KAMU KUAT – Jakarta
Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja masa kini. Dari sekadar scrolling hingga berbagi konten, platform seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp sudah menjadi ruang ekspresi dan komunikasi yang luas. Tetapi, seberapa besar pengaruh media sosial terhadap remaja. Namun, bagaimana sebenarnya dampaknya? Apakah lebih banyak manfaat atau justru tekanan yang muncul?
Berikut beberapa pendapat dari para remaja menyikapi peranan media sosial yang makin berkembang.
Saskia Atha Faliza, siswi kelas 12, SMA Negeri 31 Jakarta

Saskia mengungkapkan bahwa dirinya bisa menghabiskan sekitar 17 jam sehari di media sosial, termasuk saat di sekolah. Aktivitas yang dilakukan pun beragam, mulai dari scrolling, chatting, hingga sesekali posting. Media sosial dianggap sebagai tempat yang memperluas akses informasi dan koneksi sosial.
“Banyak sih manfaatnya, bisa memperluas informasi, menjalin hubungan dengan teman atau keluarga, serta bebas berekspresi lewat platform yang ada,” ujarnya.
Selain itu, media sosial juga bisa meningkatkan rasa percaya diri, terutama saat harus tampil di depan orang banyak. Namun, semua tergantung pada bagaimana cara seseorang menggunakannya.
“Depends, Sesuai kita menggunakan dengan bijak atau tidak. Tapi menurut saya, media sosial banyak memberikan manfaat positif karena banyak informasi penting seperti pendidikan,” tambahnya.
Meski media sosial membawa banyak manfaat, ada juga risiko yang mengintai, salah satunya cyberbullying. Meski belum pernah mengalaminya secara langsung, remaja ini sadar bahwa banyak kasus perundungan online terjadi di kalangan anak muda.
“Saya pribadi tidak pernah mengalami cyberbullying secara langsung, tapi saya tahu banyak kasus yang terjadi, terutama di kalangan remaja. Cara saya menghadapinya mungkin dengan memberikan edukasi kepada pelaku serta memberikan dukungan kepada korban,” jelasnya.
Selain itu, ia juga berhati-hati dalam menjaga privasi dan keamanan akun.
“Saya tidak sembarangan membagikan data pribadi seperti alamat, nomor telepon, atau info sekolah di media sosial. Saya juga selalu berhati-hati dalam menjaga privasi akun.”
Di tengah kesibukan scrolling dan chatting,
Saskia juga sesekali membuat konten di TikTok, meskipun sifatnya masih random.
“Konten TikTok sih random aja. Mungkin seperti makeup,” katanya.
Meskipun sederhana, hal ini menunjukkan bagaimana media sosial menjadi wadah bagi remaja untuk berekspresi dan mengeksplorasi kreativitas mereka.
Nur Dewi Indriani, mahasiswa semester 6, Fakultas Hukum, Universitas Pamulang

Dewi berbagi pengalamannya tentang penggunaan media sosial. Ia menghabiskan sekitar 3 hingga 4 jam sehari untuk scrolling, chatting dengan teman dan keluarga, serta memposting momen spesial seperti perjalanan atau kegiatan menarik.
“Tentu saja, waktu ini bisa berbeda-beda tergantung aktivitas saya hari itu. Kalau lagi santai atau ada banyak konten menarik, bisa lebih lama, tapi kalau sedang sibuk, bisa lebih singkat juga,” ujarnya.
Bagi banyak remaja, media sosial bukan hanya tempat untuk mencari hiburan, tetapi juga sebagai sumber informasi dan inspirasi.
Remaja ini menyadari bahwa media sosial memiliki dua sisi. Di satu sisi, platform ini dapat menjadi tempat yang penuh manfaat. “Banyak remaja yang menemukan komunitas atau konten yang mendukung pengembangan diri dan kreativitas mereka,” katanya.
Namun, di sisi lain, media sosial juga bisa menimbulkan tekanan.
“Ada perasaan harus selalu tampil sempurna atau mengikuti tren tertentu. Hal ini bisa mempengaruhi kesehatan mental jika tidak bijak dalam menggunakannya,” tambahnya.
Meski begitu, ia sendiri tidak pernah merasa insecure karena media sosial.
“Justru, saya lebih sering merasa terinspirasi oleh konten-konten yang saya temui. Banyak video atau postingan dari creator yang memberikan motivasi dan tips pengembangan diri,” ungkapnya.
Bagi sebagian remaja, media sosial justru bisa meningkatkan rasa percaya diri.
“Saya merasa lebih percaya diri ketika berbagi pencapaian kecil atau hal-hal yang saya banggakan dengan teman-teman di media sosial, karena mereka memberikan dukungan positif,” katanya.
Selain itu, ia juga mulai membuat konten sendiri.
“Saya juga suka membuat video dan membagikannya. Harapan saya, video-video saya bisa bermanfaat dan memberi inspirasi kepada orang lain, seperti halnya konten-konten yang saya temui.”
Menurutnya, media sosial bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat jika digunakan dengan cara yang tepat.
“Banyak remaja yang mendapatkan inspirasi, informasi berguna, dan kesempatan untuk mengembangkan diri lewat media sosial,” jelasnya.
Bahkan, banyak content creator yang berhasil mendapatkan penghasilan dari konten mereka.
“Ini membuka peluang bagi remaja untuk berkarya, mengembangkan bakat, dan mendapatkan penghasilan,” tambahnya.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa ada sisi negatif yang perlu diwaspadai, seperti tekanan sosial dan paparan konten yang tidak sehat.
“Kuncinya adalah menjaga keseimbangan, memilih konten yang positif, dan selalu berhati-hati dengan informasi yang kita konsumsi atau bagikan.” Ujar Dewi menutup wawancara
Muhammad Faathin Naufal, mahasiswa semester 2, Universitas Multimedia Nusantara

