Avesiar – Jakarta
Mengapa Andika – Hendrar Kalah di Kandang Banteng?
Oleh: Muhamad Rosit, Dosen Komunikasi Politik Universitas Pancasila
Pemilihan kepala daerah selalu menjadi arena pertarungan politik yang menarik. Dari sekian Pilkada, salah satu kontestasi yang cukup menarik untuk dicermati yaitu Pemilihan Gubernur dan Wakil gubernur Jawa Tengah 2024.
Menurut hasil hitung cepat (quick count) Indikator Politik, pada 27 November 2024, pasangan Ahmad Luthfi – Taj Yasin Maimoen unggul dengan 58,31 persen suara, mengalahkan pasangan Andika Perkasa – Hendrar Prihadi yang meraih 41,69 persen suara.
Sementara hasil quick count dari Lembaga Survei Indonesia merilis pasangan Ahmad Lutfi – Taj Yasin, unggul 59,38 persen dan Andika Perkasa – Hendrar Prihadi meraih 40,62 persen, rilis hitung cepat dari kedua Lembaga survey itu semakin mengaskan bahwa Ahmad Lutfi – Taj Yasin memenangkan Pemilihan Gubernur dan wakil gubernur Jawa Tengah versi quick count, sementara pengumuman resmi oleh KPU akan diselenggarakan pada 15 Desember 2024.
Ada dua faktor penting untuk membaca kekalahan Andika Perkasa – Hendrar Prihadi pada kontestasi di Jawa Tengah. Pertama, turunnya mantan presiden yang juga tim sukses Jokowi secara langsung dalam kampanye memberikan pengaruh besar terhadap dinamika pemilu di Jawa Tengah.
Kedua, Taj Yasin, yang merupakan putra ulama besar KH Maimoen Zubair, memiliki jaringan kuat di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). NU sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia memiliki pengaruh yang sangat besar, terutama di Jawa Tengah.
Melalui pendekatan berbasis cultural seperti kegiatan keagamaan dan penguatan hubungan dengan tokoh-tokoh kunci NU, Taj Yasin berhasil mengonsolidasikan suara di kantong-kantong Nahdliyin. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat posisinya sebagai kandidat, tetapi juga menciptakan narasi kuat bahwa pasangan Ahmad Luthfi – Taj Yasin adalah representasi aspirasi keagamaan dan sosial masyarakat Jawa Tengah.
Sebaliknya, Andika Perkasa, dengan latar belakang militernya, kurang mampu menjangkau pendekatan berbasis cultural ini, sehingga kehilangan suara signifikan di wilayah-wilayah yang menjadi basis tradisional NU. Berbeda cerita jika pasangan Andika Perkasa adalah tokoh NU, tentu memiliki potensi bisa mengambil basis suara Nahdliyin.
Kalah di Kandang Banteng
Fenomena mengejutkan lainnya dalam Pilkada Jawa Tengah adalah jebolnya “kandang banteng,” istilah yang merujuk pada basis suara tradisional PDI-P. Sebagai partai besar dengan akar yang kuat di Jawa Tengah, PDI-P biasanya mendominasi pemilu di wilayah ini. Puluhan tahun lamanya Jawa Tengah merupakan basis elektoral PDI Perjuangan. Setiap kandidat yang diusung di daerah ini bisa dipastikan 99 persen akan meraih kemenangan. Ganjar Pranowo – Taj Yasin misalnya, dua periode bisa memenangkan dengan mudah dalam kontestasi pemilihan gubernur dan wakil gubernur di Jawa Tengah.
Situasi ini berbeda saat Pilpres 2024, pasangan Prabowo – Gibran mampu mendobrak elektoral di Jawa Tengah, kemudian dilanjutkan Pemilihan gubernur dan Wakil Gubernur tahun 2024, pasangan Ahmad Lutf i- Taj Yasin.
Lemahnya ikatan Partai dan Kuatnya Magnet Figur
Sistem party identification (party ID) di Indonesia tergolong lemah dibandingkan dengan negara-negara yang memiliki tradisi demokrasi mapan. Dalam konteks ini, party ID merujuk pada keterikatan emosional atau loyalitas jangka panjang seorang individu terhadap partai politik tertentu.
Lemahnya party ID ini memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas demokrasi Indonesia. Pemilih yang kurang terikat pada partai membuat dinamika politik lebih cair, tetapi juga meningkatkan ketergantungan pada figur dan memunculkan risiko populisme. Ke depan, tantangan bagi partai politik di Indonesia adalah membangun identitas yang kuat dan mengedukasi pemilih agar loyalitas politik tidak hanya berbasis pada figur, tetapi juga pada nilai dan program kerja.
Melalui kontestasi Pilkada Serentak 2024, fenomena semakin kuatnya peran figure dibandingkan partai politik kembali menjadi sorotan. Dalam banyak kasus, kemenangan pasangan kandidat lebih ditentukan oleh kekuatan personal atau dukungan dari figure besar yang memiliki pengaruh di tingkat nasional maupun lokal. Hal ini semakin mempertegas melemahnya peran partai politik dalam kontestasi demokrasi di Indonesia.
Figur kandidat yang kuat, baik dalam hal popularitas, rekam jejak, maupun kedekatan dengan masyarakat, menjadi factor utama yang menentukan keberhasilan. Pemilih seringkali memandang kandidat sebagai individu yang memiliki kemampuan untuk memimpin, terlepas dari platform politik atau partai yang mendukungnya. Hal ini terlihat dalam berbagai Pilkada sebelumnya, di mana calon dengan basis figure kuat cenderung memiliki daya tarik elektoral yang lebih tinggi dibandingkan dengan kandidat yang hanya mengandalkan jaringan partai.
Selain itu, dukungan dari figure besar seperti tokoh nasional, ketua partai, atau pejabat senior juga menjadi elemen kunci. Dukungan ini tidak hanya memperkuat legitimasi kandidat, tetapi juga memobilisasi sumber daya politik dan jaringan sosial yang luas. Misalnya, keterlibatan tokoh populer seperti presiden yang juga menjabat sebagai ketua umum partai, menteri, atau kepala daerah yang sudah sukses dapat memberikan efek elektoral yang signifikan bagi kandidat yang didukung. (*)













Discussion about this post