• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT!
    • Kanal Kamu Kuat
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Healtech Hidup Sehat

Gaya Hidup Flexing, dr. Djoni Ismoyo, Sp.Kj: Itu Penyakit dari Low Self-Esteem

by Ave Rosa
13 Februari 2023 | 00:59 WIB
in Hidup Sehat
Reading Time: 3 mins read
A A
Gaya Hidup Flexing, dr. Djoni Ismoyo, Sp.Kj: Itu Penyakit dari Low Self-Esteem

dr. Djoni Ismoyo, Sp.Kj, ahli kesehatan jiwa di Rumah Sakit Umum Daerah (RUSD) Cengkareng, Jakarta Barat dan Madani Bio-psiko Sosial Spiritual. Foto: dok. Avesiar.com

Avesiar – Jakarta

Fenomena gaya hidup dengan menonjolkan kelebihan seseorang melalui barang-barang yang digunakannya, atau seringnya menampilkan diri sedang berada di tempat-tempat berkelas, yang bahkan dijadikan komoditas status update di media sosial, sering kita lihat setiap saat.

Sekilas, bagi masyarakat umum, hal ini mampu membius orang lain yang melihatnya untuk menciptakan persepsi soal kemapanan hidup dan sering dikenal dengan istilah flexing atau flexing culture.

Dalam kamus Merriem Webster, kata flex atau flexing diartikan “to make an ostentatious display of something : show off” atau “untuk membuat tampilan sesuatu yang mencolok atau memamerkan”.

Mengenai fenomena flexing yang terjadi di masyarakat saat ini, ahli kesehatan jiwa di Rumah Sakit Umum Daerah (RUSD) Cengkareng, Jakarta Barat, yang juga tenaga ahli di Madani Bio-psiko Sosial Spiritual, dr. Djoni Ismoyo, Sp.Kj, menyebut bahwa hal tersebut masuk pada gangguan kejiwaan.

“Orang-orang yang melakukan Flexing itu adalah orang-orang yang menderita atau memiliki low self-esteem atau kepercayaan diri yang rendah. Ya penyakit dari rendahnya kepercayaan diri. Karena mereka tidak percaya diri dengan dirinya apa adanya. Karena rendahnya rasa percaya diri tersebut, dia merasa percaya diri dengan mengandalkan bantuan hal-hal yang menunjukkan materi atau kesan mewah saat berinteraksi dengan masyarakat,” ungkapnya kepada Avesiar.com.

woman in maroon long sleeved top holding smartphone with shopping bags at daytime
Ilustrasi. Foto: Pexels/Andrea Piacquadio.

Menunjukkan sisi kemapanan sesekali, lanjut dokter Djoni, adalah hal yang wajar. Namun, bagi pelaku flexing, mereka harus terus melakukannya agar tetap merasa percaya diri. Menurut dokter senior 66 tahun itu, orang-orang yang ketergantungan pada budaya flexing atau flex culture itu patut dikasihani. Karena mereka merasa tidak ‘pede’ dengan diri mereka apa adanya.

Mereka, imbuhnya, harus berjuang untuk bisa percaya diri dengan cara demikian. Yang mengkhawatirkan adalah, ketika mereka setiap saat harus memikirkan apa lagi yang bisa ditampilkan.

Bacaan Terkait :

Pemerintah Didesak Agar Menindak Tegas Fenomena serta Gerakan LGBT Mencontoh Rusia

Flexing di Dunia Nyata dan Media Sosial Baik Nggak Sih?

Flexing Masuk Gangguan Kejiwaan, Menilik Kebiasaan Pamer Barang Mewah Tersangka Kasus Penganiayaan

Load More

“Belum lagi jika hal ini menjangkiti orang-orang yang sebenarnya dari sisi strata ekonomi, pas-pasan atau kurang mampu. Akhirnya banyak orang memaksakan diri untuk punya sesuatu sebagai modal flexing-nya dengan berbagai cara. Nah, ini yang kita miris. Pasien saya, banyak yang datang karena terlibat pinjol (pinjaman online, red). Tagihannya bisa sampai 100 jutaan dan bikin stres. Ya karena hal-hal semacam ini,” terangnya.

Ahli kejiwaan senior itu juga menjelaskan bahwa budaya flexing tidak hanya menjangkiti orang dewasa, namun juga anak-anak. “Di usia anak sekolah kelas 5 dan 6 juga ada. Mereka sudah terbiasa dengan berusaha mempraktikan hal-hal semacam itu (flexing, red). Bisa dibayangkan anak seusia tersebut sudah memiliki low self-esteem,” beber Djoni.

Menurut dia, prilaku flexing yang terus menerus dilakukan dapat berdampak pada gangguan kejiwan lanjutan seperti depresi. Hal itu, lanjutnya, karena orang tersebut harus memikirikan terus bagaimana agar tetap terlihat glamor dan menarik di depan orang lain secara materi.

