KAMU KUAT – Jakarta
Insecure adalah perasaan tidak percaya diri yang sering dialami oleh banyak remaja, Di era digital seperti sekarang, rasa insecure semakin mudah muncul, terutama akibat pengaruh media sosial. Banyak orang membagikan kehidupan mereka di dunia maya, yang terkadang tanpa disadari membuat kita membandingkan diri sendiri dengan mereka.
Dikutip dari Halodoc, Kamis (13/2/2025), insecure adalah perasaan tidak percaya diri atau tidak ada kepastian dalam diri sendiri. Namun, ketika seseorang berurusan dengan insecure untuk jangka waktu yang lama, ini pun bisa memberikan efek signifikan pada kehidupan.
Insecure terkait dengan kondisi kesehatan mental seperti; narsisme, kecemasan, paranoia, dan kepribadian adiktif atau ketergantungan.
Nah, bagaimana rasanya pernah dan masih terjangkit insecure dan cara mengelola serta mengatasi agar tidak merusak kehidupan masa muda? Beberapa remaja dan anak muda berbagi rasa itu kepada tim kanal KAMU KUAT! Avesiar.com. Baca sampai habis!
Alya, siswi kelas 9, SMPN 3 Gunung Sindur, Bogor

Salah satu hal yang bikin Alya paling minder adalah jerawat. Dulu Alya jerawatan parah, dan setiap kali melihat teman-teman dengan wajah mulus, Alya selalu bertanya-tanya, “Mereka pakai apa sih sampai bisa sebersih itu mukanya?”
Kalau mendengar cerita teman-teman Alya, kebanyakan dari mereka juga mengalami insecure, terutama soal kecantikan dan kepintaran. Ada yang merasa kurang cantik karena standar kecantikan di media sosial, ada juga yang merasa kurang pintar saat melihat teman-temannya mendapat nilai lebih tinggi. Rasanya seolah-olah selalu ada sesuatu yang kurang dalam diri sendiri.
“Dulu aku lebih banyak insecure soal penampilan. Aku bahkan sampai nggak mau keluar rumah tanpa make up karena takut orang melihat wajah bareface-ku. Aku merasa kurang cantik dibandingkan orang lain. Tapi seiring berjalannya waktu, fokus insecuritasku berubah. Sekarang, aku lebih sering merasa insecure soal prestasi dan nilai. Saat melihat teman-teman lain sukses atau mendapatkan nilai tinggi, kadang aku berpikir, Kenapa aku nggak bisa seperti mereka?” ujar Alya
Alya merasa beruntung, karena mempunyai teman-teman yang selalu memberi dukungan. Mereka sering meyakinkan Alya “Kalau aku sebenarnya cantik dan nggak perlu merasa kurang. Itu sangat membantu, karena terkadang kita butuh orang lain untuk mengingatkan bahwa kita berharga. Tapi kalau soal keluarga, aku jarang cerita. Mungkin karena aku merasa mereka nggak akan benar-benar mengerti apa yang aku rasakan,” ungkap Alya.
Media sosial juga punya peran besar untuk remaja satu ini, “kadang ketika menonton Tik Tok suka membuatku merasa insecure. Saat melihat cewek-cewek cantik lewat di FYP, aku nggak bisa bohong, kadang ada rasa minder. “Alya berpikir, “Ih, cantik banget…” dan mulai membandingkan diri sendiri dengan mereka. Padahal, ia tahu kalau di balik foto-foto sempurna itu ada filter dan editing yang mungkin membuat mereka terlihat lebih flawless (tanpa kekurangan/cela, red).
Dulu, rasa insecure itu benar-benar memengaruhi aktivitas sehari-hari. Alya selalu ingin tampil sempurna dan takut orang melihat kekurangannya.
“Tapi sekarang, aku mulai belajar menerima diri sendiri. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa aku punya keunikan sendiri yang orang lain belum tentu punya. Aku juga mulai belajar untuk lebih bersyukur dan berhenti membandingkan diri dengan orang lain,” ujar Alya penuh semangat.
