KAMU KUAT – Jakarta
Pernah merasa terjebak dalam pikiran yang terus berputar tanpa henti? Jika iya, mungkin kamu sedang mengalami overthinking. Sebagai remaja, overthinking sering kali muncul karena tekanan dari diri sendiri atau lingkungan sekitar. Bahkan, pengalaman pribadi sering menjadi salah satu pemicunya.
Misalnya, ada saat ketika kita merasa sangat yakin bahwa kita mampu menghadapi segala hal, tapi ternyata kurang mempertimbangkan kendala yang mungkin muncul. Ketika masalah itu akhirnya datang, kita malah menyalahkan diri sendiri tanpa henti. Pikiran seperti, “Kenapa aku nggak mikir ini dari awal?” atau “Seharusnya aku bisa lebih baik”, terus mengisi kepala hingga kita merasa lelah.
Dikutip dari laman Halodoc, overthinking adalah memikirkan atau mempertimbangkan sesuatu secara berlebihan atau berulang-ulang. Seseorang yang mengalami overthinking suka menganalisis berlebihan, merefleksikan sesuatu secara berlebihan, atau khawatir akan sesuatu secara berlebihan. Mereka terus terjebak dalam lingkaran pikiran yang sulit dihentikan, sehingga mengganggu kesehatan mental dan emosionalnya.
So, bagaimana pendapat beberapa anak muda tentang overthinking dan pengalaman mereka? Kepada kanal remaja dan anak muda KAMU KUAT! mereka berbagi cerita.
Aida Lutpia Octaviani, mahasiswa semester 7, jurusan Ilmu Komunikasi, Tanri Abeng University

Ketika sedang overthinking, mahasiswi satu ini mengakui bahwa “fokus” menjadi hal pertama yang hilang. “Saya merasa sulit untuk langsung menyelesaikan pekerjaan karena pikiran saya perlu dikendalikan lebih dulu. Namun, saya punya beberapa cara untuk mengatasi situasi ini agar tidak terus berlarut-larut,” ujar Aida.
Ia selalu mencoba memberikan afirmasi positif pada diri sendiri. Kata-kata seperti, “Aku pasti bisa melewati ini” atau “Semua akan baik-baik saja” membantu Aida merasa lebih tenang. Jika overthinking sudah terlalu mengganggu hingga ia tidak bisa fokus sama sekali, Aida biasanya memilih untuk istirahat sejenak. Dalam momen tersebut, ia tetap memberi afirmasi positif sambil menenangkan diri.
Selain itu, Aida bercerita kepada teman yang ia percaya. Curhat membantunya meluapkan emosi dan mendapatkan sudut pandang baru yang lebih menenangkan. “Kadang, saya juga curhat ke AI siapa tahu bisa memberikan sedikit solusi, Setelah perasaan lebih lega, saya biasanya bisa melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda,” ungkapnya.
Motivasi terbesarAida biasanya datang dari orang tua atau teman dekat. Mereka memberikan dukungan yang membuatnya merasa lebih kuat.
“Di sisi lain, saya selalu mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa masalah ini hanyalah bagian dari perjalanan hidup. Life must go on. Saya mengingatkan diri bahwa saya pernah melalui banyak tantangan sebelumnya, dan semuanya berlalu. Jadi, apa pun yang saya hadapi saat ini, saya pasti bisa mengatasinya juga,” ujar mahasiswi semester 7.
Dari pengalaman itu, Aida belajar bahwa overthinking memang hal yang sulit dihindari, tetapi bisa dikendalikan. Dengan cara yang tepat memberi waktu pada diri sendiri, mencari dukungan, dan tetap berpikir positif kita bisa menghadapi pikiran-pikiran yang terlalu sibuk dan kembali fokus pada apa yang benar-benar penting.
“Jadi, ketika overthinking mulai datang, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Beri jeda, bernapas, dan yakinkan dirimu bahwa semua akan berlalu. Karena, seperti yang selalu saya yakini, kita lebih kuat dari apa yang kita pikirkan,” tutupnya.
Alfonsus Sean Prayoga Vinardianto, mahasiswa semester 3, Ilmu Komunikasi, di Universitas Pancasila.

