KAMU KUAT – Jakarta
Kopi kini juga lekat dengan aktivitas gaul atau nongkrong remaja dan anak muda. Hal ini berkaitan dengan terus menjamurnya kedai kopi di pinggir jalan atau kawasan perkotaan. Nongkrong di coffee shop atau warung kopi tidak hanya soal menikmati kopi, tapi juga menjadi tempat untuk bersosialisasi.
Kebiasaan ini punya dampak tersendiri bagi para remaja dan anak muda. Dampak positif dari kebiasaan ini, salah satunya seperti menghangatkan pergaulan atau sekadar melepas penat. Namun, dampak negatifnya juga ada. Lupa waktu dan bisa menggerus kantong jika terlalu sering, itu beberapa dampak negatifnya.
Untuk lebih tahu tentang seperti apa pengaruh ngopi atau nongkrong minum kopi bagi remaja dan anak muda, sahabat kanal remaja KAMU KUAT! bisa menyimak curhatan mereka, juga ada komentar pemilik coffee shop berikut ini.
Caesar Aldebarian Falah, mahasiwa semester 5, Universitas Pamulang

“Sejak SMA, saya mulai suka dengan kopi. Ketertarikan bermula ketika seorang teman mengajak saya mencoba minum kopi di salah satu kedai lokal yang terkenal. Sejak saat itu, kopi menjadi bagian dari kehidupan saya, terutama saat menghadapi tugas-tugas sekolah yang menumpuk,” kenang Caesar.
Kopi favorit yang ia suka adalah cafe latte. Kombinasi rasa pahit dari espresso yang dipadu dengan creamynya susu, kata dia, menghasilkan cita rasa yang menjadi favoritnya. Minuman ini tidak hanya memberi Caesar energi, tetapi juga membantunya fokus ketika belajar atau mengerjakan tugas. Begitu juga ketika stres, secangkir kopi sering kali menjadi pelarian terbaik untuk menenangkan pikiran.
“Selain rasa dari kopi itu sendiri, saya juga menikmati suasana kedai kopi. Suasana yang berbeda dari rumah membuat aktivitas menikmati kopi semakin asyik. Di sana, saya bisa belajar, atau sekadar menikmati waktu sendiri dengan nyaman. Selain itu, nongkrong bersama teman-teman sambil berbincang santai di kedai kopi adalah salah satu cara terbaik untuk melepaskan penat,” bebernya.
Namun, ada kalanya ia merasa terlalu bergantung pada kopi. Untuk mengatasi hal ini, Caesar belajar mengontrol kebiasaannya itu. Salah satu cara yang ia lakukan adalah memastikan minum air putih setiap kali merasa haus. Dengan begitu, ia berhasil menjaga keseimbangan antara menikmati kopi dan menjaga kesehatan.
Rahmanillah Ananda Maharani, mahasiswi semester 5, Universitas Borneo Lestari, Kalsel

“Awalnya, saya suka kopi sekadarnya saja. Namun, sejak masuk kuliah, saya mulai menemukan jenis kopi yang benar-benar pas di lidah, seperti cafe latte. Walau begitu, saya minum kopi tergantung suasana hati. Kalau lagi lelah tapi masih ada tugas yang harus diselesaikan, minum kopi sering kali jadi penambah semangat. Saya pribadi tidak terlalu sering nongkrong di coffee shop. Lebih sering bikin kopi sendiri di rumah karena terasa lebih hemat dan sesuai selera,” papar Rahmanillah kepada wartawan KAMU KUAT!.
Menurutnya, jelas lebih hemat jika membuat kopi sendiri di rumah. Selain bisa mengontrol rasa dan bahan, kita juga lebih fleksibel menentukan waktu untuk menikmatinya. Namun, sesekali ia membeli kopi di luar. Apalagi sambil nongkrong dengan teman, tetap bisa jadi pengalaman menyenangkan. Selain itu, ia percaya, kopi lebih baik dianggap sebagai bagian dari gaya hidup, bukan kebutuhan. Jika terlalu bergantung pada kopi, ada risiko kecanduan atau konsumsi berlebihan yang bisa mengganggu kesehatan.
Saeful Ahmad Akbar, mahasiswa semester 4 Universitas Kesatuan, Bogor

