KAMU KUAT – Jakarta
Mengawetkan makanan agar tidak mudah rusak dan mampu bertahan lebih lama jangka waktu konsumsinya dapat dilakukan dengan beberapa cara. Biasanya, untuk makanan tertentu bagi orang awan, diawetkan dengan cara menaruhnya di dalam lemari pendingin baik proses pendinginan, maupun pembekuan.
Namun, agar dapat bertahan lebih lama lagi dibandingkan dengan cara pendinginan dan pembekuan pada makanan atau produk tertentu, biasanya ditambahkan bahan pengawet atau preservative. Untuk lebih jelasnya apa yang disebut dengan pengawet, berikut penjelasan yang dilansir laman Istana UMKM POM, Sabtu (9/7/2022).
Pengawet (Preservative) adalah BTP (bahan tambahan pangan) untuk mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman, penguraian, dan perusakan lainnya terhadap Pangan yang disebabkan oleh mikroorganisme.
Pengawet makanan adalah segala bahan kimia yang ditambahkan ke dalam makanan untuk menjaga kesegaran dan mutunya. Bahan pengawet makanan tersebut sebetulnya termasuk dalam bahan tambahan pangan atau BTP. Beberapa BTP aman dikonsumsi, terutama jika penggunaannya dalam batas aman yang dianjurkan.
1. Pengawet yang Aman Digunakan pada Pangan Olahan
Dilansir dari Peraturan Kepala BPOM RI No. 36 tahun 2013, beberapa jenis bahan pengawet makanan yang diizinkan untuk digunakan dalam makanan adalah:

Prinsipnya, bahan-bahan yang sudah disebutkan di atas aman digunakan jika mengikuti batasan yang dianjurkan BPOM. Ini berarti, penggunaan bahan pengawet yang melebihi batas aman dinilai berbahaya bagi kesehatan.
2. Pengawet yang Berbahaya Jika Digunakan pada Pangan Olahan
Lain halnya dengan jenis pengawet di bawah ini yang memang dilarang untuk ditambahkan ke dalam makanan. Berikut ini ada dua macam pengawet berbahaya yang sering digunakan pada pangan olahan.
1. Asam borat (boraks)
Biasa digunakan sebagai antijamur kayu, pembasmi kecoa, antiseptik, salep kulit, bahan deterjen, sabun, cat, desinfektan, pestisida, serta keramik. Boraks sering ditambahkan ke dalam bakso, mi basah, kerupuk, dan pangsit. Tujuannya adalah menambahkan kekenyalan. Padahal, boraks bersifat toksik atau beracun terhadap semua sel.
Jika bahan ini tertelan, apalagi dalam jumlah banyak, akan berdampak negatif terhadap saraf, ginjal dan hati. Gejala yang bisa timbul adalah tidak enak badan (malaise), mual, sakit perut hebat, perdarahan pada saluran cerna, muntah darah, diare, demam, dan sakit kepala.
Dalam jangka panjang, konsumsi boraks juga bisa meningkatkan risiko kanker, mengganggu sistem reproduksi dan hormon, serta fungsi sistem kekebalan tubuh.
2. Formalin
Merupakan larutan tak berwarna dan berbau tajam, formalin bersifat antimikroba. Tidak heran jika formalin banyak dimanfaatkan sebagai bahan pembersih lantai dan pakaian, pembasmi serangga, pupuk dan parfum, pengawet produk kosmetik serta mayat. Banyak pedagang nakal yang suka menambahkan formalin pada ikan segar, ayam potong, mi basah dan tahu.
Senyawa kimia ini dapat menyebabkan efek akut berupa reaksi alergi dan iritasi, kemerahan, mata berair, mual, muntah, sakit perut dan pusing. Formalin pun bersifat karsinogenik yang meningkatkan kemungkinan penyakit kanker.
Tidak hanya formalin dan boraks, jenis pengawet makanan berbahaya lain yang juga bersifat karsinogenik, meliputi:
• Kalium bromat
• Dietilpirokarbonat
• Dulsin
Sahabat kanal remaja dan anak muda KAMU KUAT! Avesiar.com, seperti apa tanggapan dan pendapat dari beberapa siswa-siswi dan mahasiswa sebagai generasi muda? Yuk kita cek!
Ajwareva Kireisa Kansha, Siswi Kelas 10, SMA Negeri 6 Semarang, Jawa Tengah

