Avesiar – Jakarta
Tindakan biadab genosida terhadap warga sipil di Gaza semakin intensif dilakukan Israel, meskipun Mahkamah Internasional (ICJ) di Den Haag memutuskan Israel harus mencegah tindakan genosida, Jum’at (26/1/2024).
Sebagaimana dikutip dari The New Arab, Sabtu (27/1/2024), ribuan warga sipil terjebak di Gaza selatan ketika Israel mengintensifkan serangannya terhadap wilayah kantong Palestina pada hari Sabtu, sehari setelah pengadilan tinggi PBB memutuskan Israel harus mencegah tindakan genosida.
Di Khan Younis, kota terbesar di selatan Gaza, kewaspadaan semakin meningkat. Di mana dua rumah sakit utama hampir tidak berfungsi karena beban pemboman yang tiada henti dan ribuan orang yang membutuhkan.
Terjadi lebih banyak serangan semalam di Khan Younis, pusat serangan Israel di Gaza, para saksi melaporkan. Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan beberapa orang yang tewas dan terluka telah dibawa ke rumah sakit Al-Amal yang hampir tidak berfungsi di kota itu.
Kebiadaban tersebut malah dilakukan setelah Mahkamah Internasional (ICJ) di Den Haag memutuskan bahwa Israel harus mencegah kemungkinan tindakan genosida dalam perangnya di Jalur Gaza.
Kasus ini diajukan terhadap Israel oleh Afrika Selatan.
Namun yang mengherankan, pengadilan tidak menyerukan diakhirinya pertempuran, tetapi juga mengatakan dalam keputusannya bahwa Israel harus memfasilitasi bantuan kemanusiaan yang “sangat dibutuhkan”.
Direncanakan, Dewan Keamanan PBB akan bertemu pada hari Rabu untuk membahas keputusan ICJ, kata presiden dewan tersebut, sementara Uni Eropa menyerukan penerapan keputusan ICJ “segera”.
Kementerian Luar Negeri Palestina mengatakan gencatan senjata segera adalah “satu-satunya cara” untuk melaksanakan keputusan sementara ICJ pada hari Jumat.
Mereka mengutuk “kelanjutan perang genosida yang sedang berlangsung terhadap rakyat kami” dalam sebuah pernyataan, yang dikatakan menunjukkan “tekad Israel untuk menyelesaikan penghancuran Jalur Gaza”.
Hal ini juga menyoroti fakta bahwa tidak ada satupun pejabat tinggi Israel yang berjanji untuk mematuhi keputusan tersebut, dan para pejabat tinggi, termasuk Benjamin Netanyahu, berjanji untuk melanjutkan perang, yang secara efektif melemahkan keputusan tersebut. (ard)













Discussion about this post