“Saya sendiri pernah terjebak dalam siklus overthinking, terutama saat menghadapi tekanan akademik. Sebagai mahasiswa yang aktif di berbagai kegiatan, mulai dari organisasi hingga pekerjaan paruh waktu, waktu terasa sangat padat. Namun, salah satu pemicu terbesar overthinking bagi saya adalah tugas kelompok,” beber mahasiswa yang aktif di organisasi SEMA Fikom KMUP.
Sebagai contoh, ia menceritakan tentang pembagian tugas tidak selalu adil dalam satu kelompok yang terdiri dari lima orang, Ada kalanya ia harus mengerjakan sebagian besar tugas sendirian karena anggota lain bersikap apatis. Ini membuat dia sering menyalahkan diri sendiri, merasa takut kalau hasil tugas tidak maksimal dan akan memengaruhi nilai.
Selain itu, ia sering begadang untuk memastikan semuanya selesai, meskipun kesehatan menjadi taruhannya. Pikiran seperti, “Apakah yang saya lakukan cukup baik?” atau “Bagaimana kalau tugas ini gagal?” terus berputar di kepala, membuat stres semakin parah.
“Namun, saya sadar bahwa membiarkan overthinking mengambil alih hidup bukanlah solusi. Untuk itu, saya mencoba beberapa cara sederhana untuk mengatasinya. Salah satunya adalah memberikan afirmasi positif kepada diri sendiri. Saya selalu mengingatkan bahwa tidak semua hal ada di bawah kendali saya, dan itu tidak apa-apa,” jelas mahasiswa yang juga brand ambassador ilmu komunikasi di kampusnya itu.
Selain itu, Sean juga mencoba motoran malam atau mendengarkan musik untuk menyegarkan pikiran. Ada kalanya, mengunjungi tempat baru membantunya melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Tidak kalah penting, Sean sering bercerita kepada orang-orang terdekat, seperti keluarga atau teman. Curhat menjadi cara efektif untuk meluapkan emosi dan mendapatkan dukungan.
Haryo Bimo Ardianto, mahasiswa semester 7, Ilmu komunikasi, di Universitas Tanri Abeng

“Saya pribadi pernah berada di fase ini. Saat merasa sepi, pikiran saya sering terjebak dalam hal-hal yang seharusnya tidak perlu dikhawatirkan. Namun, saya belajar bahwa melakukan kegiatan positif bisa menjadi cara efektif untuk mengalihkan perhatian dari overthinking. Contohnya, saat ini saya sering bertemu teman dan mengerjakan skripsi. Dengan fokus pada hal-hal produktif, saya jadi jarang merasa overthinking, meskipun tetap ada momen-momen tertentu di mana pikiran itu muncul,” ujar Bimo
Salah satu pengalaman paling berat terkait overthinking adalah saat Bimo harus memutuskan kuliah. Pikiran seperti, “Apakah saya bisa menjalani kuliah dengan baik?” atau “Bagaimana kalau saya salah memilih jurusan?” terus menghantui. Ditambah lagi, kebingungan memilih universitas membuatnya semakin stres.
Butuh waktu sekitar satu bulan untuk mengatasi overthinking itu. “Saya mencoba memikirkan secara matang pilihan-pilihan yang ada, sambil berdiskusi dengan orang-orang terdekat. Akhirnya, saya berhasil menentukan pilihan dengan lebih tenang, meskipun tetap ada momen-momen tertentu di mana pikiran itu muncul,” katanya.
Saat ini, teman dekat adalah sosok yang paling membantu Bimo menghadapi overthinking. Reaksi mereka yang menenangkan serta saran-saran yang mereka berikan sangat membantunya melihat masalah dari sudut pandang yang lebih rasional.
Ia juga menyadari pentingnya berbagi cerita. Ketika ia merasa overthinking, Bimo selalu menceritakan apa yang dirasakannya kepada orang-orang yang dipercaya. Tindakan sederhana ini membuat beban pikiran terasa lebih ringan.
“Dulu, dampak overthinking sangat terasa dalam hidup saya. Pola tidur saya berantakan, hingga terbiasa tidur pagi karena malamnya saya terlalu sibuk memikirkan banyak hal,” ujarnya.
