Avesiar – Bekasi
Camilan sudah menjadi bagian dari kebutuhan makanan sehari-hari setiap orang. Hanya saja, jenis camilan yang disukai setiap orang pasti berbeda-beda.
Ada yang menyukai jenis cake, kue basah, kue kering, gorengan, coklat, dan banyak lagi jenis yang bisa ditemukan di pasar tradisional, toko offline hingga online.
Tidak hanya soal jenis yang kemudian menentukan camilan dipiih setiap orang saat membeli. Soal rasa dan tampilan, juga sangat penting bagi sebagian orang. Hal ini tentu bergantung pada selera dan daya beli saat ingin menikmati camilan.
Terutama soal rasa. Tidak peduli harga murah atau mahal, jika rasanya tidak enak, maka orang tidak akan mau membelinya. Ini yang membuat pasar camilan sangat kompetitif saat ini. Mengingat selera orang jaman sekarang pun juga semakin peka rasa.
Bagi Ari Eka Putri, seorang mantan marketing communication dan public relations hotel, memproduksi camilan menjadi hal yang menjanjikan sebagai tambahan penghasilan ekonomi keluarganya, terutama di tengah pandemi saat ini.
Agar tidak disamakan dengan produk sejenis di pasaran baik soal rasa dan tampilan, Ari memberi nama produk camilannya tersebut Nailethala Recipe. Ibu dari 3 anak ini pun serius dengan kualitas produk camilan berupa aneka cookies dan brownies.

Menurut Ari, dia memulai usaha belum terlalu lama yaitu setahun yang lalu, sekitar April 2020. Kala itu, Ari usai mengajukan resign dari pekerjaannya di kantor saat awal pandemi, sebelum PSBB berlaku.
“Saya betul-betul lelah dan jenuh berkarir kantoran lebih dari 20 tahun. Pergi pagi dan pulang seringnya sudah malam. Saya ingin mengganti waktu saya yang hilang bersama keluarga terutama anak-anak yang sudah beranjak besar,” ujarnya kepada avesiar.com melalui wawancara online.
Awalnya, lanjut Ari, saat Ramadhan tahun lalu dia mencoba buat kue kering favorit berbekal resep warisan orang tua untuk persiapan Lebaran di rumah. Pikirnya, dari pada membeli, lebih baik mencoba buat sendiri.

“Tidak ada kesibukan juga di rumah karena waktu itu sudah diterapkan PSBB. Kemudian saya iseng posting di sosmed hasil kue buatan saya. Padahal awalnya bukan bermaksud jual. Nggak disangka ada beberapa teman dan saudara yang pesan. Ya sudah, saya buatkan sekalian. Alhamdulillah mereka suka dan cocok dengan rasanya. Kemudian berkembang dari mulut ke mulut dan juga karena di-posting lewat sosmed pastinya,” beber
Kelahiran April 1976 ini kemudian serius dengan membuat akun instagram atau IG @nailethala.recipe bagi produk cookies-nya tersebut. Tujuannya tentu agar orang lebih percaya dan mudah dikenal. Apalagi, usaha ini diakuinya menjadi tumpuan tambahan penghasilan keluarganya yang terdampak karena pandemi Covid-19.

“Pandemi sangat berdampak juga pada pendapatan keluarga kami. Karena saya sudah tidak kerja, otomatis pendapatan hanya satu pintu dari suami saya. Suami yang bekerja di bidang hospitality juga terdampak kena pemotongan gaji saat itu. Akhirnya saya memutuskan untuk mengembangkan bisnis kue saya dan membuat brand Nailethala Recipe ini. Saya mencoba terus berinovasi dari cita rasa kue sampai ke kemasannya. Pemasaran makin saya gencarkan melalui social media, “ terang mantan corporate public relations manager di PP Hospitality itu.
Untuk jenis kue kering, menurut Ari, bentuk dan rasanya mungkin kurang lebih sama dengan yang lain. Namun, dia mengakui sangat teguh mengutamakan kualitas dan penampilan produk. Baik kue kering itu sendiri, hingga kemasan akhirnya.

