Avesiar – Tepi Barat
Media lokal melaporkan bahwa seorang penjaga bersenjata Israel meninggal karena luka-lukanya setelah dia diserang di pemukiman ilegal Kedumim di Tepi Barat pada hari Minggu, dilansir The New Arab, Senin (19/8/2024).
Kepala pria Israel bernama Gidon Peri tersebut diduga dipukul dengan palu oleh terduga seorang asal Palestina. Ia kemudian dibawa ke Rumah Sakit Beilinson di Petah Tikva, di mana kemudian dinyatakan meninggal.
Peri, 38 tahun, sedang bertugas di kawasan industri, yang terletak di pemukiman di bagian utara Tepi Barat, pada saat kejadian.
Tersangka Palestina juga dilaporkan mengambil pistol Peri, sebelum melarikan diri dari lokasi kejadian dengan mobil lalu berjalan kaki, The Times of Israel melaporkan, mengutip tentara Israel.
Sumber-sumber militer mengatakan tersangka pelaku memiliki izin kerja untuk memasuki wilayah Tepi Barat yang dikuasai Israel, dan bekerja di sebuah pabrik di kawasan industri.
Tersangka diidentifikasi sebagai Sultan Nadel Abdulaziz Abdul Ghani, menurut The Jerusalem Post, dan belum ditangkap.
Pemukiman Kedumim tempat serangan itu terjadi, terletak di dekat desa Jit di Palestina, tempat lebih dari 100 pemukim melakukan aksi mengamuk pekan lalu, menewaskan sedikitnya satu warga Palestina.
Beberapa warga Palestina terluka, termasuk satu orang yang kritis. Para pemukim menggunakan gas air mata, tembakan senjata, dan bom molotov untuk menyerang penduduk desa. Tentara Israel kemudian dipanggil ke tempat kejadian, namun gagal mengambil tindakan, kata para saksi mata.
Pemukim Israel membakar gedung-gedung dan kendaraan dalam apa yang digambarkan sebagai salah satu serangan terburuk yang dilakukan pemukim terhadap warga Palestina dan properti mereka tahun ini, dan merupakan tindakan “terorisme murni”.
Masih belum jelas apakah serangan hari Minggu itu dilakukan sebagai respons terhadap kerusuhan pemukim yang terjadi minggu lalu.
Pihak berwenang Israel dilaporkan akan menghancurkan rumah keluarga tersangka pelaku sebagai hukuman atas serangan tersebut, yang belum ada yang dituntut, kata kantor berita Palestina Wafa. Pemerintah Israel kerap memerintahkan pembongkaran rumah milik warga Palestina yang diduga melakukan kejahatan, sebagai bentuk “hukuman”.
Media Palestina juga melaporkan bahwa tentara menerapkan tindakan militer yang keras di wilayah Qalqilya untuk hari kedua berturut-turut, setelah serangan tersebut.
Ketegangan masih tinggi di Tepi Barat setelah pecahnya serangan militer Israel yang mematikan di Gaza sejak tanggal 7 Oktober, menyusul meningkatnya insiden kekerasan tentara Israel dan pemukim terhadap warga Palestina.
Setidaknya 635 warga Palestina tewas dalam serangan serupa di Tepi Barat, dan sedikitnya 5.400 orang terluka di wilayah pendudukan.
Lebih dari 10.000 orang juga telah ditangkap, termasuk mantan tahanan, wanita, dan anak-anak. (ard)













Discussion about this post