Saat ini, meskipun overthinking masih sesekali muncul, dampaknya tidak separah dulu. Pola tidur pun mulai membaik, dan Bimo semakin terbiasa menghadapi pikiran-pikiran berlebihan dengan cara yang lebih sehat. Seiring waktu, Bimo mulai belajar mengatasinya.
Menurut Bimo, Pengalaman ini mengajarkan bahwa overthinking adalah hal yang wajar, tetapi harus dikelola dengan baik. Melakukan kegiatan positif, berbicara dengan orang yang dipercaya, dan menerima saran dari orang terdekat adalah cara-cara yang bisa membantu.
Keysa Alfiani Natasya, mahasiswi semester 1, Manajemen, di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor
Overthinking menurut Keysa adalah hal yang sering kali terasa berat dan menguras energi. “Saya sendiri lumayan sering mengalami overthinking, bahkan terkadang dari berbagai aspek kehidupan. Mulai dari hal-hal eksternal seperti pertemanan, nilai akademik, hingga masalah keluarga, sampai ke hal internal seperti rasa kurang puas terhadap diri sendiri. Semua itu sering membuat saya merasa insecure,” ungkapnya.
Salah satu momen paling berat adalah ketika overthinking berpengaruh pada kesehatan, hingga berat badannya turun drastis. Pikiran-pikiran negatif yang terus-menerus muncul membuatnya merasa tertekan.
“Dulu, cara saya menghadapi overthinking lebih kepada mengekspresikan emosi. Hampir setiap malam, saya menangis sebagai pelampiasan. Namun, seiring waktu, saya mulai belajar mengelola pikiran itu dengan lebih baik. Sekarang, saya mencoba mengalihkan perhatian dengan melakukan kegiatan yang membuat saya sibuk, sehingga tidak terus-menerus terpaku pada overthinking,” ucapnya.
Ketika merasa tertekan, tempat curhat menjadi hal yang sangat penting. Keysa sering bercerita kepada guru les yang bernama Kak Ica, yang selalu memberikan dukungan dan saran. Selain itu, dia juga terkadang berbagi cerita dengan bunda. Namun, ada kalanya Keysa merasa ragu untuk menceritakan semuanya kepada mereka karena khawatir akan menambah beban mereka.
“Itulah mengapa, sering kali saya lebih memilih menyimpan semuanya sendiri. Saya merasa lebih nyaman memendam perasaan daripada membebani orang lain. Meski begitu, saya sadar bahwa memendam terlalu banyak juga tidak baik untuk kesehatan mental,” lanjutnya.
Sementara itu, imbuhnya, bercerita kepada teman tidak selalu menjadi pilihan baginya. Ada pengalaman kurang menyenangkan yang membuat Keysa lebih berhati-hati dalam mempercayai orang lain. Pengalaman itu membuat Keysa lebih selektif dalam menentukan kepada siapa ia bisa benar-benar membuka diri.
Menurut Keysa, menghadapi overthinking adalah proses yang membutuhkan waktu dan usaha. Baginya, langkah kecil seperti mencari kegiatan positif menjadi kunci untuk melawan pikiran-pikiran negatif. Dengan menjaga diri tetap sibuk, pikirannya tidak terus-menerus terjebak dalam kekhawatiran yang berlebihan.
“Selain itu, saya juga belajar untuk menerima bahwa overthinking adalah bagian dari perjalanan hidup. Tidak apa-apa merasa sedih atau tertekan sesekali, tetapi penting untuk tidak membiarkannya menguasai,” tegasnya.
Wow, dari semua pengalaman anak muda di kanal KAMU KUAT! avesiardotcom dapat disimpulkan bahwa overthinking bisa terjadi pada siapa saja dan disebabkan oleh banyak faktor. Namun, dengan dukungan dari orang-orang terdekat dan upaya untuk terus bangkit, kita bisa mengatasinya sedikit demi sedikit.
Jika kamu juga sering merasa overthinking, cobalah untuk mencari tempat curhat yang nyaman, lakukan kegiatan positif, dan yakin bahwa kamu bisa melaluinya dengan baik-baik saja. Keep the spirit! (Resty)













Discussion about this post