Avesiar – Jakarta
Salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang memiliki keistimewaan atau karomah yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash. Doanya selalu diijabah Subhanahu Wa Ta’ala karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah mendoakan hal itu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
“Ya Allah, tepatkan lemparan panahnya dan kabulkanlah doanya.” (HR. al-Hakim, 3/500).
Mendapat julukan Assabiqunal Awwalun, atau 10 orang pertama yang masuk Islam, ia adalah sahabat yang berasal dari Suku Bani Zuhrah, yaitu klan dari suku Quraisy yang bersama-sama penduduk Mekkah menjaga Ka’bah.
Ayahnya adalah Abu Waqqas Malik bin Uhaib bin Abdu Manaf bin Zuhrah dan Uhaib bin Abdu Manaf adalah paman dari pihak ayah Aminah binti Wahab yang merupakan Ibu kandung Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Sesuai garis nasab di atas, maka diketahuilah bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash adalah sepupu Aminah (ibu kandung Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam). Sehingga Sa’ad bukan hanya sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, melainkan juga paman Nabi berdasarkan garis keturunan ibu beliau.
Sedangkan dari garis keturunan Ayah, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam memiliki 12 orang paman yaitu Haris sebagai yang tertua dan Hajal atau Mughirah paman beliau yang termuda.
Sa’ad bin Abi Waqqash secara fisik memiliki perawakan yang pendek, kekar, dan memiliki rambut yang lebat. Oleh karena itu, orang-orang sering membandingkannya dengan singa muda. Untuk membedakannya dengan Sa’ad yang bernama sama, mereka memanggilnya dengan Sa’ad Zuhrah. Sa’ad R.A sangat dekat dengan orang tuanya, terkhusus ibunya.
kecintaan Sa’ad bin Abi Waqqash R.A sangat besar kepada ibunya. Namun, saat beliau masuk Islam, ibunya menampakkan perasaan tidak suka dan bahkan mengancamnya dengan berbagai ancaman yang merenyuhkan hatinya.
Sa’ad bercerita kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Ketika ibu saya mendengar berita saya masuk Islam, dia menjadi sangat marah. Dia mendatangi saya dan berkata, “Wahai Sa’ad! Agama apa yang telah engkau rangkul ini, yang menjauhkanmu dari agama ayah dan ibumu?”
Setelah itu dia melanjutkan, “Demi tuhan, apakah engkau memilih meninggalkan agama barumu ini atau aku tidak akan mau makan dan minum sampai aku mati. Hatimu akan hancur oleh kesedihan, dan penyesalan akan menghabisimu karena perbuatan yang telah engkau lakukan, dan semua orang akan mencelamu selamanya.”
Mendengar perkataan itu, Sa’ad bin Abi Waqqas menjawab, “Jangan lakukan itu, wahai ibuku. Karena saya tidak akan melepaskan agama ini untuk apapun.”
Mendengar itu, ibunya kembali melanjutkan ancamannya. Selama berhari-hari dia tidak makan dan minum sehingga menjadi kurus dan lemah. Berkali-kali Sa’ad bin Abi Waqqas mendatangi ibunya sambil bertanya apakah ibunya mau makan dan minum, tetapi ibunya terus menolak. Ibunya bersikeras tidak akan makan dan minum sampai meninggal, kecuali Sa’ad mau meninggalkan Islam.
Sa’ad berkata kepada ibunya, “Oh ibuku, meskipun cintaku sangat kuat untukmu, cintaku untuk Allah dan Rasul-Nya lebih kuat. Demi Allah, jika engkau memiliki seribu nyawa dan satu demi satu nyawa pergi, aku tidak akan meninggalkan agamaku untuk apapun.”
Mendengar kerasnya hati Sa’ad, ibunya pun mengalah dan akhirnya mau makan dan minum kembali. Kisah ini menceritakan tentang keteguhan hati Sa’ad bin Abi Waqqas dalam menjaga kepercayaannya. Akibat peristiwa ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah Lukman, ayat 14-15:
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman: 14)
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Luqman: 15)
Doanya Mustajab
Saad bin Abi Waqqash adalah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang memiliki doa yang manjur dan mustajab. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam meminta kepada Allah agar doa Sa’ad menjadi doa yang mustajab tidak tertolak. Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
“Ya Allah, tepatkan lemparan panahnya dan kabulkanlah doanya.” (HR. al-Hakim, 3/500).
Doa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ini menjadikan Sa’ad seorang prajurit pemanah yang hebat dan ahli ibadah yang terkabul doanya.
Di era kekhalifahan Umar bin Khattab , Sa’ad bin Abi Waqqash diamanahi jabatan sebagai pemimpin wilayah Kufah. Namun satu hari, terdapat penduduk Kufah yang mengeluhkan Sa’ad dan menyebutkan keburukannya. Umar tentu tak langsung percaya. Ia mengutus seseorang untuk pergi ke Kufah dan menyelidiki tentang kepemimpinan Sa’ad.