“Background kerja sebelumnya di bidang perhotelan, apalagi lama berprofesi sebagai marketing communications dan public relations sangat berpengaruh pada produk-produk Nailethala Recipe. Hal ini justru disampaikan oleh para pelanggan saya yang sering bilang, “Beda ya kalau orang hotel yang buat kue. Rasanya beda, bungkusnya saja rapi”. Begitu kata mereka,” terangnya.
Saat ini, tambah Ari, dia masih fokus di kue kering dan brownies. Kue kering yang diproduksinya cukup banyak dari segi varian. Ada Nastar Keju, Kastengel, Putri Salju Keju Mede, Red Velvet, Sagu Keju, Almond Chocochips dan masih banyak lagi.

“Untuk Brownies, saya lebih banyak buat yang tipe fudgy berdasarkan request pelanggan. Soal harga ya relatif. Harga Cookies mulai dari Rp100.000 per toples. Harga Fudgy Brownies mulai dari Rp135.000 per boks. Banyak yang tidak masalah dengan harga karena mereka sudah tahu rasa dan kualitasnya. Tapi ada juga calon pelanggan yang bilang mahal,” jelas wanita keturunan Sumatera Barat ini.
Mengenai harga yang relatif tersebut, Ari mengatakan bahwap produk dari Nailethala Recipe semuanya menggunakan bahan kualitas premium. Sehingga jadi harga otomatis menyesuaikan. Dan Khusus kue kering, lanjutnya, pembuatannya membutuhkan ketelatenan dan waktu yang cukup lama. Jadi memang bisa dikatakan harga sesuai dengan tingkat kesulitan dalam membuatnya.
Setelah menjalani bisnis kue selama setahun, Ari kemudian mantap untuk serius pada ‘pekerjaan barunya’ itu. Dia mengakui saat ini punya ‘karir’ sendiri di rumah.
“Sekaligus punya waktu lebih banyak dengan anak-anak. Jujur, dari membuat kue ini saya mendapatkan tambahan income dan Alhamdulillah bisa ikut menopang ekonomi keluarga, khususnya saat situasi pandemi yang masih memprihatinkan ini,” katanya bersemangat.
Harus diakui juga, tambah Ari, bahwa omset setiap usaha bisa naik atau turun. Khususnya kue kering yang cenderung banyak diorder pada momen Hari Raya. Namun, ternyata kue kering ini masih lumayan diminati selain Hari Raya.
Menurut Ari, selalu saja ada pesanan setiap bulan. Bagi dia, hal ini dipercaya karena saat pandemic orang tua banyak yang terkadang butuh camilan karena anak-anak sekolah di rumah dan merekapun bekerja dari rumah (WFH, red).
“Nah, khusus menjelang Hari Raya, saya selalu menyiapkan stok bahan dan lainnya dengan jumlah yang lebih banyak dan sejak jau-jauh hari. Saya juga membuat paket hampers (parcel, red) yang cantik dengan harga terjangkau. Idul Fitri lalu Alhamdulillah pesanan sangat meningkat. Bahkan dgn berat hati cukup banyak yang terpaksa saya tolak karena saya mengukur kemampuan dan waktu saya,” ujar Ari.
Saat ini, Ari mengatakan masih fokus jualan melalui social media dan belum mengarah ke online karena produksi kue masih dengan sistem made by order. Namun, lanjutnya, tidak menutup kemungkinan ke depannya Ari merambah pasar online.
Disinggung mengenai pendapatannya dari menjual kue kering dan brownies buatanya tersebut, Ari mengatakan bahwa jumlahnya sangat lumayan untuk membeli membantu kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan pribadinya.
Dia juga sangat gembira karena suami dan anak-anaknya sangat mendukung bisnisnya itu. Mereka, tambah Ari, juga sering bantu terlebih saat peak season (ramai, red). Suami dan anak-anaknya juga ikut membantu promosi dan lumayan banyak menghasilkan penjualan kue kering.
“Saya bercita-cita mengembangkan brand produk kami Nailethala Recipe dan menjangkau pasar yang lebih luas lagi. Saya juga ingin membuat resep-resep baru yang diminati pelanggan,” ucapnya optimis. (Ave Rosa A. Djalil)













Discussion about this post