KAMU KUAT – Jakarta
Media sosial telah menjadi panggung utama bagi banyak remaja untuk mengekspresikan diri di zaman digital ini. Namun, tidak sedikit yang memanfaatkannya untuk memamerkan gaya hidup mewah, barang-barang mahal, atau pencapaian-pencapaian luar biasa yang belum tentu semuanya nyata.
Fenomena ini dikenal dengan istilah flexing. Meski sekilas tampak keren dan penuh percaya diri, flexing menyimpan dampak psikologis dan sosial yang tidak bisa dianggap remeh. Apakah kebiasaan ini mencerminkan kepercayaan diri, atau justru sebaliknya?
Dikutip dari halodoc.com, flexing merupakan istilah slang yang menggambarkan perilaku kemewahan, prestasi atau hubungan yang bahagia di media sosial. Tujuannya untuk mendapatkan pujian, pengakuan atau membuat orang lain iri dengan pencapaian kita.
Lalu, bagaimana seharusnya remaja menyikapi budaya pamer yang kian marak ini? Yuk kita simak komentar dari sahabat kanal remaja KAMU KUAT! Avesiar.com.
Ratu Ajeng Syaharani, mahasiswi semester 9, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Ratu pernah mengalami langsung melihat fenomena ini. “Aku punya teman yang suka flexing tentang pergaulannya. Beberapa temannya pakai mobil, terus dia jadi sering banget flexing soal mobil, hampir setiap hari,” cerita Ratu.
Menurut Ratu, alasan utamanya sederhana. “Karena ingin memberi informasi tentang kehidupannya yang mungkin menurut dia menarik,” katanya.
Tapi meski niatnya mungkin baik, sayangnya tidak semua orang menangkapnya dengan cara yang sama. Ratu menilai bahwa flexing justru cenderung berdampak negatif. “Karena tidak semua orang mengerti dan memahami keinginan dia memberitahu tentang apa yang dia flexingin,” jelasnya.
Flexing juga sering disamakan dengan sharing kebahagiaan. Tapi menurut Ratu, keduanya beda tipis tapi jelas. “Sharing itu lebih ke ingin memberi informasi tentang hal yang ingin dia bagikan. Tapi kalau flexing, itu berlebihan, yang jadinya malah bikin orang di sekitarnya nggak nyaman,” ujar Ratu.
Pertanyaannya, apakah flexing bisa jadi motivasi? Atau cuma sekadar pamer? Ratu menjawab dengan bijak, “Kalau dipikir pakai pikiran yang baik, flexing bisa jadi motivasi, supaya kita semangat mencapai sesuatu. Tapi kalau dipikir dengan pikiran yang kurang baik, ya kesannya jadi pamer, karena caranya berlebihan.”
Walau begitu, Ratu nggak menutup kemungkinan bahwa ada flexing yang wajar. “Mungkin flexing soal pekerjaan masih oke, karena bisa memotivasi orang-orang di sekitarnya,” katanya.
Bagaimana dengan dampaknya terhadap kesehatan mental remaja? Ratu melihat dua sisi yang berbeda. “Positifnya, bisa memicu semangat dalam diri untuk meraih pencapaian yang lebih tinggi. Tapi negatifnya, bisa bikin kita jadi insecure dan merasa minder,” ungkapnya.
Ahmad Firdaus, mahasiswa semester 4, Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Membagikan pengalamannya soal fenomena ini. “Ya, saya pernah melihat teman flexing, biasanya di media sosial. Mereka sering memamerkan barang bermerek, liburan mewah, atau pencapaian pribadi. Seolah-olah ingin menunjukkan hidupnya lebih ‘wah’ dibanding orang lain,” ujar Firdaus.
Menurutnya, flexing sering dilakukan karena ada dorongan dari dalam diri yang butuh pengakuan. “Mereka seperti itu karena ingin mendapat validasi dari orang lain. Bisa jadi juga karena mereka kurang percaya diri dan berusaha menutupi itu dengan pamer,” jelasnya.
