Avesiar – Jakarta
Kemenangan Trump dan Faktor Penyebab Kekalahan Kamala Harris
Oleh : Arissetyanto Nugroho, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila, Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Nasional-Global
Euforia kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden Amerika Serikat memang tidak terelakkan lagi. Ini berlaku mutlak terutama bagi partai Republik sebagai pengusungnya, dan juga para pendukung figur yang sangat kontroversial dalam berbagai pernyataan politik serta serangan terhadap lawan-lawannya.
Trump memenangkan pemilihan presiden AS tersebut setelah dipastikan meraih 295 suara elektoral pada Rabu (06/11). Ia akan segera dilantik menjadi pemimpin dari negara berpenduduk sekitar 340 juta jiwa yang ke-47 tahun depan dengan usianya yang tidak muda lagi, 78 tahun. Suami dari Melania Knauss itu pun masih berstatus terdakwa atas beberapa kasus hukum yang masih berjalan di negara itu.
Kemenangan Trump bisa dikatakan sebagai ‘pembalikan keadaan’ setelah sebelumnya Kamala Harris dari partai Demokrat yang juga incumben dari pemerintahan Joe Biden saat dianggap akan mampu menguasai suara dan memenangkan pilpres negeri Paman Sam itu.
Bahkan, Kamala Harris, dalam berbagai survey sempat unggul di kantong-kantong negara bagian tertentu yang menjadi penentu kemenangan pada pemilihan tersebut. Kamala juga digadang-gadang dalam prediksi politik akan menjadi presiden wanita pertama AS.
Malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih. Impian Kamala Harris kandas pada Rabu kemarin dengan hanya mengantongi sekitar 226 suara elektoral, sedangkan Trump sekitar 295 suara yang telah melebihi syarat kemenangan yaitu 270 suara atau lebih.
Kemenangan Trump dimungkinkan karena beberapa faktor seperti banyak imigran ilegal yang masuk ke AS. Hal ini membuat penduduk AS terutama kulit putih menganggur. Donald Trump dikenal sangat anti dengan imigran illegal dan dianggap nasionalis oleh pendukungnya.
Kedua, kemungkinan rakyat AS sudah mulai bosan perang, di mana AS terlalu jauh jadi sponsor Israel dalam konflik Timur Tengah dan Ukraina melalui NATO.
Ketiga, Trump dianggap lebih bersahabat dengan Rusia atau Vladimir Putin dan meminta NATO dibubarkan, kecuali negara Eropa ikut tanggung biaya pagelaran tentara AS di Eropa. Israel akan mendapat dukungan alutsista “minimalis” dari AS, karena Trump lebih independen terhadap Israel. Dua isu ini pas dengan harapan publik AS.
Keempat, dampak nomor 3, AS akan berbagi kepentingan dengan Rusia di Eropa, sehingga diharapkan Timur Tengah lebih stabil.
Kelima, salah satu sebab ekonomi AS lesu karena membanjirnya produk-produk Cina. Trump akan terus dan meningkatkan perang dagang dengan skala yang lebih luas terhadap RRC.
Keenam, bagi Indonesia, momentum kemenangan Trump akan membuat RI lebih berdaulat dalam menjalankan politik LN bebas aktif, terutama setelah 10 tahun terakhir Indonesia ‘dianggap’ masuk dalam hegemoni RRC. (*)













Discussion about this post