• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Citizen Journalism & Video Cerpen dan Puisi

Cerpen: Pelangi dalam Secangkir Kopi (bagian 1)

by Avesiar
11 Februari 2025 | 21:30 WIB
in Cerpen dan Puisi
Reading Time: 4 mins read
A A
Cerpen: Pelangi dalam Secangkir Kopi (bagian 1)

Foto: Freepik & ist. Kolase: Avesiar.com

Avesiar – Puisi dan Cerpen

Pelangi dalam Secangkir Kopi (bagian 1)

Oleh: Mas Ngabehi

********************

Pagi itu, seperti pagi-pagi lainnya, Andra sudah berada di belakang bar kedai kopi kecil miliknya yang terletak di sudut kota yang sibuk. Kedai yang telah menjadi tempat pelarian bagi banyak orang, sebuah ruang kecil yang menyajikan kehangatan dalam cangkir kopi dan keheningan yang jarang ditemui di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota.

Suara desiran mesin espresso, gemericik air panas yang mengalir dalam proses pembuatan kopi, dan aroma kopi yang tercium kuat di udara adalah hal-hal yang sudah menjadi bagian dari ritme hidup Andra selama hampir enam tahun terakhir.

Andra, seorang pemuda berusia tiga puluh tahun, bukanlah seorang barista biasa. Kepribadiannya pendiam, namun penuh dengan kebijaksanaan yang tercermin dalam setiap gerakannya ketika ia meracik kopi. Ada kedalaman di matanya yang sulit dipahami, sebuah kesedihan yang tampaknya selalu menggelayuti hatinya, meskipun senyumannya sering kali mengiringi langkahnya.

Ia datang dari keluarga yang sederhana di sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Ayahnya seorang petani, dan ibunya seorang ibu rumah tangga yang selalu bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan mereka. Hidup di desa mengajarkan Andra tentang arti kesederhanaan, kejujuran, dan kehangatan hubungan antar sesama.

Bacaan Terkait :

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 3, habis)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 2)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 1)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya,Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 3, habis)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 2)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 1)

Cerpen: Saat Takdir Bertaut di Mihrab Cinta (bagian 4, habis)

Load More

Namun, meskipun tumbuh dengan nilai-nilai itu, Andra merasa terasing dalam keramaian dunia kota yang serba cepat dan terstruktur. Keputusan untuk pindah ke kota beberapa tahun lalu, untuk mengejar pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik, ternyata tidak membawa kebahagiaan yang ia harapkan.

Di kota, ia menemukan dirinya terjebak dalam rutinitas yang tiada akhir, dan meskipun sudah meraih kesuksesan secara material, ada kekosongan yang semakin menggerogoti jiwanya. Ia merasakan betapa kehidupan yang ditawarkan kota ini begitu mengalir deras, sementara ia, di dalamnya, merasa seperti sebuah batu kecil yang terombang-ambing di tengah lautan.

Kedai kopi yang ia kelola adalah pelarian dari hiruk-pikuk itu. Ruangannya kecil, hanya cukup untuk menampung sepuluh hingga dua belas orang, namun selalu ada sesuatu yang magis tentang tempat itu.

Dinding-dinding kedai ini dipenuhi dengan karya seni yang beragam—lukisan-lukisan abstrak yang memikat, foto-foto hitam putih dari kehidupan kota yang lama terlupakan, dan beberapa kutipan filosofi yang selalu membuat siapa saja yang datang untuk duduk dan merenung sejenak. Ada rak buku yang penuh dengan novel-novel klasik, buku-buku puisi, dan cerita-cerita pendek yang penuh makna. Tempat ini, meskipun kecil dan sederhana, adalah rumah bagi jiwa-jiwa yang lelah dan mencari ketenangan.

Namun pagi itu, ada sesuatu yang berbeda. Cuaca mendung, awan-awan gelap menggantung rendah di langit, memberikan suasana suram yang terasa hampir menyelimuti kota. Andra memandang keluar jendela kedai kopi yang mulai berkabut. Ia merasa seperti cuaca itu mencerminkan hatinya, yang tidak pernah benar-benar mengerti arah tujuannya.

Ia berdiri di belakang bar, menyusun cangkir-cangkir kosong dengan gerakan otomatis, sementara pikirannya melayang jauh ke masa lalu. Masa lalu di desa, yang penuh dengan kenangan manis bersama keluarganya, serta impian-impian yang ia bawa ketika pertama kali meninggalkan kampung halaman untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Namun semakin ia mencoba untuk menggenggam impian-impian itu, semakin ia merasakan kebingungannya. Kota yang menawarkan segala sesuatu yang tampak menjanjikan malah menambah rasa kesepian dalam dirinya. Ia terjebak dalam dunia yang tak pernah memberinya kesempatan untuk berhenti sejenak dan merenung. Dan di tengah kesibukannya itu, Andra merasa seperti orang asing di dalam kehidupannya sendiri.

Pagi itu, saat Andra mulai menata kopi untuk pelanggan yang datang, sebuah suara lembut memecah keheningan yang biasa menyelimuti kedai kopi itu. Pintu kaca kedai berderit saat terbuka, dan seorang perempuan muda masuk. Andra menoleh, dan pandangannya langsung tertuju pada perempuan itu—seorang wanita yang tampak berbeda dari pelanggan-pelanggan biasa.

