Avesiar – Palestina
Peristiwa pengusiran dan pembantaian bangsa Palestina pada tahun 1948 yang disebut dengan Nakba atau bencana dalam bahasa Arab, merupakan sejarah kelam kekejaman dilakukan oleh Israel.
Dikutip dari Arab News, Kamis (25/5/2023), sebanyak 750.000 warga Palestina diusir dari rumah mereka pada tahun 1948 oleh Israel, dan setidaknya 500 kota dan desa Palestina dihancurkan.
Tiga situs potensial untuk lokasi kuburan massal telah diidentifikasi di sebuah desa Palestina yang dihancurkan oleh pasukan Israel pada tahun 1948 tersebut.
Tantura, wilayah dekat Haifa, telah lama dipercaya oleh sejarawan menjadi tempat kekejaman di tengah cerita dari para penyintas bahwa hingga 200 orang, mungkin telah dieksekusi di desa tersebut setelah menyerah kepada tentara Israel yang tergabung dalam Brigade Alexandroni.
Lokasi dua kuburan massal diperkirakan berada di bawah tempat parkir mobil di tepi pantai. Desa itu pernah menjadi rumah bagi sekitar 1.500 warga Palestina, tetapi sekarang menjadi resor Pantai Dor. Pada tahun 1948, area tersebut akan dibuka, kemungkinan sebagai bagian dari kebun buah.
Investigasi oleh Arsitektur Forensik, sebuah organisasi penelitian yang berbasis di Goldsmiths, University of London, telah mengidentifikasi lokasi, membuat peta 3D area tersebut menggunakan data geografis dan foto yang direkam dan disusun oleh otoritas Mandat Inggris di Palestina, serta kesaksian saksi mata, untuk menilai perubahan lanskap di mana mayat mungkin telah terkubur atau digali.
Masih dikutip dari Arab News, lokasi ketiga, diduga juga menjadi tempat eksekusi massal, kabarnya sisa-sisa manusia ditemukan beberapa tahun kemudian.
Laporan Arsitektur Forensik, yang ditugaskan oleh kelompok hak asasi manusia Palestina Adalah, telah digunakan sebagai bukti untuk mengajukan petisi kepada pihak berwenang Israel atas nama keluarga korban untuk membatasi lokasi yang teridentifikasi.
“Sulit untuk membantah bahwa tidak ada kuburan massal di Tantura. Hak keluarga untuk mengunjungi situs-situs ini dan hak untuk penguburan yang bermartabat jelas telah dilanggar baik menurut hukum Israel maupun internasional,” Suhad Bishara, direktur hukum Adalah, mengatakan kepada The Guardian, dikutip dari Arab News.
“Apa yang kami harapkan dengan pengajuan tersebut adalah bahwa bukan masalah pengadilan Israel untuk memutuskan ‘ya’ atau ‘tidak’, tetapi hanya bagaimana memfasilitasi akses.” (ard)













Discussion about this post