KAMU KUAT – Jakarta
Jutaan anak muda setiap saat mengakses platform media sosial seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, hingga X (sebelumnya Twitter) untuk berkomunikasi, mencari hiburan, bahkan mengekspresikan diri, yang sepertinya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja di era digital saat ini. Namun di balik kemudahan dan kebebasan tersebut, tersembunyi berbagai potensi bahaya yang tak bisa diabaikan.
Penipuan digital, pelecehan siber, perundungan daring (cyberbullying), penyebaran informasi palsu (hoaks), hingga eksploitasi data pribadi hanyalah sebagian kecil dari risiko yang mengintai pengguna media sosial, termasuk remaja.
Di tengah derasnya arus informasi, penting bagi generasi muda untuk memiliki batasan yang jelas dan sikap bijak dalam menggunakan media sosial. Remaja perlu menyadari bahwa dunia digital bukanlah tempat yang sepenuhnya aman.
Dibutuhkan kesadaran, pengetahuan, dan kedisiplinan agar kehadiran mereka di dunia maya membawa manfaat, bukan malah membawa kerugian. Nah, bagaimana pengalaman dan kiat teman kanal remaja dan anak muda KAMU KUAT! Avesiar.com berkaitan dengan hal tersebut?
Raden Rafael Radityawan, siswa kelas 10, SMA IT BBS

Raden Rafael Radityawan, punya pandangan yang menarik soal ini. “Aku bisa menghabiskan waktu 15 sampai 20 jam sehari untuk media sosial,” ujar Rafael dengan jujur.
Meski terdengar lama, ia cepat menambahkan, “Tapi nggak langsung terus-menerus, kok. Ada jedanya juga kayak waktu makan, salat, tidur, atau saat lagi di luar naik motor.”
Menurut Rafael, media sosial ia gunakan untuk berbagai hal mulai dari komunikasi dengan teman dan keluarga, kebutuhan pribadi, hiburan, hingga belajar. Tapi dia sadar betul, di balik semua manfaat itu, ada bahaya yang mengintai jika tidak digunakan dengan bijak “Aku selalu jaga informasi pribadi, hati-hati sama orang yang nggak dikenal, dan nggak gampang percaya sama akun atau nomor asing,” jelas Rafael saat ditanya soal batasan dalam penggunaan media sosial.
Ia juga mengatur privasi akun, membatasi waktu online, dan selektif terhadap konten yang muncul di beranda. Rafael menyebut beberapa kejahatan digital yang sering ia dengar, bahkan pernah hampir ia alami. “Pencurian identitas, pembajakan akun, penipuan online, sampai penyebaran konten ilegal, itu semua bisa terjadi di media sosial. Makanya kita harus waspada.”
Bagaimana cara Rafael menjaga diri? Ia menjelaskan pentingnya menggunakan kata sandi yang kuat, rajin memperbarui perangkat lunak, dan tidak asal klik tautan mencurigakan. “Kalau ada aktivitas yang aneh, aku langsung lapor. Lebih baik mencegah daripada kena sendiri,” tambahnya.
Untuk menghindari kecanduan, Rafael punya cara lain yang cukup inspiratif. Ia sering mengalihkan diri ke aktivitas luar ruangan seperti bermain bola, futsal, basket, atau nge-gym. “Aku sengaja banyakin aktivitas outdoor biar nggak terlalu sering main HP,” katanya menutup wawancara.
Vitorio Varell Amino, siswa kelas 10, SMA Negeri 2, Tangerang Selatan

