnosis yang menyelamatkan hidupnya. “Itu menyelamatkan hidup saya. Saya tidak akan pernah menemukan ini tanpa ChatGPT. Semua tes saya sempurna.”
Meskipun ia tidak menunjukkan kelelahan yang biasanya terkait dengan Hashimoto, Bannon yakin AI membantu mengungkap kondisi yang mungkin tidak akan diketahui jika tidak demikian.
Ia kemudian menjalani operasi pengangkatan tiroid dan dua kelenjar getah beningnya. Kini dalam tahap pemulihan dan terus dipantau, Bannon berharap kisahnya dapat meningkatkan kesadaran tentang bagaimana perangkat AI, bila digunakan dengan bijaksana, dapat mendukung pasien dalam mengadvokasi kesehatan mereka.
Meskipun demikian, Banon juga memperingatkan orang lain untuk tidak menggunakan AI sebagai pengganti perawatan medis. “Jika AI memberi Anda sesuatu untuk diteliti, mintalah dokter untuk menguji Anda,” katanya. “AI tidak akan membahayakan. Saya merasa beruntung masih hidup.”
Sementara itu, dikutip dari TRT World, para ahli sepakat bahwa AI memiliki peran dalam pengobatan modern, tetapi hanya jika digunakan bersama, bukan sebagai pengganti, saran medis yang berkualitas.
Dokter gawat darurat bersertifikat dan pembicara nasional tentang AI dalam pengobatan, Dr. Harvey Castro, percaya bahwa cerita seperti Bannon menunjukkan janji teknologi, tetapi ia mendesak pasien untuk berhati-hati.
“AI bukanlah pengganti keahlian medis manusia. Alat-alat ini dapat membantu, memberi peringatan, dan bahkan memberi kenyamanan, tetapi tidak dapat mendiagnosis, memeriksa, atau mengobati,” katanya kepada Fox News Digital. (ard)













Discussion about this post