• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Nasional & Opini Opini

Keputusan Berbasis AI: Mempertanyakan Otonomi Manusia dalam Era Teknologi Maju

by Avesiar
12 Mei 2023 | 06:00 WIB
in Opini
Reading Time: 4 mins read
A A
Keputusan Berbasis AI: Mempertanyakan Otonomi Manusia dalam Era Teknologi Maju

Ilustrasi & Kolase: Avesiar.com

Avesiar – Opini

Oleh: Syahiduz Zaman, Dosen Teknik Informatika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Keputusan Berbasis AI: Mempertanyakan Otonomi Manusia dalam Era Teknologi Maju

Pertanyaan filosofis yang diajukan menyoroti perdebatan mengenai hubungan antara manusia dan teknologi, terutama mengenai otonomi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) adalah “Jika komputer menjadi andal sedemikian rupa sehingga kita dengan rela menyerahkan pertimbangan dan keputusan kita pada komputer, apakah ini berarti otonomi kita berkurang?”

Berikut adalah tinjauan mendalam tentang masalah ini, yang melibatkan beberapa sudut pandang, data pendukung, pendapat ahli, dan teori filosofis.

Kecerdasan buatan (AI) telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, mencapai prestasi yang sebelumnya dianggap mustahil. Sistem AI seperti DeepMind’s AlphaGo dan OpenAI’s GPT-3 telah membuktikan kemampuan mereka untuk mengalahkan manusia dalam berbagai tugas dan disiplin, mulai dari permainan Go hingga pemecahan masalah kompleks. Hal ini telah menyebabkan perdebatan tentang implikasi moral, etis, dan filosofis dari peningkatan kecerdasan buatan.

Sebagai titik awal, kita bisa merujuk pada teori-teori filsafat yang berbicara tentang otonomi, seperti Immanuel Kant. Kant berpendapat bahwa otonomi adalah kemampuan individu untuk membuat keputusan berdasarkan akal dan prinsip moral, tanpa dipengaruhi oleh keinginan atau paksaan eksternal.

Menurut pandangan ini, penyerahan keputusan kita kepada komputer yang andal dapat mengurangi otonomi kita, karena kita tidak lagi menggunakan akal dan prinsip moral kita sendiri untuk membuat keputusan.

Bacaan Terkait :

Studi Menyebutkan, Sampah AI Berupa 20 Persen Video Berkualitas Rendah Marak di Youtube dengan Miliaran Penayangan

Betapa Berantakannya Penelitian Kecerdasan Buatan, Akademisi Menyebut Punya Masalah Kecerobohan

Alasan AI Tidak Bisa Dijadikan Rujukan dalam Persoalan Hukum Agama atau Fatwa

Peran AI di Kalangan Anak Muda, Rujukan Alternatif atau Cari Gampang

Anthropic, Alat Baru yang Menunjukkan Bagaimana AI ‘Agentic’ Akan Mengambil Alih Aplikasi Ponsel pada 2025

Penggemar iPhone Bakal Kedatangan Apple Intelligence, Cek Fitur-fiturnya

Temuan Melaporkan AI Mampu Mempercepat Peningkatan PHK dan Emisi Karbon

Load More

Namun, ada argumen yang menyatakan bahwa AI dapat menjadi alat yang membantu kita dalam menjalankan otonomi kita. Ahli filosofi Daniel Dennett mengatakan bahwa alat-alat seperti AI dapat menjadi perpanjangan kemampuan kognitif manusia, yang memungkinkan kita untuk membuat keputusan yang lebih baik dan lebih efisien. Dalam hal ini, AI bukanlah ancaman bagi otonomi kita, tetapi sebaliknya, menjadi pendukung otonomi kita.

