KAMU KUAT – Jakarta
Stres atau perasaan tertekan dapat dialami semua usia. Hal ini juga dialami oleh para remaja yang sering menghadapi berbagai tekanan, baik dari sekolah, lingkungan sosial dan pertemanan, maupun ekspektasi keluarga.
Tanpa disadari, tekanan ini bisa menumpuk dan menimbulkan perasaan yang tidak nyaman dan mengganggi secara emosional. Jika tidak dikelola dengan baik, stres dapat berdampak pada kesehatan mental dan fisik. Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk memahami cara mengatasi stres agar tetap seimbang dan bahagia dalam menjalani keseharian.
Dikutip dari laman resmi Ayo Sehat – Kementerian Kesehatan, Jum’at (21/2/2025), stres adalah sebuah kondisi yang dirasakan saat seseorang menghadapi tantangan, atau berada dalam situasi yang mengharuskan kita menyesuaikan diri secara cepat dengan sebuah perubahan.
Ketika stres membuat kita menjadi lebih terpacu dan termotivasi, stres ini dinamakan eustress atau stress yang positif. Eustress bermanfaat dalam memacu kreativitas, menimbulkan inspirasi dan rasa bahagia, serta menyehatkan tubuh. Eustress diperlukan, misalnya untuk membantu kita menyelesaikan pekerjaan sebelum tenggat waktu yang diberikan, mengejar prestasi atau pencapaian dan lain sebagainya.
Beberapa orang memerlukan pengalaman orang lain yang dianggap cukup untuk bisa mengelola dan mengatasi perasaan tertekan semacam ini. Nah, beberapa pengalaman remaja SMA dan mahasiswa, serta saran seorang psikolog berikut ini semoga bisa jadi solusi.
Sahabat KAMU KUAT!,
Yuk kita simak kisah dan saran mereka!
Fatia Azra Mumtaza, mahasiswa semester 6, Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta

Menurut Fatia, salah satu faktor utama yang menyebabkan stres adalah media sosial. “Remaja pasti punya kebiasaan untuk scroll media sosial dan melihat bagaimana kehidupan teman-temannya. Tanpa sadar, mereka membandingkan hidup mereka dengan orang lain,” ujarnya.
Selain itu, stres juga bisa datang dari pressure internal dan eksternal. “Tekanan internal biasanya datang dari keluarga atau ekspektasi pribadi, sementara tekanan eksternal bisa berasal dari lingkungan sekitar, seperti teman sebaya atau tuntutan akademik,” tambahnya.
Fatia menekankan bahwa stres yang tidak dikelola dengan baik bisa berdampak buruk dalam jangka panjang. “Dampaknya bisa ke kesehatan fisik, seperti insomnia, sakit kepala, dan gangguan makan. Selain itu, stres juga bisa berpengaruh ke kesehatan mental, seperti depresi, burnout, dan anxiety,” jelasnya.
Tak hanya itu, stres yang berlarut-larut juga bisa memengaruhi prestasi akademik dan perilaku sehari-hari. “Bisa jadi susah fokus belajar, kehilangan motivasi, atau bahkan menarik diri dari lingkungan sosial,” tambahnya.
Setiap orang punya cara sendiri dalam mengelola stres. Fatia sendiri biasanya melakukan beberapa hal untuk meredakan tekanan yang dirasakannya.
“Yang pertama, ada teknik relaksasi atau mindfulness. Kalau Gen Z biasanya nyebutnya healing, ya, itu juga bisa membantu mengurangi stres,” ujarnya. Selain itu, ia juga menyarankan olahraga atau melakukan hobi sebagai cara untuk mengalihkan pikiran dari stres. “Kalau nggak suka olahraga, cari aja hobi yang disuka, itu bisa bantu banget,” tambahnya.
Terakhir, menurut Fatia, curhat ke teman dekat juga bisa menjadi solusi yang efektif. “Kadang, sekadar berbagi cerita dengan orang yang kita percaya bisa bikin hati lebih lega,” katanya.
Menurut Fatia, dukungan dari orang-orang terdekat sangat penting dalam menghadapi tekanan akademik. “Mereka bisa memberikan dukungan emosional dan membantu mencari solusi supaya kita nggak terjebak dalam tekanan terus-menerus,” jelasnya.
Tak hanya itu, orang terdekat juga bisa menjadi pengingat bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. “Gagal itu nggak apa-apa, yang penting jangan terlalu memaksakan diri sendiri,” pungkasnya.
Jonathan Janto Jr, semester 6, Universitas Padjadjaran, Bandung