Mahasiswa satu ini mengaku menyukai kopi karena aromanya yang khas dan rasanya yang bisa bikin tenang atau semangat. Namun, kata Saeful, tergantung kapan tepatnya waktu kopi diminum. Ia mengakuu menjadikan kopi hitam sebagai kopi favorit dan membuatnya tidak mengantuk. Namun, lanjutnya, jika sedang santai, kopi susu jadi pilihan yang enak.
“Tempat nongkrong favorit ngopi di warkop itu asik buat suasana. Apalagi kalau pengen sambil nongkrong bareng temen-temen. Tapi kalau lagi pengen hemat atau santai di rumah bareng temen juga tetep asik. Sambil ngopi, aku suka sambil main game. Rasanya kopi itu jadi pelengkap buat apa pun. Kopi selalu bantu bikin aku fokus dan lebih semangat, terutama pas kerja atau belajar. Tapi aku juga batesin, soalnya kalau kebanyakan malah jadi susah tidur,” ungkapnya.
Hadi Akbar, Owner Kuminumi Coffee

Keunikan tren kopi saat ini adalah adanya berbagai jenis tempat usaha yang menawarkan pengalaman berbeda. Misalnya, warkop sederhana yang menggunakan kopi sachet, tetapi menyediakan tempat nyaman, live music, hingga fasilitas foto yang menarik. Untuk remaja, sering kali tempat usaha menjadi daya tarik utama. Lokasi yang estetik lebih diprioritaskan dibandingkan cita rasa kopi itu sendiri, karena tujuan utamanya adalah nongkrong dan bersosialisasi bersama teman.
Di sisi lain, ada juga kedai kopi yang mengutamakan kualitas biji kopi dan peralatan, seperti menggunakan biji kopi Arabika. Arabika lebih digemari karena kafeinnya rendah dan rasanya lebih halus, sehingga cocok dinikmati oleh berbagai kalangan. Sebaliknya, kopi robusta cenderung lebih pahit dengan kadar kafein yang lebih tinggi, sehingga lebih disukai oleh mereka yang mencari rasa kopi yang kuat. Selain itu, pelaku usaha perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kualitas rasa, desain tempat, dan strategi pemasaran untuk menjangkau lebih banyak pelanggan.
Sebagai penikmat kopi, penting untuk menikmati tren ini dengan bijak. Selain memikirkan gaya hidup dan sosial, jangan lupa memperhatikan kesehatan agar kopi tetap menjadi teman yang menyenangkan tanpa dampak buruk di kemudian hari.
Dimas, Store Supervisor Tomoro coffee

Salah satu faktor yang mendorong popularitas kopi adalah menjamurnya coffee shop. Hampir di setiap sudut kota, kita bisa menemukan kedai kopi, baik yang berkonsep mewah maupun yang sederhana seperti gerobak kopi ala merek-merek terkenal. Bahkan, banyak coffee shop yang didesain dengan konsep menarik dan estetik, sehingga memudahkan orang-orang untuk menemukan tempat sesuai kebutuhan mereka, baik untuk bekerja, belajar, atau sekadar bersantai.
Banyak orang awalnya hanya mencoba kopi karena merasa Fomo (fear of missing out). Mereka ingin tahu sensasi nongkrong di coffee shop baru yang sedang viral. Namun, tak jarang kebiasaan ini berlanjut hingga akhirnya menjadi rutinitas. Ada yang bahkan mengonsumsi kopi lebih dari sekali dalam sehari.
Setiap orang punya alasan dan cara berbeda menikmati kopi, Ada yang menjadikan kopi sebagai teman setia saat mengerjakan tugas, Ada pula yang sekadar mampir, menyeruput satu gelas, lalu pulang, Sebagian memanfaatkan coffee shop sebagai tempat bekerja dengan suasana baru, ada ada juga yang menjadikan kopi sebagai teman ngobrol seru sambil bergosip.
Cara mempromosikan dan memperkenalkan dan mempertahankan store biasanya dengan berbagai cara. Seperti mengadakan promo menarik, seperti buy one get one atau diskon khusus di jam tertentu, Join event atau bazaar, untuk memperkenalkan produk kepada lebih banyak orang. Person to person marketing, di mana pelanggan yang puas akan merekomendasikan kopi tersebut kepada teman-temannya. Endorsement, terutama melalui influencer atau content creator. Flyering, membagikan brosur atau voucher diskon untuk menarik pelanggan baru. Strategi CAC (customer acquisition cost), meskipun ini cukup berisiko, tetap bisa mendatangkan pelanggan baru jika dijalankan dengan baik.
So, apa kamu juga suka ngopi? Kopi apa yang kamu suka dan seperti apa pengalamanmu, tulis dong di kolom komentar! (Resty)













Discussion about this post