Pandangan yang lebih moderat muncul dari teori-teori seperti “Extended Mind” yang dikemukakan oleh Andy Clark dan David Chalmers. Mereka berpendapat bahwa lingkungan kita, termasuk teknologi seperti AI, adalah bagian dari proses kognitif kita. Dalam pandangan ini, penyerahan keputusan kita kepada AI bukanlah pengurangan otonomi, tetapi hanya perubahan cara kita memanfaatkan informasi dan sumber daya yang ada.

Untuk menjawab pertanyaan ini secara menyeluruh, kita perlu mempertimbangkan data dan bukti empiris yang ada. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa AI dapat meningkatkan kemampuan manusia untuk membuat keputusan, terutama dalam situasi di mana informasi yang tersedia sangat kompleks atau jumlahnya sangat besar.

Misalnya, AI telah digunakan dalam bidang kedokteran untuk membantu dokter mendiagnosis penyakit dan merancang perawatan yang lebih efektif.

Namun, ada juga risiko yang melekat dalam penyerahan keputusan kepada AI. Salah satu contohnya adalah risiko bias algoritma, di mana AI menggabungkan dan memperkuat prasangka dan stereotip yang ada dalam data yang digunakan untuk melatih mereka.

Penelitian yang dilakukan oleh ProPublica pada tahun 2016 menemukan bahwa sistem kecerdasan buatan yang digunakan untuk memprediksi risiko residivisme kriminal memiliki bias rasial yang signifikan, yang mengarah pada hasil yang tidak adil bagi kelompok-kelompok tertentu.

Oleh karena itu, sangat penting untuk memastikan bahwa AI yang kita gunakan untuk membuat keputusan adil, akurat, dan bebas dari bias.

Selain itu, perlu diperhatikan bahwa otonomi manusia tidak hanya terkait dengan proses pengambilan keputusan, tetapi juga dengan pertanggungjawaban atas tindakan yang diambil. Dalam konteks penyerahan keputusan kepada AI, pertanyaan tentang siapa yang harus bertanggung jawab atas konsekuensi dari keputusan tersebut menjadi semakin relevan.

Sebagai contoh, dalam kasus kecelakaan yang melibatkan kendaraan otonom, hukum dan etika perlu menentukan apakah tanggung jawab jatuh pada pengemudi, produsen, atau sistem AI itu sendiri.

Pendapat ahli juga penting dalam membahas pertanyaan ini. Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX, telah menyuarakan keprihatinannya tentang AI yang menggantikan manusia dalam banyak aspek kehidupan. Ia mengadvokasi regulasi yang ketat untuk memastikan penggunaan yang aman dan etis dari AI.

Di sisi lain, ahli seperti Ray Kurzweil percaya bahwa AI akan membawa manfaat luar biasa bagi manusia, termasuk memperpanjang umur dan meningkatkan kualitas hidup.

Dalam konteks ini, pertanyaan tentang apakah otonomi kita berkurang dengan menyerahkan pertimbangan dan keputusan kita pada komputer sangat bergantung pada bagaimana kita mendefinisikan dan menjalankan otonomi itu sendiri. Jika kita melihat AI sebagai ancaman bagi otonomi manusia, maka kita mungkin akan melihat penyerahan keputusan sebagai pengurangan otonomi. Namun, jika kita melihat AI sebagai alat yang dapat membantu kita dalam mengambil keputusan yang lebih baik dan lebih efisien, maka penyerahan keputusan mungkin dianggap sebagai perpanjangan otonomi kita.

Kesimpulan

Pertanyaan tentang apakah otonomi kita berkurang dengan menyerahkan pertimbangan dan keputusan kita pada komputer merupakan topik yang kompleks dan multifaset. Teori filosofis, data pendukung, dan pendapat ahli menunjukkan bahwa jawaban atas pertanyaan ini tergantung pada bagaimana kita memandang peran AI dalam kehidupan kita dan bagaimana kita mendefinisikan otonomi.

