Avesiar – Jakarta
Pemerintah Inggris memberikan pukulan telak ke pemerintah Israel melalui konfirmasi bahwa mereka melarang mahasiswa dari Israel untuk bergabung dengan salah satu akademi pertahanan paling bergengsi di negara itu, Royal College of Defence Studies, Ahad (14/9/2025), dikutip dari The New ArabMahas.
Disebutkan bahwa larangan tersebut akan berlaku mulai tahun depan, kata pemerintah, dan muncul di tengah perang brutal Israel di Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 64.000 warga Palestina dan menghancurkan wilayah tersebut sejak Oktober 2023.
Langkah tersebut, menurut The Telegraph, menandai pertama kalinya lembaga tersebut melarang warga Israel sejak didirikan pada tahun 1927.
Ditambahkan laporan tersebut, seorang juru bicara Kementerian Pertahanan mengatakan bahwa program pendidikan militer Inggris secara historis terbuka untuk orang-orang dari “berbagai negara, dengan semua program militer Inggris menekankan kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional”.
“Keputusan pemerintah Israel untuk lebih meningkatkan operasi militernya di Gaza adalah salah,” lanjut juru bicara tersebut.
Mereka lebih lanjut mengatakan bahwa “harus ada solusi diplomatik untuk mengakhiri perang ini sekarang, dengan gencatan senjata segera, pemulangan sandera, dan lonjakan bantuan kemanusiaan bagi rakyat Gaza”.
Tentara Israel telah mengungsi lebih jauh, menargetkan sekolah, tempat penampungan, rumah sakit, dan tempat ibadah, serta menewaskan lebih dari 200 jurnalis sejak awal perang.
Direktur jenderal Kementerian Pertahanan Tel Aviv, Amir Baram,, yang sebelumnya belajar di perguruan tinggi yang sama marah atas Keputusan untuk melarang warga Israel dari akademi tersebut.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendapat kecaman dari keluarga para tawanan di Gaza, yang menuduhnya menyabotase prospek kesepakatan gencatan senjata. (ard)













Discussion about this post