Naufal ini mengaku aktif di Instagram dan Rednote, dengan waktu penggunaan sekitar 2–3 jam sehari. “Biasanya saya sekadar menonton hiburan di waktu kosong saat kuliah atau mencari ide konten untuk saya buat. Saya lebih memilih menonton video di YouTube dibanding scrolling media sosial,” katanya.
Sebagai mahasiswa informatika, ia tidak hanya menggunakan media sosial untuk hiburan, tetapi juga menjadikannya sebagai bahan penelitian.
“Ini pernah saya jadikan riset untuk proyek akhir semester 1, di mana kami menemukan bahwa setiap platform media sosial memiliki karakteristik audiens yang berbeda-beda. Banyak yang membandingkan antara pengguna TikTok, X, dan Instagram,” ungkapnya.
Dari riset tersebut, ia menyadari bahwa dampak media sosial sangat bergantung pada latar belakang individu yang menggunakannya.
“Banyak pengguna, terutama Gen Z, yang mudah terpengaruh oleh pernyataan atau ‘fakta’ di media sosial, meskipun tidak memiliki sumber dan data yang valid. Akibatnya, media sosial dijadikan patokan atau standar dalam kehidupan,” jelasnya.
Menurutnya, hal ini menunjukkan betapa pentingnya sistem content filtering, agar informasi yang tersebar lebih akurat dan tidak menyesatkan.
Sebagai mahasiswa informatika, ia memiliki pandangan yang cukup tegas terhadap keamanan media sosial.
“Saya bisa mengatakan bahwa media sosial sama sekali tidak aman, karena terlalu mudah mendapatkan informasi pribadi seseorang secara online,” ujarnya.
Ia bahkan pernah menjadi korban pencurian data secara online.
“Jejak digital itu nyata, dan siapa pun bisa mengaksesnya. Sering kali, informasi tersebut diperjualbelikan di pasar gelap online,” ungkapnya.
Dosen-dosennya pun pernah menjelaskan bahwa hal ini menjadi semakin umum. Salah satu indikasinya adalah banyaknya spam messages atau pesan dari nomor tak dikenal yang sering dikaitkan dengan scam, judi online, atau bentuk penipuan lainnya.
“Saya kurang bisa menjelaskan secara teknis bagaimana cara mereka melakukan ini, tapi yang jelas, keamanan di media sosial sangat rentan,” tambahnya.
Media sosial memiliki dampak besar bagi remaja, baik positif maupun negatif. Dengan penggunaan yang bijak, platform ini bisa menjadi alat untuk mendapatkan informasi, memperluas relasi, serta meningkatkan rasa percaya diri. Namun, penting juga untuk tetap waspada terhadap risiko seperti cyberbullying dan menjaga privasi dengan baik.
Pada akhirnya, media sosial adalah alat yang kekuatannya tergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Jadi, gunakan dengan bijak dan tetap waspada!
Media sosial adalah alat yang bisa memberikan manfaat besar atau justru membawa dampak negatif—semuanya tergantung bagaimana kita menggunakannya. Dengan bijak memilih konten, menjaga keseimbangan, serta memanfaatkan media sosial untuk hal-hal yang positif, remaja bisa mendapatkan banyak manfaat tanpa harus terjebak dalam tekanan yang berlebihan.
Media sosial memiliki dua sisi: bisa menjadi alat yang bermanfaat untuk hiburan, informasi, dan riset, tetapi juga menyimpan ancaman keamanan yang tidak boleh diabaikan. Dengan meningkatnya kasus pencurian data dan penyebaran informasi yang tidak valid, pengguna terutama generasi muda harus lebih berhati-hati dan bijak dalam menggunakan media sosial. (Resty)













Discussion about this post