Avesiar – Jakarta
Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, dikutip dari The Guardian, Sabtu (28/0/2024), mengumumkan lima hari berkabung resmi pada hari Sabtu dan menyerukan pertemuan mendesak dari 57 anggota Organisasi Kerja Sama Islam. Pengumuman itu setelah terbunuhnya pemimpin veteran Hizbullah Sayyed Hassan Nasrallah.
Ia mengatakan bahwa Israel “tidak akan luput dari pembalasan”, karena kekhawatiran akan meningkatnya konflik di Timur Tengah, usai gelombang kejut dari serangan udara Jumat malam tersebut.
Pasukan keamanan Israel juga disiagakan untuk kemungkinan pembalasan, karena para ahli memperingatkan bahwa kawasan itu menghadapi beberapa skenario setelah pembunuhan itu, termasuk risiko perang yang meluas yang dapat menarik Iran, pendukung utama Hizbullah, ke dalam konflik langsung dengan Israel.
Pembunuhan Nasrallah, kata Joe Biden, sebagai “ukuran keadilan bagi banyak korbannya, termasuk ribuan warga Amerika, Israel, dan warga sipil Lebanon” saat ia memerintahkan Pentagon untuk meningkatkan postur pertahanan Amerika di kawasan tersebut. Biden menambahkan bahwa AS “sepenuhnya mendukung hak Israel untuk membela diri terhadap Hizbullah, Hamas, Houthi, dan kelompok teroris lain yang didukung Iran.”
Namun, ia menambahkan: “Di Gaza, kami telah mengupayakan kesepakatan yang didukung oleh Dewan Keamanan PBB untuk gencatan senjata dan pembebasan sandera. Di Lebanon, kami telah merundingkan kesepakatan yang akan mengembalikan orang-orang dengan aman ke rumah mereka di Israel dan Lebanon selatan. Sudah saatnya kesepakatan ini ditutup, agar ancaman terhadap Israel disingkirkan, dan agar kawasan Timur Tengah yang lebih luas memperoleh stabilitas yang lebih baik.”
Para pemimpin dunia lainnya mengungkapkan kekhawatiran atas pembunuhan Nasrallah. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengatakan bahwa ia “sangat prihatin” atas “eskalasi dramatis” di Lebanon, bergabung dengan pihak lain dalam memperingatkan bahaya destabilisasi.
Pemerintah Jerman mengatakan bahwa pembunuhan pemimpin Hizbullah yang telah lama menjabat dapat berdampak negatif bagi keamanan Israel sendiri. Dalam sebuah wawancara di saluran TV Jerman ARD, menteri luar negeri, Annalena Baerbock, mengatakan bahwa situasi “sangat berbahaya” setelah kematian Nasrallah mengancam “destabilisasi bagi seluruh Lebanon”, seraya menambahkan: “Itu sama sekali tidak sesuai dengan kepentingan keamanan Israel.”
Nasrallah, yang memimpin Hizbullah selama lebih dari tiga dekade, dibunuh oleh Israel dalam serangkaian serangan terhadap markas bawah tanah kelompok itu di Dahieh, pinggiran selatan Beirut.
Laporan di media Israel mengatakan pembunuhan itu dilakukan oleh satu skuadron jet F-15I yang dilengkapi dengan bom penghancur bunker meskipun Israel menolak mengomentari klaim bahwa bom tersebut adalah amunisi tipe 84 yang dipasok AS. (ard)













Discussion about this post