• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Citizen Journalism & Video

Masa Depan  Industri Televisi, Senja Kala dan Perang Media Streaming

by Ave Rosa
27 September 2024 | 22:42 WIB
in Citizen Journalism & Video
Reading Time: 5 mins read
A A
Masa Depan  Industri Televisi, Senja Kala dan Perang Media Streaming

Kolase: Buku "Masa Depan Industri Televisi" dan Penulis Buku Irwan Setyawan/Avesiar.com

Oleh: Masayu Indriaty Susanto, Pecinta Buku

Senja kala dari era media konvensional adalah keniscayaan. Termasuk juga industri televisi yang selama ini selalu bertengger sebagai media paling berpengaruh. Internet bisa jadi adalah tersangka “pembunuh” utamanya.

Generasi Y dan Z tampaknya tidak lagi tertarik menonton televisi. Mereka lebih tertarik menikmati tontonan di Youtube atau Netflix yang bisa diakses dari ponsel atau laptop, di mana saja dan kapan saja.

Mereka juga mendengar musik, membaca novel, membaca berita, dan sibuk bermedia sosial melalui smartphone.

Disrupsi media ini tentu saja berdampak serius bagi industri media. Berbagai strategi dilakukan untuk mengadaptasi perkembangan teknologi. Banyak terobosan harus dilakukan perusahaan media hanya untuk sekadar survive.

Terobosan yang dilakukan seperti strategi konvergensi media dan bahkan juga cross media. Namun, tak sedikit juga yang akhirnya tumbang.

Fenomena inilah yang ditangkap dan dianalisa oleh Irwan Setyawan dalam bukunya “Masa Depan Industri Televisi di Tengah Perang Streaming dan Serbuan Raksasa Teknologi Informasi”.

Pada buku terbitan Gramedia Pustaka Utama setebal 177 halaman ini, Irwan Setyawan mengupas perubahan yang begitu cepat dalam industri televisi dan internet. Juga bagaimana para pengelola media besar internasional menghadapi perubahan yang terjadi, terutama menghadapi disrupsi dalam industri media.

Bacaan Terkait :

No Content Available
Load More

Rekam jejak Irwan Setyawan sebagai praktisi media dengan pengalaman selama lebih dari 30 tahun tertuang dalam buku ini.

Dalam bukunya, Irwan menyampaikan analisanya yang tajam dengan bahasa yang runut dan mudah dipahami. Analisanya berlimpah data dari berbagai sumber yang kredibel.

Penulis menjelaskan, hanya dalam beberapa tahun belakangan, bisnis industri televisi meredup. Iklan yang menjadi napas utama industri media secara fenomenal beralih ke media berbasis internet alias streaming.

Dulu televisi broadcasting adalah sasaran utama pada pemasang iklan. Namun kini, porsi besar iklan beralih ke raksasa teknologi semacam Google dan Alphabet melalui dua platform digitalnya, yaitu Youtube dan Facebook

Alphabet memperoleh pendapatan iklannya sebanyak 88 persen. Sedangkan Facebook lebih besar lagi, 95 persen pendapatannya dari iklan.

Bukan saja iklan, kehadiran TV streaming di channel Youtube dan Netflix pun sukses merebut penonton TV konvensional penikmat hiburan. Lengkaplah sudah nasib buruk industri televisi konvensional. Perusahaan media televisi di seluruh dunia pun terkena imbasnya. Efisiensi karyawan menjadi langkah terakhirnya.

Al Jazeera misalnya, saluran televisi Qatar itu harus merumahkan 500 karyawannya dan menghentikan operasionalnya di Amerika Serikat sejak 2016.

Pengurangan tenaga operasional ini segera menular dan diikuti berbagai perusahaan media besar  lainnya. Termasuk Cable News Network (CNN), American Broadcasting Corporation (ABC), dan Columbia Broadcasting System (CBS).

Sekarang, media streaming lah yang makin kukuh sebagai nomor satu dalam hal jumlah penonton juga menjadi incaran para pembelanja iklan.

Dalam buku ini, penulis mencermati disrupsi media yang terjadi di Amerika Serikat, negara yang menjadi barometer industri media televisi internasional.

Di Negeri Paman Sam itu, peralihan penonton dari televisi konvensional ke streaming sudah terjadi sejak 2016.

Sepuluh tahun lalu di AS, penonton TV kabel menduduki peringkat pertama terbanyak. Menyusul TV free to air (tidak berbayar atau pakai antena), kemudian TV streaming di peringkat tiga. Namun saat ini, penonton TV streaming justru menduduki peringkat pertama. Menyalip TV kabel dan TV tak berbayar.

Sinetron Masih Jadi Idola

Bagaimana di Indonesia? Tentu saja menunjukkan tren yang sama dengan Amerika Serikat. Meski Indonesia dinilai tertinggal 10 sampai 14 tahun dalam perkembangan media dibandingkan dengan AS.

Namun penurunan belanja iklan televisi di Indonesia sudah mulai terjadi sejak 2016. Dan terjadi lonjakan belanja iklan digital di saat yang sama.

Data PubMatic menyebutkan, dari tahun 2018-2019 saja, iklan digital Indonesia mencapai Rp36,5 triliun.

Namun menariknya, jika di AS TV streaming meraih jumlah penonton terbanyak. Di Indonesia, penonton terbanyak masih diduduki TV free to air (tidak berbayar, pakai antena).

