Avesiar – Jakarta
Boikot terhadap McDonald’s yang digaungkan aktivis pro-Palestina setelah terungkap bahwa waralaba McDonald’s di Israel membagikan makanan gratis kepada ribuan tentara Israel pada awal serangan udara dan darat Tel Aviv di Jalur Gaza, telah membuat rugi perusahaan waralaba tersebut. Di mana serangan biadab tersebut telah membunuh lebih dari 20.000 orang di Palestina.
Sebagaimana dikutip dari The New Arab, Kamis (11/1/2024), CEO McDonald’s mengatakan baru-baru ini bahwa bisnis waralaba makanan cepat saji di kawasan Timur Tengah telah dirugikan oleh boikot yang dilakukan sebagai protes atas dugaan dukungan perusahaan tersebut terhadap Israel dalam perangnya di Gaza.
Kepala eksekutif Chris Kempczinski mengklaim bahwa “informasi yang salah” memicu kampanye boikot yang “merugikan operasi” bisnis tersebut.
Mereka juga mengklaim “tidak mempunyai posisi” dalam perang mematikan tersebut, dan bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas tindakan pewaralabanya, yang membayar perusahaan tersebut biaya untuk melisensikan merek dan resepnya.
McDonald’s mengalami penurunan penjualan yang signifikan di Mesir, yang mengalami penurunan sebesar 70 persen pada bulan Oktober dan November dibandingkan dengan dua bulan yang sama pada tahun 2022 lalu.
Dalam postingan yang dibagikan ke LinkedIn pada hari Kamis sebelumnya, Kempczinski mengatakan mengenai dampaknya terhadap bisnis bahwa hal itu mengecewakan dan tidak berdasar. Di setiap negara tempat mereka beroperasi, termasuk negara-negara Muslim, McDonald’s dengan bangga diwakili oleh operator pemilik lokal yang bekerja tanpa lelah untuk melayani. dan mendukung komunitas mereka sambil mempekerjakan ribuan warga negara mereka.
“Hati kami tetap bersama komunitas dan keluarga yang terkena dampak perang di Timur Tengah. Kami membenci kekerasan dalam bentuk apa pun dan dengan tegas menentang ujaran kebencian, dan kami akan selalu dengan bangga membuka pintu bagi semua orang,” kata dia.
Sebuah kampanye akar rumput Palestina yaitu Gerakan Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS), mencantumkan perusahaan mana yang harus diboikot dan alasannya. Gerakan ini mencantumkan McDonald’s sebagai “target boikot organik”, dengan mengatakan bahwa rantai makanan cepat saji tersebut “mendapat keuntungan dari Genosida rakyat Palestina”.
Waralaba lain dari perusahaan Barat, yaitu Starbucks, juga menjadi sasaran boikot serupa dan penjualan negatif berikutnya. Jaringan kedai kopi terkenal itu telah diboikot oleh aktivis dan konsumen pro-Palestina secara global, termasuk di Timur Tengah.
Kedai kopi tersebut menjadi sasaran kampanye boikot setelah menggugat Starbucks Workers United karena memposting postingan media sosial yang mendukung Palestina.
Mayoritas pemegang waralaba McDonald’s di Timur Tengah dan Afrika Utara menerbitkan pernyataan solidaritas mereka terhadap warga Palestina pada awal kampanye militer Israel di Gaza, dan banyak di antara mereka yang berjanji untuk menyumbang kepada mereka yang menderita di wilayah tersebut. (ard)













Discussion about this post