Ajwa mengakui bahwa yang ia ketahui tentang pengawet makanan adalah, salah satu zat tambahan yang dipakai untuk memperpanjang masa simpan suatu makanan dan juga agar makanan tidak cepat basi, tetap terlihat segar dan praktis utk disajikan
“Saya sebenarnya suka makanan berpengawet karena praktis dan mudah ditemukan.. kadang rasanya juga lebih enak. Tapi saya berusaha tidak mengonsumsinya secara berlebihan, karena saya tau ada sisi buruknya bagi kesehatan,” ujarnya ketika ditanya apakah menyukai makanan berpengawet.
Menurut pendapat Ajwa, jika pengawet makanan dikonsumsi terus menerus dalam jumlah banyak, dampaknya bisa buruk bagi tubuh. Beberapa pengawet kimia bisa memicu gangguan kesehatan tubuh seperti masalah pencernaan, alergi, bahkan bisa sampe penyakit serius jika berlebihan dan tanpa diimbangi dengan makanan segar dan alami.
Afirstiselva A. Thursina, Siswi Kelas 12, SMA Negeri 6 Semarang, Jawa Tengah

Afirstiselva A. Thursina, Siswi Kelas 12, SMA Negeri 6 Semarang, Jawa Tengah, punya pendapat sendiri tentang pengawet makanan.
Pengawet makanan, menurut Selva, merupakan zat aditif yang biasanya digunakan pada suatu hidangan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan reaksi kimia yang menyebabkan pembusukan, sehingga dapat memperpanjang umur simpannya.
“Tergantung jenis makanannya, saya memang suka sama makanan yang berpengawet, tapi bukan yang kuat gituu.. Jadi masih dalam batas yang diwajarkan dan pastinya dalam porsi yang tidak berlebihan,” ucapnya.
Ditambahkannya, dampak pengawet makanan pada tubuh bervariasi, mulai dari masalah pencernaan, alergi, hingga peningkatan risiko penyakit kronis.
Aqsha Rizad Ibrahim, Mahasiswa Semester 3, Politeknik Pekerjaan Umum Semarang, Jawa Tengah

Lain halnya pendapat dari mahasiswa satu ini. Menurut Aqsha, pengawet makanan itu semua zat yang ditambahkan ke suatu makanan biar makanan itu bisa tahan lama setelah diproduksi.
“Pengawet sebenarnya nggak selalu buruk atau berbahaya. Bahan-bahan alami kaya garam atau gula juga bisa ngawetin makanan. Dan itu udah diterapin sama manusia sejak ribuan tahun yang lalu, jauh sebelum pengawet-pengawet berbahan kimia seperti yang kita kenal sekarang,” katanya.
Meskipun begitu, imbuh Aqsha, kata “pengawet makanan” jika diucapin di zaman sekarang ini, umumnya bakal memiliki konotasi buruk. Itu karena pengawet makanan di zaman sekarang hampir semuanya dari bahan kimia. Walaupun, lanjutnya, kebanyakan udah lolos uji BPOM, namun tetap saja mereka punya efek samping jika dikonsumsi terus-menerus oleh manusia.
“Umumnya makanan yang udah ditambahin pengawet itu ga bakal mengalami perubahan rasa. Beda cerita kalo dia ditambahin penyedap. Tapi biasanya, makanan yang udah ditambahin pengawet itu punya 2 “kelebihan”; murah dan tahan lama. Ini yang biasanya jadi pertimbangan saya kalo beli makanan yang ada pengawetnya,” bebernya.
Jadi, jika ditanya suka atau tidak” Ia mengakui biasanya mempertimbangkan 2 keuntungan tadi, bukan dari segi rasanya. Makanan berpengawet bagus buat distok, dan jadi opsi pertama jika ada makanan serupa yang harganya lebih mahal karna lebih alami.
So, bagaimana dengan kamu? Jika kamu sebagai sahabat KAMU KUAT! punya pendapat tersendiri, silahkan bisa menulis di kolom komentar yang ada di akhir artikel ini. (app/rzk)













Discussion about this post