Vitorio Varell Amino, mengakui bahwa dirinya termasuk pengguna aktif media sosial. “Sebagai pelajar masa kini, tentu nggak bisa lepas dari penggunaan media sosial. Saya menggunakan hampir setiap hari, biasanya sekitar 2–4 jam, tergantung kesibukan,” ungkap Vitorio.
Instagram dan TikTok menjadi dua platform yang paling sering dia gunakan karena isinya yang beragam dan menghibur. “Mulai dari hiburan, informasi edukatif, sampai tren-tren terkini, semuanya ada,” tambahnya.
Meski aktif, Vitorio tidak asal menggunakan media sosial. Ia tetap menerapkan aturan dan batasan pribadi untuk menjaga diri dari dampak buruk. “Saya nggak pernah membagikan data pribadi seperti alamat atau nomor HP. Permintaan pertemanan dari orang asing juga nggak asal saya terima,” ujarnya.
Bahkan soal konten viral sekalipun, Vitorio memilih untuk berhati-hati. “Kalau dapat informasi, saya cek dulu sumbernya. Kalau ragu, saya cari kebenarannya dulu, misalnya pakai AI. Kalau belum yakin, ya nggak saya sebar.”
Vitorio juga pernah merasakan kecanduan media sosial, terutama saat tidak ada kegiatan. “Rasanya tangan tuh kayak otomatis buka aplikasi terus,” katanya sambil tertawa. Untuk mengatasi itu, ia mencoba mengatur pengingat waktu di HP dan menyibukkan diri dengan kegiatan lain. “Biasanya saya baca buku atau olahraga ringan supaya nggak terus-terusan scroll medsos.”
Ia menyadari bahwa media sosial bisa membawa pengaruh negatif jika tidak dikendalikan. “Risiko terbesar bagi remaja yang terlalu bebas main media sosial itu bisa kena penipuan, atau malah jadi korban body shaming, lihat konten kekerasan, bahkan terpengaruh pergaulan bebas,” tuturnya serius.
Vitorio menutup dengan pesan bijaknya, “Terlalu lama main media sosial bisa bikin kita lupa waktu dan kurang produktif. Jadi penting banget buat kita sebagai remaja untuk tetap sadar, bijak, dan bertanggung jawab.” ujarnya
Herdian Setya Dermawan, mahasiswa Manajemen, UPN Veteran Jakarta

Media sosial sudah seperti teman sehari-hari bagi generasi muda. Mulai dari bangun tidur sampai sebelum tidur lagi, kita pasti sempat “mampir” meski hanya beberapa menit. Hal itu juga dirasakan oleh Herdian Setya Dermawan, mahasiswa Manajemen di UPN Veteran Jakarta.
“Aku hampir tiap hari buka media sosial, kadang bisa beberapa kali juga. Yang paling sering aku pakai Instagram sama TikTok, soalnya isinya ringan dan seru aja, cocok buat pas lagi bosen,” ujarnya.
Bagi Herdian, media sosial memang jadi sarana hiburan utama. Tapi tak cuma itu, medsos juga bisa jadi tempat cari ide. “Tujuan utamanya sih buat hiburan, tapi kadang juga buat cari inspirasi, info-info menarik, atau cuma scroll liat update teman-teman,” tambahnya.
Meski aktif, Herdian tetap punya batasan pribadi agar tidak larut terlalu dalam. Ia tidak sembarangan membagikan hal-hal pribadi dan tahu kapan harus rehat. “Aku biasanya nggak terlalu sering upload hal pribadi. Terus kalo udah ngerasa capek sama media sosial, pilih break dulu. Nggak suka juga ikut-ikutan yang lagi viral kalau kurang penting,” jelasnya.
Dalam hal membagikan informasi, ia juga cukup selektif. “Aku usahain buat ngecek dulu sumbernya, lihat apa masuk akal atau cuma clickbait. Kalau infonya kayaknya hoaks atau belum jelas kebenarannya, biasanya nggak aku share,” tuturnya.
Herdian juga pernah merasakan apa yang banyak remaja rasakan: kecanduan media sosial. “Pernah sih, apalagi pas lagi nggak ada kegiatan. Jadi buka terus-terusan,” akunya. Untuk mengatasi itu, ia memilih untuk mematikan notifikasi dan menyibukkan diri dengan hal-hal lain. “Biasanya aku matiin notifikasi dulu, terus sibukin diri sama hal lain yang bikin lupa buka medsos.”
Menurut Herdian, remaja yang terlalu bebas main media sosial sangat rentan terbawa arus negatif. “Gampang banget kebawa arus, kayak bandingin diri sama orang lain atau percaya sama info yang nggak bener. Kalau nggak hati-hati, kadang bisa bikin mental down juga,” katanya.
Dari cerita mereka di atas, kita bisa belajar bahwa menggunakan media sosial itu boleh-boleh saja, asal tetap sadar dan tahu batas. Jangan sampai kita justru kehilangan jati diri atau kesehatan mental hanya karena terlalu larut dalam dunia maya. (Resty)













Discussion about this post