Benar saja, sang utusan selalu mendapati orang-orang menyebut kebaikannya. Setiap kali tiba di masjid , utusan tersebut mampir kemudian bertanya pada penduduk Kufah tentang Sa’ad. Tak ada satu pun masjid yang dilewati dan didatanginya, kecuali semua orang mengagumi kebaikan-kebaikan Sa’ad bin Abi Waqqash.
Hingga kemudian si utusan tiba di sebuah masjid milik Bani Abs. Di sana terdapat seorang bernama Usamah bin Qatadah yang memfitnah Sa’ad bahwasanya sang sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tak pernah mengikuti Sariyah, yakni perang yang dipimpin langsung oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Usamah juga menuduh bahwasanya Sa’ad tak pernah adil dalam pembagian dan menetapkan hukum dengan batil. Sampailah kabar fitnah Usamah itu ke telinga Sa’ad bin Abi Waqqash.
Ia pun kemudian berkata, “Demi Allah, aku benar-benar berdoa untuk tiga hal, ‘Ya Allah jika hambamu ini (Usamah bin Qatadah) berdusta, berdiri karena riya atau sum`ah, maka panjangkanlah umurnya, panjangkanlah kefakirannya, dan hadapkanlah dia kepada cobaan.”
Sang perawi, yakni Abdul Malik bin Umair berkata, “Setiap kali dia (Usamah bin Qatadah) ditanya, “Bagaimana keadaanmu?” Dia menjawab, “Aku adalah orang tua yang telah terkena doanya Sa`ad bin Abi Waqqash.”
Abdul Malik lalu berkata, “Setelah itu aku melihatnya buta karena tua.”
Terdapat juga riwayat lain seperti berikut ini.
Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Penduduk kota Kuffah melaporkan Sa’ad, yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash radhitallahu ‘anhu kepada ‘Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu. ‘Umar lantas memberhentikannya dari jabatannya, dan mengangkat ‘Ammar bin Yasir sebagai penggantinya. Mereka melaporkan hingga menyebutkan bahwa Sa’ad tidak mengerjakan shalat dengan baik (ketika menjadi imam). Umar kemudian mengutus seseorang kepadanya. Ia berkata, “Hai Abu Ishaq, sesungguhnya mereka berkata bahwa kamu tidak mengerjakan shalat dengan baik!” Sa’ad radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Demi Allah. Sesungguhnya saya telah mengerjakan shalat dengan mereka seperti shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menguranginya. Aku mengerjakan shalat Isya, aku perpanjang dua rakaat pertama dan kupersingkat dua rakaat lainnya.” Umar berkata, “Itulah dugaan kami tentang Anda, hai Abu Ishaq!”
Umar mengutus seseorang atau beberapa orang bersamanya ke kota Kufah untuk menanyakan kebenaran laporan tentang Sa’ad kepada penduduk kota Kufah. Tidak satu masjid pun dilewati, melainkan ia bertanya tentang Sa’ad. Ternyata, mereka memujinya dengan baik. Setelah utusan Umar memasuki masjid Bani ‘Abs, berdirilah seorang lelaki di antara mereka bernama Usamah bin Qatadah, ia dijuluki dengan Abu Sa’dah.
Usamah berkata, “Adapun jawaban pertanyaan Anda kepada kami, sesungguhnya Sa’ad tidak pergi bersama pasukan, tidak membagikan pemberian dengan sama rata dan tidak berlaku adil dalam memutuskan perkara.”
Sa’ad bin Abi Waqqash berkata setelah mendengar fitnah itu, “Ketahuilah! Demi Allah, aku benar-benar akan berdoa dengan tiga keburukan:
“Ya Allah, apabila hamba-Mu ini (Usamah) berdusta, ia melakukannya karena pamer serta mencari popularitas, maka panjangkanlah umurnya dan perlama kemiskinannya, serta hadapkanlah dia kepada banyak bencana.” Setelah itu, setiap kali ditanya, maka Usamah menjawab, “Aku adalah seorang yang sudah tua renta dan ditimpa bencana. Doa Sa’ad bin Abi Waqqash atasku telah dikabulkan.”
Abdul Malik bin Umair perawi hadits ini berkata dari Jabir bin Samurah, “Sesudah itu, aku melihat kedua alis matanya Usamah jatuh di atas kedua matanya karena tua. Ia sengaja menghadang gadis-gadis belia di jalan lalu mencolek tubuh mereka dengan jemarinya.” (Muttafaq ‘alaih).
Wallahua’lam. (adm)












Discussion about this post