Avesiar – Jakarta
Persaingan antara lembaga pendidikan tinggi untuk menampilkan kualitas kampusnya di hadapan masyarakat terus meningkat seiring dengan berbagai prestasi dan pencapaian yang diraih masing-masing universitas atau sekolah tinggi.
Namun, akhir-akhir ini, tidak hanya kampus swasta saja yang dituntut untuk memperoleh revenue atau pendapatan bagi perguruan tingginya, universitas negeri pun demikian. Di kala universitas negeri berlomba untuk menerima mahasiswa melalui beberapa gelombang penerimaan mahasiswa baru, universitas dan sekolah tinggi swasta juga harus mencari ide untuk memperoleh revenue (pendapatan, red) agar operasional dan pengembangan lembaga pendidikan tinggi tersebut dapat dipenuhi.
Tidak hanya itu. Demand untuk masuk ke perguruan tinggi swasta pun juga masih belum stabil paska pandemi Covid-19. Hal ini tentu menjadi pembahasan menarik sejauh mana lembaga perguruan tinggi swasta harus menyikapi perkembangan yang ada.
Baru-baru ini, Pemimpin Redaksi Avesiar.com, Ave Rosa A. Djalil, mewawancarai secara khusus Rektor Universitas Mercu Buana Jakarta, Prof. Dr. Andi Andriansyah, M. Eng, di kampus kawasan Meruya, Jakarta Barat.
Ditanya mengenai demantren penerimaan mahasiswa baru, Prof Andi, demikian ia disapa, menyebut bahwa belakangan ini menurun.
“Sebenarnya kalau ingin dilihat trennya 2 tahun belakangan ini turun. Saya melihatnya secara global, utamanya di universitas saya, kalau mau dirinci hampir semua turun. Manajemen, yang biasanya memang naik. Kan kita kan yang besarnya jurusan manajemen dan akutansi, kemudian komunikasi. Kemudian yang lain standar, seperti psikologi. Kalau di jurusan Teknik yang masih punya pasar baik di Teknik Sipil,” bebernya.
Dikatanya, bahwa mereka para rektor sempat beberapa kali bertemu dengan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Brian Yuliarto, Ph.D, dan menyampaikan tentang kapasitas Perguruan Tinggi Negeri yang ‘agak terlalu terbuka’.
“Ini karena dulu kita hanya mengenal tes berbasis prestasi dan tes berbasis tes kemampuan seperti yang sekarang dinamakan UTBK. Atau dulu kalau jalur prestasi yaitu PMDK dan ujian nasional yaitu UMPTN,” jelasnya.
Dulu, lanjutnya, setelah seleksi tersebut selesai, sisa yang tidak diterima PTN masuk ke Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Sekarang ini, kata dia, setelah 2 jenis tes tersebut, masih dibuka lagi oleh PTN berbagai jenis tes masuk, sampai ada yang diberi nama tes mandiri internasional, dengan biaya masuk yang fantastis.
“Yang rumit itu PTN berbadan hukum, karena terlalu besar kapasitas “mandiri”nya. Yang paling tinggi itu setahu saya itu Universitas Brawijaya. Akhirnya kami sampaikan ke Menteri, “Pak, PTN-BH dibatasi dong, Pak.” Sampai ke DPR RI. Kalau nggak salah tanggal 11 Juli lalu. “Pak, tolong disetop kegiatan jalur mandiri ini,”” jelasnya
Dikatakannya, Jalur Mandiri yang memang di luar anggaran. Karena memang mereka harus mencari income tambahan daripada general income. Cuma kalau idealnya, PTN-BH ini kan sudah dapat anggaran dari pemerintah dan macam-macamnya. Selayaknya, mereka menambah income dengan cara hilirisasi produk. Seperti aneka jenis ‘bisnis’ di kampus, kemudian jasa-jasa konsultasi, proyek dan lain sebagainya.
Seperti IPB yang punya Botanical Square. Ke situ larinya. Mungkin karena tidak mau berpikir panjang dan cari mudahnya saja.
“Kemudian di sisi APK (Angka Partisipasi Kasar) pendidikan. Dianggap bahwa jumlah masyarakat Indonesia yang ingin jadi mahasiswa itu sedikit katanya. Masih di angka 31-32 persen. Dan memang yang saya tahu, masyarakat memandang, semahal apapun negeri, mereka tetap ingin masuk ke PTN,” bebernya.
Kalau mandiri gelombang 2 saja, imbuhnya, jumlahnya sudah setara PTS. Sedangkan gelombang 3 dan 4, hampir semua diambil PTN.
“Kami ini tingga sisanya saja. Efeknya, coba dicek saja. Namun, Alhamdulillah, PTS seperti kami ini masih lumayan besar, sedangkan yang dipinggir-pinggir atau yang tidak punya predikat “unggul” itu yang terkena imbasnya. Yang berhubungan dengan ketersediaan banyak dosen berpendidikan S2, dan lainnya,” ungkapnya.
Mengenai daya saing, Prof Andi menyebut, terjadi perubahan konsep pendidikan tinggi. Sekarang kurikulum kita berbasis OBE (Outcome-Base Education), yaitu pendekatan pendidikan yang fokusnya pada hasil atau capaian pembelajaran yang diinginkan, bukan hanya materi yang diajarkan.
Tujuan pembelajaran atau kompetensi yang harus dimiliki lulusan dalam sistem ini diidentifikasi sejak awal, dan semua kegiatan pembelajaran, metode pengajaran, serta penilaian dirancang untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Nah, sistem ini bertujuan memastikan mahasiswa memiliki pengetahuan dan keterampilan yang siap diaplikasikan di dunia kerja.