Bukan itu saja, dari jenis acara pun terlihat perbedaan yang cukup kentara antara selera penonton di AS dan Indonesia. Di AS, jenis acara TV terbanyak ditonton adalah siaran berita dan acara olahraga (Piala Dunia dan sebagainya).

D Indonesia, tontonan yang memperoleh rating tertinggi  jumlah penontonnya justru drama seri (sinetron) dan reality show.

Drama seri adalah jenis acara yang meraih rating tertinggi di AS sepuluh tahun lalu. Namun kini, selera penonton di As sepertinya berubah. Acara berita dan olahragalah yang meraih jumlah penonton paling banyak.

Ancaman Bagi Identitas Anak Bangsa

Dari analisa itulah, penulis memprediksi, disrupsi yang terjadi di Indonesia akan mengikuti apa yang telah terjadi di AS. TV streaming akan mengalahkan TV konvensional dan itu sepertinya hanya tidak menunggu waktu.

Apalagi era teknologi 5.0 sudah di depan mata, yang berarti, akses dan kecepatan jaringan internet tidak akan menjadi masalah lagi di negara kita ke depannya. Hal itu juga membawa masalah besar.

Era media streaming akan menjadikan arus konten produksi negara barat, sebagai pemasok konten terbesar dunia, akan deras masuk ke Indonesia. Hal ini akan menimbulkan masuknya nilai-nilai dan karakter barat yang akan menggerus karakter masyarakat terutama anak bangsa.

Prof Dr Widodo Muktiyo, Guru Besar Ilmu Komunikasi Fikom Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, mengingatkan itu dalam kata pengantar di buku ini.

Para konten kreator Indonesia, menurut Prof Widodo Muktiyo, harus bergerak dan produktif dalam mengatasi derasnya arus konten streaming dari luar. Karena hal itu bisa menjadi “benteng” untuk melindungi identitas bangsa.

Secara garis besar, buku ini sangat direkomendasikan sebagai acuan bagi mahasiswa, akademisi, jurnalis, maupun peneliti yang mendalami era disrupsi media terutama dalam industri televisi dan media streaming.

Sebagai praktisi media dengan pengalaman selama 30 tahun lebih, Irwan Setyawan mengulas hal itu dengan begitu detil, praktis, dan sistematis.

Penulis adalah lulusan sarjana komunikasi dari UNS Solo dan magister komunikasi dari Universitas Mercu Buana Jakarta.

Telah berkarir sebagai jurnalis Jawa Pos sejak masih sebagai mahasiswa. Sebagian besar karirnya dijalani di media cetak, namun kemudian beralih ke televisi.

Terakhir, penulis adalah Direktur Jawa Pos TV, jaringan tv yang memiliki 53 stasiun televisi. Terbesar kedua di Indonesia saat ini,

Irwan Setyawan saat ini adalah akademisi di Tanri Abeng University (TAU), dosen praktisi di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jakarta, juga dosen tamu di berbagai perguruan tinggi lainnya.. (*)

Tags: Buku Industri TelevisiMasa Depan  Industri TelevisiMasa Depan TelevisiPerang Media Streaming
ShareTweetSendShare
Previous Post

Warga New York Kedatangan Virus Nyamuk Langka EEE Mematikan yang Menginfeksi Otak

Next Post

Israel Memancing Eskalasi Konflik Besar-besaran Usai Terbunuhnya Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah dengan Mengebomnya

Mungkin Anda Juga Suka :

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

14 Maret 2026

...

Di Ambang Mahacahaya

Di Ambang Mahacahaya

9 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

9 Maret 2026

...

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

8 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

8 Maret 2026

...

Load More
Next Post
Pemilu Pakistan Diwarnai Pemboman yang Menewaskan Puluhan Orang

Israel Memancing Eskalasi Konflik Besar-besaran Usai Terbunuhnya Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah dengan Mengebomnya

Syarat Wajib Pendirian Perusahaan Pers adalah Memiliki Badan Hukum PT

Syarat Wajib Pendirian Perusahaan Pers adalah Memiliki Badan Hukum PT

Discussion about this post

TERKINI

Membuminya Endang Rosawati, Eks Corsec BNI Syariah Kini CEO Taha Institute, Edukasi Keuangan Syariah

2 Juni 2026

Kolumbia Gelar Pilpres yang Diikuti 10 Kandidat dan Lebih Dari 40 Juta Warga di Tengah Polarisasi

1 Juni 2026

Laporan Tes Kognitif Trump Dibahas Analis Medis CNN

31 Mei 2026

Jemaah Haji per 1 Juni Bertahap Kembali ke Indonesia Usai Ditutup Rangkaian Ibadah di Armuzna

31 Mei 2026

Minuman-minuman Favorit yang Menurut Studi Membuat Risiko Demensia Lebih Rendah

30 Mei 2026

Konsep Pria Alfa atau Alpha Male, Memahami serta Kontroversi dan Alternatif Maskulin Sehat

30 Mei 2026

Risiko Pertumpahan Darah Besar Jika AS Lakukan Agresi Militer Terhadap Kuba Demi Kedaulatannya

29 Mei 2026

Kunci Bahagia Rumah Tangga dan Pola Komunikasinya dalam Islam

29 Mei 2026

Uranium yang Diperkaya Iran Bukan Bagian dari Negosiasi, Sebut AS-Israel Tetap Niat Menggulingkan Negaranya

28 Mei 2026

Gagal Berangkat Haji, 118 Calon Haji Ilegal Dicegat di Soekarno-Hatta, Kualanamu, dan Sultan Hasanuddin

28 Mei 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video