• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT!
    • Kanal Kamu Kuat
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Citizen Journalism & Video Cerpen dan Puisi

Cerpen: Pelangi dalam Secangkir Kopi (bagian 2)

by Avesiar
12 Februari 2025 | 12:30 WIB
in Cerpen dan Puisi
Reading Time: 4 mins read
A A
Cerpen: Pelangi dalam Secangkir Kopi (bagian 2)

Ilustrasi. Foto: Freepik & ist. Kolase: Avesiar.com

Avesiar – Cerpen dan Puisi

Pelangi dalam Secangkir Kopi (bagian 2)

Oleh: Mas Ngabehi

********************

“Ini luar biasa,” kata perempuan itu, masih dengan senyuman yang memikat. “Saya merasa seperti menemukan sesuatu yang lebih dari sekedar kopi.“

Andra terkejut. “Lebih dari sekedar kopi?” ia bertanya, ingin tahu apa yang dimaksud perempuan itu.

“Ya,” jawab perempuan itu, “Kopi ini seperti sebuah pelangi yang muncul di tengah hujan. Saya merasa seperti menemukan sedikit kebahagiaan di dalam hidup yang terkadang begitu kelabu.”

Andra terdiam, merenung. Ia merasa ada sesuatu yang mendalam dalam ucapan perempuan itu, sesuatu yang selama ini ia cari tanpa sadar. Pelangi dalam secangkir kopi, begitu sederhana namun begitu dalam maknanya.

Bacaan Terkait :

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 3, habis)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 2)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 1)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya,Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 3, habis)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 2)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 1)

Cerpen: Saat Takdir Bertaut di Mihrab Cinta (bagian 4, habis)

Load More

Pagi itu, seperti pagi-pagi lainnya, Andra menyambut pelanggan yang datang satu per satu dengan senyum yang tulus. Meski ia bukan orang yang terbuka, ada ketenangan yang ia temui dalam menjalani rutinitas harian di kedai kopinya. Kopi, baginya, adalah teman sejati yang selalu memberikan ketenangan di tengah hiruk-pikuk dunia. Namun, hari itu, suasana terasa sedikit berbeda.

Seorang perempuan muda memasuki kedai dengan langkah ringan, membawa semacam energi yang kontras dengan atmosfer biasa di kedai itu. Rini, namanya. Seorang desainer grafis berusia 25 tahun yang, seperti banyak orang lain, terperangkap dalam dunia perkantoran yang membosankan.

Rini mengenakan pakaian kasual dengan jaket berwarna cerah, dan matanya yang cerah memancarkan semangat yang berbeda dari kebanyakan pelanggan yang datang ke kedai ini.Setelah meletakkan tasnya di samping meja dan duduk di dekat jendela, Rini memandang Andra yang sedang meracik kopi di belakang bar. Tak lama, Andra mendekat dengan secangkir kopi hitam panas yang baru saja ia buat, dan meletakkannya di meja Rini.

“Selamat pagi,” ucap Andra dengan suara lembut, memecah keheningan yang biasanya menyelimuti kedai itu.

Rini tersenyum, matanya menyiratkan kelelahan meskipun senyumnya tampak tulus. “Pagi juga,” jawabnya sambil mengangguk. “Saya sering datang ke sini. Tempat ini punya aura yang berbeda.”

Andra hanya mengangguk dan melangkah mundur ke balik bar, namun matanya tak bisa lepas dari Rini yang memandangi kopi di depannya dengan tatapan kosong. Sebuah keheningan yang membuat Andra merasa ada sesuatu yang tidak biasa di balik wajah ceria perempuan itu.

Setelah beberapa saat, Rini memandang Andra dan berkata, “Kopi ini luar biasa. Tapi rasanya… saya merasa seperti sedang menunggu sesuatu yang tidak datang. Hidup saya seperti kopi ini, hanya ada rasa tanpa seni. Tanpa warna.”

Andra terkejut mendengar ucapan itu. Untuk sesaat, ia merasa seperti mendengar cerminan dirinya sendiri dalam kata-kata Rini. “Maksudmu?” tanya Andra, mencoba membuka percakapan lebih lanjut.

Rini menghela napas panjang, lalu menatap Andra dengan serius. “Saya bekerja di kantor, setiap hari seperti itu saja—rapat, pekerjaan yang tidak ada habisnya, dan hidup yang berjalan begitu cepat. Saya punya segalanya—pekerjaan yang baik, gaji yang besar, dan hidup yang tampaknya sempurna. Tapi, kenapa saya merasa kosong? Kenapa saya tidak merasa hidup?”

Andra memandangnya dalam-dalam. Ada sesuatu dalam diri Rini yang membuatnya ingin berbagi kisah hidupnya sendiri. Tanpa sadar, ia mulai bercerita, pertama-tama dengan suara pelan, seakan mengenang masa lalu yang tak pernah bisa ia lupakan.

“Saya pernah merasa seperti itu,” kata Andra, “Hidup yang tampaknya sempurna, tapi tetap ada kekosongan di dalamnya. Saya lahir dan besar di desa, dengan hidup yang sederhana. Di sana, segalanya lebih lambat, lebih terhubung dengan alam, dan lebih dekat dengan keluarga. Tapi saya merasa ingin lebih. Saya pindah ke kota untuk mencari kehidupan yang lebih baik—pendidikan, pekerjaan, semuanya. Awalnya, saya merasa hidup saya mulai berarti. Tapi setelah sekian lama, saya merasa terasing, meskipun di tengah keramaian. Saya merasa seperti sedang berlari mengejar sesuatu yang tak pernah bisa saya raih.”