Kalau ditanya apakah ada seseorang yang menginspirasiku untuk lebih percaya diri, jawabannya tidak ada. “Aku belajar sendiri untuk mengatasi insecure ini. Aku mulai berpikir positif, berhenti membanding-bandingkan diri dengan orang lain, dan belajar lebih mencintai serta menghargai diri sendiri.”
Anbiya, siswa kelas 12, SMA Negeri 9, Bogor

Anbiya merupakan satu remaja yang pernah merasakan insecure, “Kalau aku sendiri, hal utama yang bikin muncul rasa insecure itu dari media sosial. Dari situ, aku mulai insecure dari segi penampilan, akademik, dan lain-lain,” ungkapnya.
Menurutnya, postingan orang lain yang menunjukkan kehidupan mereka sering kali menjadi pemicu utama perasaan insecure. “Paling sering dari postingan orang lain yang menunjukkan kehidupannya di media sosial,” katanya.
Akibatnya, ia menjadi kurang percaya diri, terutama saat harus bepergian atau bertemu banyak orang. “Aku jadi kurang PD dan lebih memikirkan gimana pendapat orang lain kalau bepergian atau ketemu orang banyak,” tambahnya.
Namun, ia berhasil menemukan cara untuk mengatasi rasa insecure yang dialaminya. Salah satu langkah yang ia lakukan adalah mengubah cara pandangnya terhadap media sosial.
“Aku ubah pandangan aku kalau semua yang diposting di sosial media atau yang biasanya orang lain perlihatkan pastinya nggak seenak atau seindah itu. Jadi, aku berusaha nggak gampang terpengaruh,” jelasnya.
Selain itu, ia juga sempat membatasi penggunaan media sosial untuk mengurangi dampak negatifnya. Sekarang, ia lebih fokus pada dirinya sendiri dan berusaha mengembangkan potensi daripada terus membandingkan diri dengan orang lain. “Dulu aku juga sempat mute sosmed, jadi rasa insecure aku lebih berkurang. Aku ubah rasa insecure itu jadi introspeksi diri,” katanya.
Ketika ditanya siapa yang menginspirasinya untuk lebih percaya diri, ia menjawab bahwa teman-temannya sangat berperan. “Seseorang yang menginspirasi aku untuk lebih percaya diri itu teman-teman yang selalu mendukung aku,” tuturnya.
Selain itu, ia juga menemukan banyak konten yang memotivasi untuk lebih percaya diri. Namun, menurutnya, kunci utama tetap berasal dari diri sendiri. “Pastinya diri sendiri juga yang ngebuat aku jadi lebih percaya diri,” tambahnya.
Menurutnya, membicarakan rasa insecure dengan orang lain sangat penting agar perasaan tersebut tidak semakin membebani mental. “Kalau menurut aku, penting buat membicarakan rasa insecure dengan orang lain, khususnya ke teman dekat, keluarga, atau orang-orang yang dipercaya,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa jika rasa insecure hanya dipendam sendiri, bisa saja dampaknya lebih buruk. “Kalau cuma dipendam, mungkin bisa lebih timbul efek ke mental dan bisa lebih menutupi diri,” ungkapnya.
Ia juga membagikan pandangannya tentang cara terbaik menghadapi insecure. “Cara terbaik menurut aku itu nikmatin aja hidup kita tanpa harus ngerasa ketinggalan. Terus, jangan overthinking sama pandangan orang lain,” sarannya.
Menurutnya, memiliki sikap yang lebih selektif dalam memikirkan sesuatu juga sangat penting. Selain itu, ia juga menyarankan untuk mengurangi aktivitas scroll media sosial jika rasa insecure datang dari sana. “Berusaha buat ngembangin sikap bodo amatan, maksudnya lebih selektif apa yang pantes dipikirin,” tambahnya.