“Jika capaiannya tidak tercapai. Maka dosen harus membuat capaiannya tercapai. Kalau bahasa dosen, ya remedial. Kalau bahasa guru harus memberikan upaya untuk mencapai. Dan ada perbaikan,” terangnya.
Menurut Prof Andi, Mercu Buana Sendiri masih tetap buka pendaftaran mahasiswa hingga pekan ke-3 di September 2025 ini. Karena kampus kami memberi kesempatan mahasiswa 3 kali tidak masuk.
Target lulusan seperti apa yang ingin diciptakan oleh Universitas Mercu Buana, ya kami menargetkan semua jurusan berpredikat “unggul”. Karena, menurut dia, memang ada beberapa jurusan yang belum. Misalnya program S3 Komunikasi. Karena baru buka, ya predikatnya masih “baik”. Dan juga S3 Teknik Elektro, itu juga baru. Dan juga ada program profesi Insinyur dan arsitek yang masih baru. Ditambah dengan Magister Arsitek. Jadi ada 5 prodi baru di tahun ini. Dan itu kan nggak mungkin dapat predikat unggul karena masih baru. Dan ada juga S2 Informatika.
Pada akhirnya kami butuh dosen berkualitas dan metode mengajar yang berkualitas. Ketika kita punya program S3, maka mahasiswa S3 harus mengadakan riset. Nanti hasilnya terpakai oleh mahasiswa S1 dan S2. Efeknya pada S1 yang berdampak pada case base, berbasis kasus dan barbasis projek.
Dengan demikian kita mencoba menaikkan kualitas dengan mencari yang tadi itu, mencari terobosan baru. Misalnya, case base dan project base.
Yang diharapkan dari dosen dan mahasiswa baru dari semester dan yang akan datang adalah, kami berharap ada intake yang memadai. Agar proses tata kelola ini dapat berjalan dengan baik. Karena PTS ini sangat bergantung pada banyaknya jumlah mahasiswa. Karena income utamanya dari mahasiswa.
Itu yang pertama. Yang kedua, memang kami juga memikirkan mendapatkan income-income lain di luar biaya yang dibayarkan oleh mahasiswa untuk kuliah. Bismillah, akhirnya nanti dosen yang akan berperan. Kami mulai merintis, Pusat Studi. Baru 1 bulan ini.
Nanti dosen dalam satu bidang berkumpul, kemudian merancang macam-macam yang diawali dengan riset. Cuma bagaimana riset ini naik tahapannya, dari atas kertas berupa jurnal, paper, menjadi sebuah sebuah riset yang bisa dihilirisasi. Bahasanya, bisa dijual.
“Yang sudah ada itu Mesin (teknik mesin), sebuah alat nama Slifa, yaitu Speed Limiter. Background-nya adalah banyaknya angka kecelakaan kendaraan berat. Truk lah ya. Penyebab utamanya adalah tidak adanya batasan kecepatan. Mulai dari fatique analysis dan lainnya. Sudah bekerja sama dengan dinas perhubungan dan Pertamina,” paparnya.
Khusus untuk mencapai revenue lain dengan melalui Pusat Studi, menurut Prof Andi, program tersebut sudah disosialisasikan. Dan Pusat Studi sudah dibentuk.
“Rencana proyeknya itu dengan menggunakan nama kampus dan kami coba upayakan pusat studi dengan berbadan hukum Perseroan Terbatas. Nanti selain kredit, juga profit sharing. Daripada nanti mereka bolos, bahasanya kan sebelumnya mereka nggak masuk kelas karena mengerjakan proyek tersebut harus bolos. Nah, lebih baik simbiose mutualisme. Sehingga di akreditasi nanti ada namanya “recognisi”,” ucapnya.
Jadi kalau dosen mengerjakan proyek resmi diketahui kampus, maka dosennya dihargai oleh pihak luar prestasinya. Daripada mereka jalan sendiri. Ada banyak potensi revenue dari banyak ide-ide baru nanti di Pusat Studi.
Dosen harus meningkat kemampuan praktisinya yaitu dosen tetap yang berkantor di kampus. Kami juga memberikan beasiswa untuk sekolah S3 bagi dosen sesuai dengan jadwal anggaran. Tapi kalau mau lebih cepat di luar jadwal anggaran, dosen bisa membiayanya sendiri.
“Secara institusi, kalau di Kementerian, itu Cluster Penelitian. Nah, cluster itu dibagi menjadi cluster Mandiri, Utama, Madya, Binaan. Kami dulu, beberapa puluh tahun, bisa dikatakan, di cluster Utama. Mungkin 20 tahun lalu. Nah, sekaran kami naik ke cluster Mandiri. Nah, cluster Mandiri itu hanya ada sekitar 40 kampus di Indonesia. Cluster Mandiri ini mendapatkan plafon lebih untuk mendapatkan Hibah. Kami mendapatkan cluster Mandiri ini ada hitungannya. Jumlah riset, jumlah publikasi, jumlah dana penelitian. Paling banyak dari jurusan Teknik dan Informatika. Rata-rata kami tertinggi karena mendapat dana Hibah yang tinggi,” terang Prof Andi mengenai prestasi terbaru dari Universitas Mercu Buana, menutup wawancara. (Ave Rosa A. Djalil)











Discussion about this post