“Bisa depresi. Karena yang dipikirkan ya supaya tetap bisa terlihat menarik atau dihargai dengan tampilan materi. Berbahaya juga jika orang yang secara sosial ekonomi sebenarnya pas-pasan. Bisa menggunakan cara pintas untuk bisa mendapatkan materi yang dibutuhkan untuk budaya flexing yang dia lakukan,” ucapnya.

Menurut dokter Djoni, langkah terbaik untuk bisa hidup dengan percaya diri yang baik adalah dengan menerima keadaan diri apa adanya dan lebih menunjukkan pada kualitas pribadi dan prestasi. Sehingga lebih nyaman dalam menempatkan diri tanpa harus bersandar bahwa kemampuan materi adalah yang menarik dilihat orang lain.

“Ya bersyukur saja dengan apa yang kita miliki, tanpa harus memaksakan. Tentu dengan cara seperti ini rasa percaya diri akan dibangun lebih sehat dan tidak menyebabkan kita tersiksa di kemudian hari,” pungkasnya. (ros)

Tags: dr Djoni IsmoyoFlexFlex CultureFlexingFlexing CultureKepercayaan Diri yang RendahKurang Percaya DiriLow Self-esteemMaterialistisPenyakit Kejiwaan
ShareTweetSendShare
Previous Post

Pemerintah Sudah Siap Jika UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PRT) Disahkan

Next Post

Tok! Ferdy Sambo Divonis Hukuman Mati Atas Pembunuhan Berencana

Mungkin Anda Juga Suka :

Posisi Duduk Memengaruhi Kesehatan, Menurut Ahli Fisioterapi

Posisi Duduk Memengaruhi Kesehatan, Menurut Ahli Fisioterapi

17 Juli 2026

...

Adab-adab dan Sunnah Minum yang Baik Bagi Kesehatan Menurut Islam

Adab-adab dan Sunnah Minum yang Baik Bagi Kesehatan Menurut Islam

16 Juni 2026

...

Proses Penuaan Mempengaruhi Kerja Pencernaan, Cara Mengimbanginya Agar Tetap Optimal

Proses Penuaan Mempengaruhi Kerja Pencernaan, Cara Mengimbanginya Agar Tetap Optimal

8 Juni 2026

...

Menua dengan Baik, Ada 7 Tanda Menurut Para Ahli Geriatri

Menua dengan Baik, Ada 7 Tanda Menurut Para Ahli Geriatri

7 Juni 2026

...

Kalori yang Terbakar Jika Berjalan Kaki Selama 30 Menit

Kalori yang Terbakar Jika Berjalan Kaki Selama 30 Menit

27 Mei 2026

...

Load More
Next Post
Tok! Ferdy Sambo Divonis Hukuman Mati Atas Pembunuhan Berencana

Tok! Ferdy Sambo Divonis Hukuman Mati Atas Pembunuhan Berencana

Menyusul, Hakim Jatuhkan Vonis ke Putri Candrawathi 20 Tahun

Menyusul, Hakim Jatuhkan Vonis ke Putri Candrawathi 20 Tahun

Discussion about this post

TERKINI

Kejamnya Fitnah, Hukumnya Menurut Islam, dan Mengetahui Karakter Pembuat Fitnah

27 Juli 2026

Mahkamah Konstitusi Putus Uji Materi Biaya Pendidikan yang Diajukan Empat Mahasiswa UT

26 Juli 2026

Ijtima Ulama Indonesia Tegaskan Dukungan Mengawal Pembangunan Nasional di Bawah Kepemimpinan Presiden Prabowo

25 Juli 2026

Mencengangkan, Taipan SK Hynix Korea Selatan Harus Membayar Uang Cerai ke Mantan Istri Sebesar 644 Juta Dolar

24 Juli 2026

Hana Nabila Bustami, Kejar Cita-cita ke Inggris di Jurusan Mechanical Engineering with Aeronautics

24 Juli 2026

Agusnadi “The Social Trainer”, Eks Supir Angkot yang Kini Chief Learning & Communications Strategist

24 Juli 2026

Ingin Dongkrak Wisatawan Usai Dihantam Iran, Dubai  Tawarkan Hadiah Bagi Warganya yang Membantu

23 Juli 2026

Diwakili 87 Organisasi di Bawah MUI, KUII ke-8 Pada 26-28 Juli Bahas Hukuman Khusus Bagi Koruptor

23 Juli 2026

Dua Pangkalan AS di Yordania Rusak Dihantam Rudal dan Drone Iran, Tentara AS Tewas dan Luka-luka

22 Juli 2026

Indonesian Education Digitalization Accelerated, President Prabowo Reaffirms Government Commitment

21 Juli 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT!
    • Kanal Kamu Kuat
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video