KAMU KUAT – Jakarta
Setiap pelajar sejatinya memegang dua hal penting yang tidak bisa dipisahkan, yaitu hak yang harus dihormati dan kewajiban yang wajib dijalankan dengan penuh kesadaran.
Hak-hak tersebut meliputi mendapatkan pendidikan yang layak, mendapatkan perlakuan adil, serta lingkungan belajar yang mendukung. Di sisi lain, pelajar juga memiliki kewajiban seperti disiplin, menghormati guru, dan berusaha belajar dengan sungguh-sungguh.
Namun, sayangnya tidak semua pelajar benar-benar memahami atau mampu menyeimbangkan antara hak dan kewajiban ini. Padahal, keseimbangan dan harmoni antara keduanya sangat krusial untuk menciptakan suasana sekolah yang adil, nyaman, serta mendorong tumbuhnya rasa tanggung jawab yang tinggi.
Ketika pelajar dapat menyadari dan menjalankan keduanya dengan baik, proses belajar tidak hanya menjadi lebih efektif, tetapi juga membentuk karakter yang kuat untuk masa depan.
Lalu bagaimana hak dan kewajiban dipahami oleh pelajar dan mahasiswa sahabat KAMU KUAT! Avesiar.com? Ayo kita ikuti komentar mereka.
Ibnu Prasetyo, mahasiswa semester 6, Universitas Pamulang

Menurut Ibnu, setiap pelajar berhak mendapatkan pendidikan yang layak, bimbingan dari tenaga pendidik, fasilitas penunjang pembelajaran, dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat secara sehat. “Selama saya menjadi pelajar, saya merasa sebagian besar hak saya sudah terpenuhi,” ungkapnya.
Ia mencontohkan bahwa dirinya mendapat akses terhadap dosen yang kompeten, perpustakaan, dan layanan e-learning yang mendukung proses belajar. Namun, perjalanan akademik tidak selalu mulus. Ibnu juga pernah merasakan haknya sebagai mahasiswa diabaikan.
“Waktu semester awal, ada dosen yang jarang hadir tapi tetap memberi tugas yang banyak. Kami jadi bingung dan merasa tidak mendapatkan ilmu yang seharusnya,” katanya.
Pengalaman ini menjadi refleksi bahwa hak mahasiswa juga bisa terabaikan, bahkan dalam lingkungan pendidikan tinggi.
Selain hak, Ibnu menekankan pentingnya menjalankan kewajiban sebagai pelajar. Baginya, kewajiban itu mencakup belajar sungguh-sungguh, aktif di kelas, menghormati dosen, serta menjaga nama baik kampus. “Saya berusaha menjalankannya dengan baik karena saya sadar, keberhasilan masa depan saya tergantung pada seberapa serius saya menjalani peran sebagai pelajar hari ini,” ujarnya.
Namun, ia menyayangkan bahwa tidak semua pelajar memiliki kesadaran yang sama. “Kadang ada pelajar yang hanya menuntut hak, tapi lupa menjalankan kewajiban,” jelasnya.
Menurut Ibnu, solusi dari ketidakseimbangan ini adalah pembinaan karakter sejak dini, baik melalui kegiatan kampus maupun mata kuliah yang membentuk tanggung jawab dan kedisiplinan. Ibnu berpendapat bahwa kampus dan dosen memiliki peran penting dalam memenuhi hak mahasiswa.
Ia menyarankan agar pihak kampus lebih terbuka terhadap aspirasi mahasiswa, memberikan pembelajaran yang adil, serta menyediakan fasilitas yang memadai. “Komunikasi yang baik antara mahasiswa dan dosen juga sangat penting agar tidak terjadi kesalahpahaman atau ketimpangan hak,” tambahnya.
Di akhir wawancara, Ibnu memberikan pesan kepada seluruh pelajar. “Menuntut hak itu penting, tapi jangan lupa bahwa kita juga punya kewajiban. Jangan hanya menuntut tanpa introspeksi. Jadilah pelajar yang bertanggung jawab, karena itu bukan cuma soal nilai, tapi juga membentuk mental dan karakter untuk masa depan,” tutupnya.
Fira, siswa kelas 7, SMP Negeri 3, Gunung Sindur, Bogor