Untuk memastikan bahwa kita mempertahankan otonomi kita, penting untuk mengembangkan AI yang adil, akurat, dan bebas dari bias, serta menjaga keseimbangan antara keuntungan yang diperoleh dari AI serta tanggung jawab kita sebagai individu dan anggota masyarakat. (*)

Tags: AIArtificial IntelligenceDeepMind's AlphaGoKecerdasan BuatanOpenAI's GPT-3Otonomi Manusia
ShareTweetSendShare
Previous Post

KPN Fikom  Universitas Mercubuana di Desa Bojongmenteng Fokus Tingkatkan Potensi Pariwisata & UMKM

Next Post

Kemungkinan Diperpanjang, Baru 196.377 Jemaah Lunasi Biaya Haji dan Sebagian Terkendala Errornya BSI

Mungkin Anda Juga Suka :

Boleh dan Tidaknya Demonstrasi Kepada Penguasa dalam Pandangan Islam

Boleh dan Tidaknya Demonstrasi Kepada Penguasa dalam Pandangan Islam

29 Agustus 2025

...

Mengapa Andika – Hendrar Kalah di Kandang Banteng?

Mengapa Andika – Hendrar Kalah di Kandang Banteng?

1 Desember 2024

...

Kemenangan Trump dan Faktor Penyebab Kekalahan Kamala Harris

Kemenangan Trump dan Faktor Penyebab Kekalahan Kamala Harris

9 November 2024

...

Perlunya Capres-Cawapres Mengelola Corporate Communications Menuju Pilpres

Perlunya Capres-Cawapres Mengelola Corporate Communications Menuju Pilpres

7 Desember 2023

...

Menuju Perguruan Tinggi yang Lebih Adaptif Berbasis Enterprise Architecture

Menuju Perguruan Tinggi yang Lebih Adaptif Berbasis Enterprise Architecture

11 Agustus 2023

...

Load More
Next Post
Kemungkinan Diperpanjang, Baru 196.377 Jemaah Lunasi Biaya Haji dan Sebagian Terkendala Errornya BSI

Kemungkinan Diperpanjang, Baru 196.377 Jemaah Lunasi Biaya Haji dan Sebagian Terkendala Errornya BSI

Akselerasi Pendayagunaan Wakaf, Muhammadiyah Serukan Gerakan Jihad Berwakaf

Akselerasi Pendayagunaan Wakaf, Muhammadiyah Serukan Gerakan Jihad Berwakaf

Discussion about this post

TERKINI

Ben-Gvir dari Israel Dilarang Masuk ke Prancis Akibat Kebrutalannya Kepada Aktivis Armada Global Sumud

24 Mei 2026

Memahami Talak dan Jenisnya, Perkara Halal yang Paling Dibenci oleh Allah Ta’ala

23 Mei 2026

Google Diduga Memecat Insinyur AI Karena Memprotes Pekerjaan untuk Pemerintah Israel dalam Kejahatan Perang

22 Mei 2026

Tikus ‘Menyerbu ‘Pangkalan Pelatihan AL Israel di Haifa Hingga Bau Busuk, Dapur Dikuasai dan Masuk ke Panci

21 Mei 2026

Penyakit Hati yang Merusak Diri Menurut Al Qur’an dan Hadits

21 Mei 2026

Direktur Pusat Islam San Diego Mengutuk Serangan Islamophobia di Masjid San Diego

20 Mei 2026

Warga AS Menanggung Biaya Bahan Bakar Tambahan Lebih dari  40 Miliar Dolar Setelah Sejak Ikut Israel Perang Menyerang Iran

19 Mei 2026

Berkontribusi Besar Mencetak SDM Unggul, PTS Harus Setara dengan Kampus Negeri

19 Mei 2026

Luwesnya Chintya Dian Astuti, Wakil Ketua Kadin Pelestarian Hutan & Sungai Konsisten Jaga Lingkungan

18 Mei 2026

Jemaah Lansia dan Risiko Tinggi Akan Ikut Skema Murur, Kurangi Kepadatan di Muzdalifah

17 Mei 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video