Pada akhirnya, ia menyimpulkan bahwa rasa insecure adalah sesuatu yang wajar dan dialami oleh semua orang. “Menurut aku, setiap manusia pasti pernah merasakan ini,” ujarnya.
Namun, ia juga menyadari bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengatasi rasa insecure. “Bedanya, ada yang bisa langsung menghilangkan rasa insecure-nya, dan ada yang sulit menghilangkannya,” tutupnya.
Salen, mahasiswa semester 4, Universitas Pembangunan Nasional (UPN)

“Pernah dong. Kayaknya hampir semua orang pernah ngerasain insecure di fase kehidupannya,” ujarnya.
Sebagai seorang cowok yang sudah dewasa, Salen merasa insecure lebih sering muncul dalam hal pencapaian. “Karena aku cowok, jadi biasanya sih soal pencapaian. Kadang ngerasa kurang dibanding orang lain, entah di akademik, karier, atau hal lain yang bikin jadi ngebandingin diri sendiri,” tuturnya.
Salah satu pemicunya adalah media sosial. Melihat orang lain yang tampak sukses atau memiliki sesuatu yang belum ia capai kadang membuatnya berpikir berlebihan. “Kalau lihat orang lain yang kayaknya hidupnya udah sukses atau punya sesuatu yang belum aku punya, kadang itu bikin kepikiran,” katanya.
Namun, kini ia mulai lebih santai dalam menyikapi hal tersebut. “Sekarang lebih santai, karena sadar kalau media sosial itu cuma highlight terbaik dari hidup orang,” kenangnya.
Menurut Selen, rasa insecure bisa berdampak pada produktivitas dan suasana hati. “Ngerasa kurang baik, jadi nggak ada mood untuk ngapa-ngapain atau jadi overthinking. Kadang jadi kurang produktif karena kebanyakan mikir,” jelasnya.
Untuk mengatasi insecure, ia berusaha untuk berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain. “Biasanya aku coba stop bandingin diri sama orang lain sih. Lebih fokus ke progres sendiri, dan percaya aja kalau tiap orang punya waktunya masing-masing,” ungkapnya.
Selain itu, mencari kesibukan juga bisa menjadi solusi agar tidak terlalu memikirkan hal-hal yang bisa memicu insecure. “Bisa juga nyari kesibukan biar nggak terlalu mikirin hal-hal yang biasanya bikin insecure,” tambahnya.
Memiliki teman yang selalu mendukung sangat membantu dalam menghadapi rasa insecure. “Ada, beberapa teman yang selalu support dan ngingetin kalau aku nggak seburuk yang aku pikir,” katanya.
Ia juga percaya bahwa membicarakan insecure dengan orang yang tepat sangat penting. “Penting banget, asal sama orang yang tepat. Kadang setelah cerita, kita bisa dapat perspektif baru dan sadar kalau nggak sendirian,” jelasnya.
Salen juga menyampaikan bahwa insecure adalah hal yang wajar. “Wajar banget, karena itu bagian dari manusia. Tapi yang penting, jangan sampai rasa insecure itu menghambat kita buat berkembang,” tutupnya.
Tuh, kan, Guys! Rasa insecure memang tidak bisa dihindari sepenuhnya, tapi dengan fokus pada progres diri sendiri dan menghargai setiap pencapaian, kita bisa mengelola perasaan tersebut agar tidak menghambat perkembangan pribadi.
Dengan mengubah cara pandang, fokus pada diri sendiri, dan mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar, kita bisa lebih percaya diri dan menjalani hidup dengan lebih tenang.
Untuk kamu yang sering merasa insecure, Jangan biarkan insecure mengendalikan hidupmu. Setiap orang punya keunikan masing-masing, dan kamu berharga dengan caramu sendiri. Belajarlah untuk mencintai diri sendiri, fokus pada hal-hal yang membuatmu bahagia, dan jangan terlalu terpaku pada standar orang lain. Be yourself! (Resty)













Discussion about this post