Avesiar – Jakarta
Mempelajari tentang sirah Nabawiyah adalah hal yang sangat bermanfaat dan juga menarik bagi seorang Muslim.
Menurut Syekh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy dalam bukunya Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah SAW, dilansir laman Majelis Ulama Indonesia, Jum’at (19/8/2022), dijelaskan bahwa tujuan mengkaji Sirah Nabawiyah adalah agar setiap Muslim memperoleh gambaran tentang hakikat Islam secara paripurna, yang tercermin dalam kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Sesudahnya, dipahami secara konsepsional sebagai prinsip, kaidah, dan hukum sehingga, sirah Nabawiyah menjadi salah satu upaya aplikatif agar memperjelas hakikat Islam secara utuh dalam keteladanan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Setidaknya ada lima tujuan mengenai pentingnya sirah Nabawiyah bagi umat Islam yaitu sebagai berikut:
Pertama, dalam mempelajari sirah Nabawiyah dapat memahami kepribadian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melalui celah kehidupan dan kondisi yang pernah dihadapinya.
Hal ini untuk menegaskan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bukan hanya seorang yang terkenal genial di antara kaumnya.
Malainkan sebelum itu, beliau adalah seorang Rasul yang didukung Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan wahyu dan taufik dari-Nya.
Kedua, agar manusia mendapatkan gambaran al-Matsal al-A’la (contoh paripurna) menyangkut seluruh aspek kehidupan yang utama untuk dijadikan undang-undang dan pedoman kehidupan.
Tidak diragukan lagi, betapapun manusia mencari matsal a’la (tipe ideal) mengenai salah satu aspek kehidupan, manusia pasti akan mendapatkannya di dalam kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam secara jelas dan paripurna.
Atas hal ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai qudwah bagi seluruh manusia. Hal ini sebagaimana Firman-Nya dalam QS Al Ahzab ayat 21:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Ketiga, dalam mengkaji sirah Nabawiyah, manusia mendapatkan sesuatu yang dapat membantunya untuk memahami kitab Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan semangat tujuannya.
Hal ini karena banyak ayat Al Qur’an yang baru bisa ditafsirkan dan dijelaskan maksudnya melalui peristiwa-peristiwa yang pernah dihadapi dan disikapi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Keempat, melalui kajian sirah Nabawiyah, seorang Muslim dapat mengumpulkan sekian banyak tsafaqah dan pengetahuan Islam yang benar.
Baik yang menyangkut aqidah, hukum maupun akhlak. Hal ini dikarenakan bahwa kehidupan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak diragukan lagi mengenai gambaran yang kongkrit dari sejumlah prinsip dan hukum Islam.
Kelima, diharapkan para pembina dan dai Islam memiliki contoh hidup menyangkut cara-cara pembinaan dan dakwah.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga adalah seorang dai, pemberi nasihat dan pembina yang baik yang tidak segan-segan mencari pembinaan dan pendidikan terbaik selama beberapa periode.
Di antara hal terpenting yang menjadikan sirah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam cukup memenuhi sasaran ini ialah bahwa seluruh kehidupannya mencakup seluruh aspek sosial dan kemanusiaan yang ada pada manusia.
Baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat yang aktif. Kehidupan Rasulullah SAW juga memberikan contoh-contoh yang baik sebagai pemuda Islam yang lurus perilakunya.
Selain itu, Rasul juga menjadi orang yang terpercaya di antara kaum dan kerabatnya, maupun sebagai dai kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan hikmah dan nasihat yang baik, yang mengarahkan segala segala kemampuan untuk menyampaikan risalahnya.
Juga sebagai kepala negara yang mengatur segala urusan dengan cerdas dan bijaksana. Tidak hanya itu, Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam juga dikenal sebagai sosok suami teladan dan seorang ayah yang penuh kasih sayang.
Sebagai panglima perang yang mahir, sebagai negarawan yang pandai dan jujur, dan sebagai Muslim secara kesuluruhan (kaffah) yang dapat melakukan secara imbang antara kewajiban beribadah kepada Allah dan bergaul dengan keluarga dan sahabatnya dengan baik.
Oleh karenanya, sirah Nabawiyah tidak lain hanya menampakkan aspek kemanusiaan ini secara keseluruhan yang tercermin dalam suri teladan yang paling sempurna dan terbaik. (adm)













Discussion about this post