Ia tidak mengenakan pakaian yang mewah, hanya sebuah jaket simpel dan celana panjang hitam, namun ada sesuatu dalam dirinya yang memancarkan energi dan semangat yang berbeda. Rambutnya yang panjang tergerai dengan santai, dan meskipun cuaca mendung, matanya tampak cerah penuh harapan, seperti sebuah sinar yang tidak terpengaruh oleh awan gelap di luar.

Perempuan itu tersenyum saat melihat Andra, seolah menyambutnya dengan ketulusan yang langka. Andra, yang biasanya tidak banyak berbicara, merasa terkejut oleh kehadirannya. Ia menyambut perempuan itu dengan senyum yang canggung, tetapi dalam hati, ada rasa penasaran yang muncul begitu saja. Perempuan itu duduk di meja dekat jendela dan memandang sekeliling kedai dengan tatapan yang penuh keingintahuan.

“Selamat pagi,” ucapnya, suaranya lembut namun penuh semangat. “Sebuah tempat yang menyenangkan,” tambahnya sambil melirik sekeliling ruangan yang penuh dengan suasana nyaman.

Andra membalas dengan senyum tipis, lalu bertanya, “Apa yang bisa saya bantu?”

“Saya ingin kopi hitam,” jawab perempuan itu, “Yang bisa memberi saya kehangatan di pagi yang dingin ini.”

Andra mulai mempersiapkan pesanan, namun pikirannya masih terfokus pada perempuan itu. Ada sesuatu dalam cara ia berbicara dan melihat dunia yang membuat Andra merasa seolah-olah ada pelangi yang tersembunyi di balik mendung pagi itu. Seiring dengan setiap gerakan Andra meracik kopi, ia merasakan semacam kedekatan yang tidak bisa dijelaskan—sebuah koneksi yang datang begitu saja, meskipun hanya lewat tatapan dan beberapa kata sederhana.

Setelah kopi disajikan, perempuan itu menatap cangkirnya, lalu mengangkatnya ke bibir. Ia menghirup aroma kopi itu dengan perlahan, seakan ingin meresapi setiap detik yang berlalu. Andra menunggu dengan sabar, sedikit khawatir akan reaksi perempuan itu.

Namun, setelah beberapa saat, perempuan itu menurunkan cangkirnya, memandang Andra, dan tersenyum. Senyum yang bukan hanya menunjukkan rasa puas, tetapi juga kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. (Bersambung ke bagian 2)

*Cerpen ini ditulis oleh Dr.Sri Satata, M.M, seorang Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.

Tags: Cerita PendekCerpenCerpen KehidupanKopiSecangkir Kopi
ShareTweetSendShare
Previous Post

Budaya Daerah di Kalangan Remaja: Melekat atau Mulai Pudar?

Next Post

Media Sosial, Bermanfaat Sekaligus Menciptakan Stress Bagi Remaja? Kata Mereka

Mungkin Anda Juga Suka :

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

14 Maret 2026

...

Di Ambang Mahacahaya

Di Ambang Mahacahaya

9 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

9 Maret 2026

...

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

8 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

8 Maret 2026

...

Load More
Next Post
Media Sosial, Bermanfaat Sekaligus Menciptakan Stress Bagi Remaja? Kata Mereka

Media Sosial, Bermanfaat Sekaligus Menciptakan Stress Bagi Remaja? Kata Mereka

Cerpen: Pelangi dalam Secangkir Kopi (bagian 2)

Cerpen: Pelangi dalam Secangkir Kopi (bagian 2)

Discussion about this post

TERKINI

Iran Memaksa AS Akui Sistem Pertahanannya yang Murah dan Efektif

19 April 2026

Hormuz Kembali Ditutup Buntut AS Tidak Buka Blokade, Dua Kapal Kena Tembakan Iran

18 April 2026

Imbas Naiknya Kekerasan Perempuan di Ruang Digital, Pemerintah Awasi dan Bisa Tutup Platform yang Abai

18 April 2026

Kabar Baik Dibukanya Selat Hormuz, Saham Melonjak dan Harga Minyak Anjlok 10 Persen

17 April 2026

Paus Leo Tidak Takut pada Trump, Menyebut Dunia Sedang Dihancurkan Segelintir Tiran Saat Berseteru dengan Gedung Putih

16 April 2026

Polemik Alat Vape Disalahgunakan, Menelusuri Hukum Rokok Elektrik

15 April 2026

Saksikan Segera, Podcast Khusus Profesional “Ladders to be Leaders” Mengulas Perjalanan Hidup dan Karir

15 April 2026

AS Repot Berkonflik dengan Iran, Zelenskyy Kecewa Dicuekin Karena Suplai Senjata ke Ukraina Terganggu

15 April 2026

TikTok Lapor Tutup 780 Ribu Akun Anak dan Roblox Belum Dianggap Patuh PP TUNAS, Beberapa Menyatakan Patuh

14 April 2026

Negosiasi Iran dan AS Disebut Akan “Segera” Diadakan Lagi di Islamabad, Iran Menolak Diatur Pengayaan Uranium dan Nuklirnya

14 April 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video