Bagi Fira, hak pelajar itu bukan cuma soal ikut pelajaran, tapi juga merasakan kenyamanan dan didengarkan. “Setiap pelajar punya hak untuk belajar dengan nyaman, mendapat perhatian dari guru, dan boleh bertanya kalau belum paham,” katanya.
Ia merasa cukup beruntung karena gurunya selalu bersedia menjelaskan ulang saat dirinya belum mengerti. Namun, pengalaman kurang menyenangkan juga pernah ia alami. “Waktu itu aku nggak enak badan dan minta izin duduk di belakang, tapi gurunya malah nggak percaya dan tetap nyuruh ikut aktivitas seperti biasa. Aku jadi ngerasa nggak didengar,” kenang Fira.
Ini menjadi pengingat bahwa pemenuhan hak tidak hanya tentang fasilitas, tapi juga soal empati. Di balik hak, tentu ada kewajiban yang harus dijalani. Fira dengan lugas menyebutkan: “Kewajiban pelajar itu belajar rajin, ngerjain PR, hormat sama guru, dan nggak bikin keributan.”
Ia mengaku berusaha menjalankannya dengan baik karena ingin menjadi anak yang bertanggung jawab dan bisa membanggakan orang tuanya. Meski begitu, Fira mengakui bahwa belum semua pelajar memiliki keseimbangan dalam memahami hak dan kewajiban. “Kadang ada teman yang cuma nuntut hak tapi lupa kewajibannya,” ujarnya.
Ia menyarankan agar guru sering memberi nasihat dan membuat kegiatan yang bisa menumbuhkan rasa tanggung jawab. Menurut Fira, sekolah dan guru harus lebih peka terhadap kondisi siswa. “Kalau ada murid yang kesulitan, dibantu atau ditanya kenapa. Jangan cuma fokus ke yang pintar aja, semua murid perlu diperhatikan,” katanya.
Ia percaya bahwa perhatian guru terhadap semua siswa bisa menciptakan lingkungan belajar yang lebih adil dan nyaman. Fira menyampaikan pesan sederhana namun dalam, “Ayo kita sama-sama jadi pelajar yang tahu hak dan juga sadar kewajiban. Kalau kita cuma nuntut tanpa tanggung jawab, itu nggak adil. Sekolah bakal lebih nyaman kalau semua saling menghargai.” ujarnya
Nayya, siswi kelas 9, SMP Negeri 1, Kota Tangerang
Menjadi pelajar bukan hanya soal datang ke sekolah dan mengerjakan tugas. Ada hal penting lain yang harus dipahami, yaitu hak dan kewajiban. Nayya, siswi kelas 9 dari SMPN 1 Kota Tangerang, berbagi pandangannya tentang dua hal penting ini dalam kehidupan seorang pelajar.
Menurut Nayya, setiap pelajar punya hak untuk belajar dalam suasana yang nyaman, mendapat perhatian dari guru, dan bebas bertanya jika belum paham. “Alhamdulillah, sebagian besar hakku sudah terpenuhi. Kalau aku bingung saat belajar, guruku biasanya mau bantu jelasin lagi sampai aku ngerti,” katanya.
Namun, Nayya juga pernah merasa haknya tidak didengar. “Waktu aku mau menyampaikan pendapat di kelas, gurunya malah motong dan nggak dengerin sampai selesai. Padahal aku cuma mau bertanya atau kasih pendapat,” ceritanya.
Pengalaman itu membuat Nayya berharap guru bisa lebih terbuka pada suara siswa. Sebagai pelajar, Nayya sadar bahwa belajar sungguh-sungguh, datang tepat waktu, menghormati guru, dan menjaga kebersihan sekolah adalah kewajiban yang tak boleh dilupakan. “Aku berusaha menjalankan itu semua karena itu tanggung jawabku sebagai murid. Kalau dijalani dengan ikhlas, hasilnya juga buat kebaikan kita sendiri,” ungkapnya.
Apakah hak dan kewajiban pelajar sudah seimbang? Nayya menjawab dengan jujur, “Menurutku belum. Kadang ada teman yang cuma nuntut hak, tapi lupa kewajiban. Padahal dua-duanya harus seimbang.”
Ia punya usulan agar pelajar lebih sadar akan kewajibannya: “Bisa lewat kegiatan yang seru, tapi tetap ngajarin tanggung jawab, kayak kelas karakter atau diskusi bareng tentang kehidupan sekolah.”
Nayya percaya bahwa guru dan sekolah punya peran besar dalam memenuhi hak pelajar. “Guru harus lebih sabar dan terbuka. Kalau ada murid yang kesulitan, dengarkan dulu. Sekolah juga harus sediakan fasilitas yang memadai, seperti kelas yang nyaman dan buku-buku yang lengkap,” ujarnya.
Sebagai penutup, Nayya menyampaikan pesan bijak untuk teman-teman pelajarnya: “Ayo kita jadi pelajar yang nggak cuma menuntut hak, tapi juga sadar akan kewajiban. Kalau semua bertanggung jawab, sekolah pasti jadi tempat yang lebih seru dan menyenangkan!”.
Muhammad Tsaqib Irawan, siswa kelas 9, SMP Negeri 7, Tangerang Selatan

Menurut Tsaqib, pelajar memiliki hak-hak penting yang perlu diperjuangkan. “Setiap pelajar berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan perlakuan yang adil,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pelajar seharusnya mendapat “dukungan dan bantuan yang diperlukan untuk mencapai tujuan pendidikan.”
Namun, realitanya, ia mengaku bahwa hak-hak tersebut belum sepenuhnya ia rasakan. “Belum,” jawabnya singkat ketika ditanya apakah hak-haknya sebagai pelajar sudah terpenuhi. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada tantangan dalam menciptakan sistem pendidikan yang benar-benar merata dan adil untuk semua siswa.
Meskipun begitu, pelajar juga tidak boleh hanya menuntut hak tanpa menyadari kewajiban. Tsaqib percaya bahwa menjadi pelajar bukan hanya soal menerima. Disiplin, aktif belajar, dan menghormati guru adalah kewajiban yang tak kalah penting. Ia menunjukkan bahwa pelajar harus tetap bertanggung jawab agar proses belajar berjalan dengan seimbang. Seperti yang dikatakan Tsaqib, “Setiap pelajar berhak mendapat dukungan untuk meraih tujuan pendidikannya.”
Keseimbangan antara hak dan kewajiban pelajar bukan hanya wacana, tapi prinsip penting yang harus dijalani. Dari suara mereka, kita diingatkan bahwa masih banyak yang perlu diperbaiki dan diperjuangkan. Harapannya, sekolah dan guru dapat lebih peka dalam memenuhi hak-hak siswa, sementara siswa juga semakin sadar bahwa kewajiban adalah bagian penting dari proses menuju kesuksesan. (Resty)












Discussion about this post