Menurut Jonathan, stres bisa datang dari berbagai arah. “Pernah, karena terlalu banyak pikiran di tugas, lingkungan, dan juga finansial,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa tekanan dari orang tua sering kali menjadi faktor tambahan yang membuat stres semakin berat.
Stres yang tidak dikelola dengan baik ternyata bisa berdampak pada kondisi fisik. Jonathan mengaku bahwa saat mengalami stres, tubuhnya menjadi lebih rentan terhadap penyakit. “Jadi sering sakit-sakitan,” katanya. Ini menunjukkan bahwa kesehatan mental dan fisik saling berkaitan, dan stres yang berlarut-larut bisa menurunkan daya tahan tubuh.
Setiap orang punya cara masing-masing untuk mengelola stres. Bagi Jonathan, solusi terbaiknya adalah berlibur ke alam terbuka. “Biasanya aku pergi ke curug atau daerah dataran tinggi,” ungkapnya. Dengan menghabiskan waktu sekitar 2–3 hari di alam, ia merasa lebih tenang dan bisa berpikir lebih jernih.
Beruntung, Jonathan tidak harus menghadapi stres sendirian. “Ada koko saya dan teman-teman terdekat yang sadar akan kondisi saya,” tuturnya. Mereka tidak hanya menyadari perubahan yang terjadi, tetapi juga sering memberikan solusi dan dukungan emosional agar ia bisa keluar dari tekanan yang dirasakan.
Sebagai mahasiswa semester 6, Jonathan tentu memiliki harapan besar. “Saya ingin lulus dengan nilai memuaskan untuk orang tua,” katanya. Tekanan akademik memang besar, tetapi dengan dukungan orang-orang terdekat dan cara yang tepat dalam mengatasi stres, ia yakin bisa mencapainya.
Muhammad Fawwaz Fathan, kelas 12, SMA Negeri 2, Tangerang Selatan

Menurut Fawwaz, stres yang ia alami sering kali berasal dari orang-orang di sekitarnya. Tekanan dari lingkungan sosial, ekspektasi orang lain, atau sekadar interaksi sehari-hari bisa menjadi pemicu yang membuatnya merasa tertekan.
Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengatasi stres. Bagi Fawwaz, olahraga adalah aktivitas yang paling efektif untuk membuatnya merasa lebih rileks dan tenang. Selain itu, ia juga memiliki kebiasaan menikmati kopi americano atau es latte tanpa gula sebagai cara sederhana untuk meredakan stres.
Ketika merasa stres, Fawwaz tidak selalu menyimpannya sendiri. Ia mengaku merasa lebih nyaman berbicara tentang stres yang dialami, terutama dengan teman-teman terdekatnya. Berbagi cerita dengan orang yang dipercaya bisa menjadi salah satu cara untuk meringankan beban pikiran.
Stres yang berlebihan tidak hanya berdampak pada pikiran, tetapi juga kesehatan fisik. “Pernah,” jawab Fawwaz ketika ditanya apakah stres pernah memengaruhi kondisi fisiknya. Ini menunjukkan bahwa stres yang dibiarkan tanpa penanganan bisa berdampak lebih luas pada tubuh. Beruntung, Fawwaz memiliki lingkungan yang mendukung.
Ia mengatakan bahwa keluarga dan teman sangat membantu dalam menghadapi stres yang ia alami. Dukungan emosional dari orang-orang terdekat memang sangat penting dalam menjaga kesehatan mental.
Vito, semester 6, Universitas Padjadjaran, Bandung
Saat pertama kali masuk universitas, Vito tidak menyangka bahwa dunia perkuliahan akan serumit ini. Ia merasa kesulitan beradaptasi, terutama karena belum menemukan teman yang “sefrekuensi.” “Ditambah dengan tugas yang menumpuk, saya merasa kewalahan dan sulit menyelesaikannya,” ujarnya.
Meskipun awalnya sulit, Vito akhirnya menemukan lingkungan pertemanan yang mendukung. “Teman-teman yang baik dan sefrekuensi membantu saya, baik dalam pelajaran di kampus maupun di luar,” katanya. Dukungan sosial memang menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi tekanan akademik.
Ketika merasa stres, Vito memiliki beberapa cara untuk menenangkan diri. “Pertama, saya mencoba menenangkan diri sendiri. Setelah itu, saya biasanya pergi jalan-jalan untuk merilekskan pikiran sambil mendengarkan lagu, atau mengunjungi teman,” jelasnya. Kegiatan ini membantunya kembali fokus dan lebih tenang menghadapi tantangan.
Tekanan dalam perkuliahan tidak hanya berdampak pada mental, tetapi juga emosional. “Saya pernah menangis karena perkuliahan tidak sesuai ekspektasi saya,” ungkapnya.
Namun, ia beruntung memiliki keluarga yang selalu mendukung dan menenangkannya di saat-saat sulit. Perjalanan kuliah tidak selalu mudah, tetapi menemukan dukungan dari teman dan keluarga bisa membantu mengatasi tantangan. Selain itu, memiliki cara sendiri untuk mengelola stres, seperti jalan-jalan dan mendengarkan musik, juga bisa menjadi solusi efektif.
Indriya Tantri S.Psi, M.si, Psikolog

