Avesiar – Jakarta
Muslim di Amsterdam, Kamis (14/11/2024), mengatakan bahwa retorika pemerintah Belanda seminggu setelah kota itu diguncang oleh kekerasan yang dipicu oleh hooligan sepak bola Israel dapat mendorong diskriminasi.
Dilansir The New Arab, Jum’at (15/11/2024), pernyataan tersebut mencuat setelah di parlemen Belanda sehari sebelumnya, anggota parlemen sayap kanan Geert Wilders mengklaim bahwa semua kekerasan yang terjadi di sekitar pertandingan sepak bola minggu lalu antara Ajax Amsterdam dan Maccabi Tel-Aviv dilakukan oleh Muslim dan “sebagian besar orang Maroko”.
“Kami disebut orang asing, Anda orang Maroko, Anda orang Turki. Diskriminasi akan terus terjadi,” kata Mohamed Errakil, pria berusia 51 tahun asal Maroko saat menata peti buah di sebuah pasar di tepi barat Amsterdam pada hari Kamis.
Ia juga mengatakan “merasa seperti orang Belanda” dan telah menghabiskan sebagian besar hidupnya mengelola kios buah di Nieuw West, sebuah lingkungan dengan populasi Muslim yang cukup besar.
Wilders yang anti-Islam, yang merupakan pemimpin partai terbesar dalam koalisi pemerintah, juga menyerukan agar mereka yang terlibat dituntut “atas tuduhan terorisme, dicabut paspornya, dan diusir dari negara ini”.
Pemilik kios buah itu mengatakan bahwa mereka yang terlibat dalam kekerasan “harus ditangani dengan tegas”. “Setiap Muslim dipandang sebagai orang asing, teroris, tetapi mereka tidak,” tambahnya.
Errakil, senada dengan penduduk setempat lainnya yang diwawancarai AFP di pasar di alun-alun Plein ’40-’45, tempat kerusuhan terisolasi pada Senin malam, mendesak pemerintah dan media untuk melihat “kedua sisi” dari masalah tersebut.
Hooligan sepak bola Israel pekan lalu memprovokasi kekerasan di Amsterdam, meneriakkan slogan-slogan rasis, merobek bendera Palestina, dan menyerang pengemudi taksi Maroko.
Meskipun menjelang pertandingan sepak bola, penggemar Maccabi telah meneriakkan slogan-slogan anti-Arab di sekitar Amsterdam, merusak taksi, dan membakar bendera Palestina di alun-alun utama kota tersebut, namun, wali kota Amsterdam menuduh bahwa “campuran racun anti-Semitisme dan hooliganisme” telah memprovokasi kekerasan tersebut.
Lima penggemar sepak bola Israel sempat dirawat di rumah sakit setelah serangan “tabrak lari” oleh pria-pria yang mengendarai skuter.
Puluhan orang ditangkap, termasuk sepuluh penggemar Israel, dan polisi berjanji akan melakukan penyelidikan besar-besaran.
Di lain sisi, politisi oposisi menyerukan persatuan dan mengkritik Wilders karena “menambah bahan bakar ke dalam api”.
Dikenal sebagai kota yang toleran dan multikultural, Amsterdam telah berjuang melawan polarisasi yang terlihat di seluruh Eropa sejak dimulainya perang Israel di Gaza tahun lalu.
Ketegangan tetap tinggi setelah kekerasan tersebut dengan peningkatan kehadiran polisi setelah ratusan pengunjuk rasa pro-Palestina ditangkap setelah berdemonstrasi minggu lalu.
Sementara itu, Pete pria 66 tahun, sambil bersandar pada balok kayu kios pakaiannya, yang menggunakan nama samaran dan telah bekerja di pasar tersebut selama lima belas tahun, mengatakan orang-orang dari komunitas Muslim setempat “sangat, sangat cemas sekarang”.
“Mereka sedih, mereka kecewa. Pemerintah tidak melihat mereka sebagai orang Belanda asli, tetapi seperti orang kelas dua.” (ard)













Discussion about this post