Namun, Firdaus tidak sepenuhnya melihat flexing sebagai hal negatif. “Flexing bisa berdampak positif kalau dibungkus dengan motivasi dan tidak merendahkan orang lain. Bisa jadi pemicu buat upgrade diri dan jadi inspirasi,” tambahnya.
Meski begitu, penting untuk membedakan antara flexing dan berbagi kebahagiaan. “Kalau sharing kebahagiaan itu nggak berlebihan dan tujuannya mengabadikan momen. Tapi flexing cenderung nunjukin status atau pencapaian untuk dapat perhatian. Niat di balik postingan itu yang membedakan,” katanya.
Firdaus juga menilai bahwa flexing bisa bersifat netral, tergantung bagaimana disampaikan. “Kalau disampaikan dengan rendah hati dan niatnya menginspirasi, bisa jadi motivasi. Tapi kalau berlebihan, jatuhnya pamer,” ujarnya.
Menurut Firdaus ada juga flexing yang dianggap wajar, “Ada, contohnya membagikan momen kelulusan atau kenaikan pangkat. Itu wajar dan bisa jadi semangat buat orang lain,” katanya.
Namun, ia juga mengingatkan tentang bahaya flexing terhadap mental remaja. “Flexing bisa menimbulkan rasa tidak puas pada diri sendiri, minder, dan terus membandingkan hidup dengan orang lain. Ujung-ujungnya bisa stres, cemas, bahkan depresi,” tutupnya.
Rizky, siswa kelas 12, SMA Boash, Bogor

Remaja yang biasa di panggil Kiky mengaku sering melihat fenomena ini. “Iya, aku pernah melihat teman dan orang lain flexing. Hampir setiap hari mereka upload barang-barang mahal, makan di restoran fancy, atau liburan mewah. Dari cara dia memamerkan, kelihatan banget kalau tujuannya bukan cuma berbagi,” jelasnya.
Menurut Kiky, ada alasan kuat kenapa orang melakukan flexing. “Mereka ingin diakui atau terlihat berhasil. Bisa juga karena ingin mendapat pujian dan validasi, atau menutupi rasa kurang percaya diri,” tambahnya.
Tapi flexing ini nggak selalu membawa hal baik. Justru, Kiky melihat sisi negatifnya lebih dominan. “Banyak orang jadi merasa rendah diri, iri, dan terus membandingkan hidupnya. Walau ada juga yang menjadikannya motivasi, tapi dampak buruknya ke mental lebih besar,” katanya.
Kiky menjelaskan bahwa perbedaan ada di niat dan cara penyampaian. “Kalau sharing itu buat berbagi momen senang tanpa pamer. Sementara flexing lebih ke ingin membuat orang kagum atau iri. Kadang isi postingannya sama, tapi vibe-nya beda,” tuturnya.
Soal apakah flexing bisa jadi motivasi atau sekadar pamer, Rizky menjawab dengan bijak. “Tergantung konteks dan penyampaiannya. Kalau positif dan nggak merendahkan orang lain, bisa jadi inspirasi. Tapi kalau cuma ingin menonjolkan diri, ya jatuhnya pamer,” jelasnya.
Menurut Kiky, nggak semua flexing itu negatif. Ada juga yang wajar dan nggak ganggu. “Contohnya kayak pas seseorang lulus kuliah, buka usaha, atau capai sesuatu. Selama nggak sombong, itu malah bisa jadi semangat buat orang lain,” ucapnya.
Tapi tetap saja, flexing punya pengaruh besar terhadap mental remaja. “Banyak yang akhirnya merasa tidak cukup baik, minder, bahkan stres. Karena mereka bandingkan hidupnya dengan yang diposting di media sosial, padahal itu cuma sebagian kecil dari kenyataan,” tutup Rizky.
Well, Guys! Flexing mungkin terlihat keren sesaat, tapi kebahagiaan sejati tidak datang dari pengakuan orang lain. Bagi siapapun, penting bagi kita untuk tetap rendah hati dan tidak terjebak dalam pencitraan semu. Jadilah dirimu sendiri, bukan versi yang ingin dilihat orang. (Resty)













Discussion about this post