Masa remaja adalah masa penuh perubahan, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Menurut Indriya Tantri, S.Psi., M.Si, remaja mengalami transisi dari lingkungan keluarga yang nyaman ke dunia luar, seperti sekolah dan pergaulan dengan teman sebaya. “Tuntutan yang semakin besar ditambah dengan perubahan hormon membuat emosi remaja kurang stabil, sehingga rentan mengalami stres,” ujarnya.
Stres pada remaja biasanya muncul karena tuntutan akademik, tekanan sosial, dan perubahan emosional. “Ketika remaja merasa tidak bisa memenuhi harapan lingkungan, baik dari keluarga, teman, atau sekolah, stres bisa muncul,” jelas Indriya.
Beberapa tanda stres pada remaja antara lain:
• Perubahan emosi: Mood naik turun, mudah tersinggung, merasa tidak berguna.
• Perubahan perilaku: Mudah cemas, menarik diri dari lingkungan, sering marah tanpa alasan jelas.
• Keluhan fisik: Sakit kepala, sakit perut, atau kebiasaan seperti menggigit kuku dan mondar-mandir gelisah.
“Stres sebenarnya hal yang wajar dan alami, tetapi harus dihadapi dengan cara yang positif agar tidak berdampak buruk,” tambahnya.
Agar stres tidak semakin parah, Indriya menyarankan beberapa cara untuk mengelolanya:
✔ Istirahat cukup & makan bergizi – Tubuh yang sehat membantu menjaga kestabilan emosi.
✔ Pilih lingkungan sosial yang positif – Bergaul dengan teman yang suportif bisa membantu mengurangi tekanan.
✔ Lakukan hobi atau olahraga – Aktivitas menyenangkan bisa menjadi pelepasan stres.
✔ Berikan afirmasi positif pada diri sendiri Yakinkan diri bahwa kamu mampu menghadapi tantangan.
Tak hanya dari diri sendiri, dukungan keluarga juga sangat penting. “Komunikasi terbuka dan kasih sayang bisa memberikan rasa nyaman bagi remaja,” kata Indriya.
Orang tua atau saudara bisa menjadi tempat curhat, memberikan dukungan emosional, dan membantu remaja menemukan solusi dari masalah yang dihadapi.
Stres adalah bagian dari kehidupan remaja, tapi bukan berarti harus dibiarkan begitu saja. Mengenali tanda-tanda stres, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar adalah kunci untuk menghadapi tantangan ini.
Jadi, kalau kamu merasa stres, jangan ragu untuk mencari bantuan dan lakukan hal-hal yang membuatmu bahagia. Untuk hal semacam ini, ingat, kamu nggak sendiri. (Resty)













Discussion about this post