KAMU KUAT – Jakarta
Di era digital ini, globalisasi dan kemajuan teknologi membawa perubahan besar dalam gaya hidup generasi muda. Banyak remaja lebih fokus pada gadget mereka dan lebih tertarik mengikuti tren terbaru yang dianggap lebih seru dan menarik. Tantangan besar dengan masuknya budaya asing melalui media sosial dan hiburan global.
Akibatnya, budaya daerah mulai terpinggirkan karena kalah saing dengan konten dari media sosial dan dunia maya. Namun, apakah budaya daerah benar-benar mulai pudar di kalangan remaja, atau masih tetap melekat meskipun dengan perubahan?
Berikut pandangan dari para remaja kepada kanal remaja dan anak muda berdaya KAMU KUAT! Avesiar.com.
Paulus Jovandra Radhika Daneswara (Jovan), siswa kelas 7, SMP Negeri 2 Bantul

Menurut Jovan, eksistensi budaya daerah masih cukup melekat di kalangan remaja, meskipun tidak sekental zaman dahulu. “Munculnya budaya dari luar negeri memang memberikan pengaruh besar,” ujarnya.
Namun, ia tetap menggunakan bahasa daerah saat berbicara dengan teman-temannya, seperti bahasa Jawa.
Ketika ditanya tentang pentingnya melestarikan budaya daerah di era modern, ia menegaskan bahwa hal tersebut sangat penting. “Melestarikan budaya daerah berarti mempertahankan identitas dan menghargai sejarah,” katanya.
Sayangnya, ia juga menyadari bahwa pengaruh media sosial dan kurangnya edukasi membuat banyak remaja semakin jauh dari budaya mereka sendiri.
Jika seseorang memiliki niat untuk mempelajari budaya daerah, lanjutnya, maka hal itu bisa membantu pelestariannya. Sebaliknya, jika tidak ada ketertarikan sama sekali, budaya luar yang mendominasi media sosial bisa menggantikan budaya lokal. Namun, Jovan tetap optimis karena di beberapa daerah, seperti Yogyakarta, budaya masih dipertahankan dengan baik, misalnya melalui kewajiban memakai pakaian adat dalam acara tertentu.
Almira Salma Aulia, siswi kelas 11, SMKN 3 Tangerang Selatan

Pendapat lainnya dari Almira, bahwa media sosial memiliki pengaruh besar dalam pergeseran minat generasi muda. “Mereka lebih tertarik dengan apa yang sedang viral di dunia maya dibandingkan kegiatan kebudayaan tradisional. Hal ini menjadi tantangan besar dalam upaya pelestarian budaya daerah,” ujarnya.
Namun, bukan berarti budaya daerah tidak bisa bersaing dengan tren modern. Ada berbagai cara kreatif yang bisa dilakukan agar budaya tetap menarik bagi generasi muda. Salah satu ide menarik yang diusulkan adalah membuat event cosplay dengan pakaian bertema adat daerah. “Dengan event seperti ini, budaya daerah bisa dikemas dalam bentuk yang lebih menarik bagi anak muda,” katanya.
Selain cosplay, kata Almira, acara tersebut bisa dikombinasikan dengan kegiatan lain, seperti festival makanan khas daerah atau lomba menggambar dengan tema kebudayaan tradisional. Dengan cara ini, budaya daerah bisa lebih mudah diterima dan dinikmati oleh kalangan remaja yang cenderung lebih visual dan aktif di media sosial.
Menggunakan media sosial sebagai alat promosi budaya juga dianggap sebagai strategi yang efektif. Dengan pendekatan yang sesuai dengan gaya hidup anak muda saat ini, budaya tradisional tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga berkembang dan dikenal lebih luas. “Kalau dikemas dengan cara yang kreatif, budaya daerah bisa tetap eksis dan bahkan viral,” tambahnya.
Jadi menurut Almira, di tengah gempuran tren global, budaya daerah tetap bisa dilestarikan dengan inovasi yang sesuai dengan zaman. Kuncinya adalah bagaimana mengemasnya agar tetap menarik dan relevan bagi generasi muda.
Elizabeth Dyandra Ayofra Fedya, mahsiswi semester 2, Prodi PGSD Universitas Sanata Dharma

Dyandra menyampaikan bahwa meskipun budaya modern semakin berkembang, budaya daerah masih cukup kental, terutama dalam acara adat seperti pernikahan dan lelayu (upacara kematian).
“Sebagian besar masih menggunakan bahasa Jawa sebagai sambutan. Selain itu, tradisi seperti nyadran (menyambut bulan Ramadan) dan sawalan (perayaan setelah Idulfitri) juga masih dijalankan,” ujarnya.
Walaupun ada tanda-tanda pergeseran budaya, sebagian remaja di daerahnya masih menunjukkan kepedulian terhadap warisan budaya. Dalam acara di kampung, seperti peringatan 17 Agustus, kesenian dan budaya daerah masih sering ditampilkan. Ini menunjukkan bahwa budaya lokal belum sepenuhnya ditinggalkan oleh generasi muda.
Namun, tantangan besar tetap ada, terutama karena perkembangan teknologi yang sulit dikendalikan. Pengaruh budaya luar yang masuk melalui media sosial dan hiburan digital sering kali membuat budaya daerah kalah bersaing dalam menarik minat remaja.
Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah mengombinasikan budaya daerah dengan unsur modern agar lebih menarik bagi generasi muda. “Jika dikemas dengan cara yang lebih fleksibel dan tidak terlalu kaku, budaya daerah bisa tetap relevan di era digital ini,” tambahnya.
Misalnya, pertunjukan seni tradisional bisa dikombinasikan dengan musik modern, atau festival budaya dapat dibuat lebih interaktif dengan melibatkan media sosial. Dengan cara ini, budaya lokal tidak hanya bertahan tetapi juga bisa berkembang dan diterima lebih luas oleh generasi muda.
Meski modernisasi tidak bisa dihindari, budaya daerah tetap memiliki tempatnya sendiri. Dengan inovasi dan keterbukaan terhadap perkembangan zaman, budaya tradisional bisa tetap hidup dan diwariskan ke generasi berikutnya.
Meski modernisasi terus berkembang, budaya daerah tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Dengan mengombinasikan unsur tradisional dan modern, budaya lokal bisa tetap eksis dan menarik bagi generasi muda. Yang terpenting adalah kesadaran untuk terus melestarikan warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman.
Kalau di tempat kamu seperti apa ya, Guys? Silahkan sampaikan di kolom komentar yang ada di bawah berita ini. (Resty)











Discussion about this post