Rini mendengarkan dengan seksama. Andra melanjutkan, “Kopi… kopi adalah hal yang sederhana, tapi ada sesuatu yang indah dalam setiap langkahnya. Dari biji kopi yang kecil, diproses, diseduh, hingga akhirnya menjadi secangkir kopi yang memberikan kehangatan. Sama seperti hidup. Kadang kita merasa terperangkap dalam rutinitas yang tak ada habisnya, namun jika kita bisa meluangkan waktu untuk menghargai hal-hal sederhana—momen yang tenang, atau secangkir kopi yang diseduh dengan hati—kita bisa menemukan keindahan di sana.”

Rini terdiam sejenak, merenung. “Jadi, kopi ini seperti hidup ya? Sederhana, namun bisa menghasilkan rasa yang luar biasa jika kita benar-benar menghargainya?”

“Ya,” jawab Andra, senyum kecil muncul di wajahnya.

“Kopi bagi saya adalah lambang kedamaian. Saya tahu hidup ini tidak selalu mudah. Kita sering kali terjebak dalam kesibukan yang memaksa kita untuk terus bergerak tanpa berhenti sejenak dan merenung. Tapi seperti kopi, kita harus bisa menikmati prosesnya. Tidak semua hal dalam hidup harus berkilau dan megah. Terkadang, keindahan terletak pada hal-hal yang sederhana.”

Rini menatap cangkir kopinya dengan perasaan yang berbeda. Ia mulai menyadari bahwa mungkin ia terlalu fokus pada hal-hal besar yang ingin ia raih, hingga melupakan makna dari setiap langkah kecil yang ia ambil.

“Saya pikir saya mengerti sekarang,” katanya pelan. “Saya selalu mengejar sesuatu yang lebih besar, lebih cepat. Tetapi saya lupa untuk berhenti dan menikmati momen sekarang. Seperti kopi ini… saya terlalu terburu-buru.”

Andra mengangguk, lalu melanjutkan, “Itulah yang banyak orang di kota ini lupakan. Semua orang terjebak dalam rutinitas yang menuntut—kerja keras, mengejar ambisi, mendapatkan lebih banyak. Namun, mereka sering lupa bahwa kebahagiaan sejati bukan datang dari apa yang kita miliki, tetapi dari bagaimana kita menghargai setiap detik dalam hidup kita.” (Bersambung ke bagian 3)

*Cerpen ini ditulis oleh Dr. Sri Satata, M.M, seorang Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.

Tags: Cerita PendekCerpenCerpen Kehidupan
ShareTweetSendShare
Previous Post

Media Sosial, Bermanfaat Sekaligus Menciptakan Stress Bagi Remaja? Kata Mereka

Next Post

Rencana AS Soal Pemindahan Warga Gaza Ditolak Somalia, Meskipun ke Negaranya

Mungkin Anda Juga Suka :

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

14 Maret 2026

...

Di Ambang Mahacahaya

Di Ambang Mahacahaya

9 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

9 Maret 2026

...

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

8 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

8 Maret 2026

...

Load More
Next Post
Rencana AS Soal Pemindahan Warga Gaza Ditolak Somalia, Meskipun ke Negaranya

Rencana AS Soal Pemindahan Warga Gaza Ditolak Somalia, Meskipun ke Negaranya

Menjelang Ramadhan, Butuh Persiapan Nggak Sih?

Menjelang Ramadhan, Butuh Persiapan Nggak Sih?

Discussion about this post

TERKINI

Buka Kedutaan Besar di Al-Quds yang Diduduki, Iran Kecam Keras Kolombia

16 Oktober 2026

Pelantikan Jenderal Tandyo Budi Revita Sebagai KSAD dan Jenderal Maruli Simanjuntak Sebagai Wakil Panglima TNI

16 Oktober 2026

Pernyataan Sikap MUI, Pembatalan Konser Andrea Bocelli Simpatisan Israel di Indonesia Harus Dilakukan

16 Oktober 2026

Presiden Prabowo Tegaskan Swasembada Beras Perkuat Fondasi Ketahanan Pangan Nasional

15 Oktober 2026

Remitansi Mesir Mencapai Rekor 33,9 Miliar Dolar Saat Perang Timur Tengah Berlangsung

14 Oktober 2026

Tekan Biaya Internet, Kemkomdigi Kaji Perluasan Jaringan Internet Tetap atau Fixed Broadband

14 Oktober 2026

Pesan yang Disampaikan Habib Umar bin Hafidz Saat Silaturahmi ke Kantor PBNU

13 Oktober 2026

Timur Tengah Memanas, Kemenhaj Pastikan jemaah Aman dan Instruksikan Travel Umrah Pantau Kondisi Jemaahnya

13 Oktober 2026

Pasokan Minyak Global Semakin Parah, Kecuali Selat Hormuz Dibuka Kembali Sepenuhnya

12 Oktober 2026

Camilan yang Membuat Gigi Anda dan Anak-anak Berlubang serta Cara Menyiasati dalam Menikmatinya

11 Oktober 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT!
    • Kanal Kamu Kuat
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video