Avesiar – Jakarta
Apakah Anda pernah menggulir ponsel sambil menonton acara dan berbicara dengan seseorang sekaligus? Atau mungkin Anda sedang mencoba menyelesaikan proyek di kantor sambil rapat Zoom dan menjawab pesan malas, belum lagi makan siang sambil melakukannya.
Dilansir Healthline, Rabu (23/7/2025), sebagian besar dari kita mengalami perhatian kita tertarik ke banyak arah sekaligus. Kita tumbuh besar dengan keyakinan bahwa multitasking adalah bagian yang sangat penting untuk mendapatkan pekerjaan dan produktivitas. Tapi apakah itu benar-benar cara terbaik?
Multitasking akan selalu menjadi bagian dari hidup kita, tetapi keterampilan monotasking yang kuat lebih penting dari sebelumnya.
Apa itu monotasking?
“Mono” berarti “satu”. Artinya, mengerjakan satu hal dalam satu waktu. Kedengarannya sederhana, tetapi ini lebih dari sekadar mencoret tugas dari daftar tugas kita — ini tentang mendapatkan kembali perhatian kita yang terpecah.
Sebaliknya, “multitasking” adalah istilah yang mulai digunakan sekitar tahun 1960-an untuk menggambarkan komputer yang melakukan beberapa tugas sekaligus. Dengan kemajuan teknologi sejak saat itu, multitasking telah menjadi budaya tersendiri.
Mengapa Anda harus melakukan monotasking?
Kita memproses banyak informasi antara sekolah, pekerjaan, media sosial, berita, dan kehidupan pribadi kita. Multitasking media, khususnya, umum terjadi pada semua usia, bukan hanya anak-anak dan dewasa muda. Hal ini dapat menyebabkan kelebihan kognitif atau kelebihan informasi (Trusted Source), yang dapat menyebabkan kabut otak, gangguan memori, dan kelelahan.
Dalam sebuah survei terhadap 2.000 orang, lebih dari separuhnya tetap bekerja saat berlibur. Hal ini dapat memperlebar batas antara bekerja dan istirahat, sehingga semakin sulit untuk pulih dan menyegarkan diri dari kelebihan kognitif.
Meskipun respons stres terhadap multitasking belum dipelajari secara ekstensif, uji coba terkontrol acak tahun 2023 merupakan investigasi komprehensif pertama terhadap respons stres biologis manusia terhadap multitasking dan gangguan kerja dalam lingkungan eksperimental terkontrol.
Temuan ini menunjukkan bahwa kita dapat beradaptasi dengan stres akibat melakukan banyak hal, hingga batas tertentu. Namun, konsekuensi yang berpotensi berbahaya dapat muncul ketika stres akibat multitasking menjadi kronis.
Monotasking adalah cara untuk mengurangi sebagian stres pada otak Anda, tetapi ini adalah otot yang mungkin perlu Anda bangun kembali. Monotasking dapat membantu untuk:
• mengurangi stres
• mengurangi beban daftar tugas
• memperbaiki hubungan
• meningkatkan kualitas kerja
Cara Melakukan Monotasking
Kita semua terlahir sebagai orang yang hebat dalam mengerjakan satu tugas. Anak-anak memiliki kemampuan alami untuk hadir dan fokus pada satu hal pada satu waktu.
Membangun kembali kemampuan Anda untuk mengerjakan satu tugas mungkin terasa aneh pada awalnya, tetapi jika Anda mulai berlatih dengan hal-hal biasa, Anda akan lebih mudah berfokus pada hal-hal yang lebih sulit.
Dalam “The Twelve Monotasks,” Thatcher Wine menyarankan bahwa “otot” monotasking perlu dilatih dengan aktivitas inti seperti membaca, berjalan, mendengarkan, tidur, makan, belajar, mengajar, berkreasi, dan banyak lagi.
Intinya, fokuslah hanya pada satu hal. Dan ya, Anda mungkin harus meletakkan ponsel Anda untuk melakukan ini. Mulailah dari yang kecil. Alat seperti pengatur waktu Pomodoro dapat membantu dengan menjadwalkan sesi-sesi pendek, diapit dengan istirahat.
Atur ponsel Anda dalam mode jangan ganggu dan cobalah monotasking berikut:
Jalan kaki selama 10 hingga 20 menit:
Jangan mendengarkan musik atau podcast, jangan mengajak anjing jalan-jalan, jangan mengambil foto apa pun. Rasakan tubuh Anda berjalan, bernapaslah, dan dengarkan suara-suara alam di sekitar Anda. Anda mungkin merasa bosan pada awalnya, dan itu tidak masalah — Anda sedang membangun otot-otot monotasking Anda!
Makan dengan penuh kesadaran:
Luangkan waktu untuk beristirahat sejenak dari makan tanpa gangguan (digital atau lainnya). Luangkan waktu untuk menghargai makanan Anda dan kunyah perlahan, nikmati semua rasanya sedikit demi sedikit.
Amati satu hal saja:
Luangkan waktu 15 menit untuk menyaksikan matahari terbenam, matahari terbit, atau awan. Amati pohon atau sebuah karya seni. Perhatikan dengan saksama, dan perhatikan semua yang Anda bisa tentangnya.
Aktivitas seperti puzzle, buku mewarnai, atau bahkan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring atau melipat cucian juga bagus untuk melatih monotasking.
Kesimpulan
Monotasking dapat membantu kita mencapai lebih banyak hal dengan lebih sedikit stres, dan seringkali dengan lebih banyak kejelasan, kualitas, dan fokus. Intinya adalah menggunakan perhatian kita, dan pada akhirnya energi kita, dengan niat.
Saat Anda membangun kembali kemampuan untuk melakukan monotasking, pada akhirnya, keinginan untuk melakukan banyak tugas akan mereda, dan saat itulah Anda akan tahu bahwa Anda mendapatkan kembali kendali atas perhatian Anda sendiri. Otak Anda akan berterima kasih. (adm)













Discussion about this post