Avesiar – Jakarta
Pemberlakuan tarif impor yang tinggi oleh Presiden AS Donald Trump ditolak oleh India dan Brasil. Dilansir kantor berita Rusia TASS, Senin (4/8/2025), India dan Brasil tertarik dengan impor energi Rusia dan tidak akan menyerah pada ancaman Presiden AS Donald Trump, tulis surat kabar Global Times, mengutip para pakar Tiongkok.
“Tarif Trump telah memberikan pukulan berat bagi berbagai negara. Daripada menunggu kehancuran secara pasif, lebih baik bersikap tegas untuk mengurangi kerugian,” ujar peneliti di Akademi Ilmu Sosial Tiongkok, Lu Xiang, kepada surat kabar tersebut.
Setiap negara, menurutnya, berhak untuk melindungi kepentingan sahnya. Brasil serta India bertindak berdasarkan prinsip tersebut, yang mencerminkan upaya mereka untuk mencapai kebijakan luar negeri yang independen.
Pemerintahan Trump diyakini oleh Lu memperlakukan tarif sebagai ‘obat mujarab’ untuk semua kesulitan yang dihadapinya, namun kenyataan berkata lain.
Di lain sisi, Direktur departemen penelitian di Institut Strategi Nasional Universitas Tsinghua, Qian Feng, mengatakan bahwa India tidak akan meninggalkan pembelian minyak Rusia meskipun ada tekanan AS.
Ia menunjukkan bahwa India adalah negara yang kekurangan minyak, dan minyak Rusia menawarkan keuntungan bagi New Delhi berupa penghematan biaya dan kualitas tinggi, serta perlindungan bagi pembangunan ekonominya.
Sebagai analisis, Qian menambahkan bahwa upaya Washington untuk menekan New Delhi dapat mendorong India untuk kembali ke kebijakan keseimbangan di antara negara-negara besar.
Diketahui, bahwa Trump sebelumnya mengumumkan rencana untuk mengambil tindakan terhadap negara-negara pengimpor minyak Rusia, termasuk India dan Brasil. (ard)













Discussion about this post