Avesiar – Jakarta
Istilah standar ganda atau dalam bahasa Inggris “double standard” sering dijumpai pada topik-topik tertentu di masyarakat. Namun, apa yang dimaksud dengan standar ganda atau double standard tersebut?
Standar ganda atau double standard, dilansir English Wikipedia, adalah penerapan serangkaian prinsip yang berbeda untuk situasi yang, pada prinsipnya, sama. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan perlakuan di mana satu kelompok diberi lebih banyak keleluasaan daripada kelompok lain.
Standar ganda muncul ketika dua orang, kelompok, organisasi, keadaan, atau peristiwa atau lebih diperlakukan berbeda meskipun seharusnya diperlakukan dengan cara yang sama. Standar ganda “menyiratkan bahwa dua hal yang sama diukur dengan standar yang berbeda”.
Menerapkan prinsip yang berbeda pada situasi yang serupa mungkin menunjukkan atau mungkin tidak menunjukkan standar ganda. Untuk membedakan antara penerapan standar ganda dan penerapan standar yang berbeda yang valid terhadap keadaan yang hanya tampak sama, beberapa faktor harus diperiksa.
Salah satunya adalah kesamaan keadaan tersebut, apa persamaan antara keadaan tersebut, dan dalam hal apa perbedaannya? Faktor lainnya adalah filosofi atau sistem kepercayaan yang menginformasikan prinsip mana yang harus diterapkan pada keadaan tersebut.
Standar yang berbeda dapat diterapkan pada situasi yang tampak serupa berdasarkan kebenaran atau fakta yang memenuhi syarat yang, setelah diteliti lebih lanjut, membuat situasi tersebut berbeda (misalnya, realitas fisik atau kewajiban moral).
Namun, jika situasi yang tampak serupa telah diperlakukan berdasarkan prinsip yang berbeda dan tidak ada kebenaran, fakta, atau prinsip yang membedakan situasi tersebut, maka standar ganda telah diterapkan.
Jika diidentifikasi dengan benar, standar ganda biasanya menunjukkan adanya kemunafikan, bias, atau perilaku tidak adil.
Standar ganda diyakini berkembang dalam pikiran orang-orang karena berbagai kemungkinan alasan, termasuk: mencari-cari alasan untuk diri sendiri, emosi yang mengaburkan penilaian, memutarbalikkan fakta untuk mendukung keyakinan (seperti bias konfirmasi, bias kognitif, bias ketertarikan, prasangka, atau keinginan untuk menjadi benar). Manusia cenderung mengevaluasi tindakan orang lain berdasarkan siapa yang melakukannya.
Dalam sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2000, Dr. Martha Foschi mengamati penerapan standar ganda dalam tes kompetensi kelompok. Ia menyimpulkan bahwa karakteristik status, seperti gender, etnis, dan kelas sosial ekonomi, dapat menjadi dasar pembentukan standar ganda di mana standar yang lebih ketat diterapkan kepada orang-orang yang dianggap berstatus lebih rendah.
Dr. Foschi juga mencatat bagaimana standar ganda dapat terbentuk berdasarkan atribut-atribut lain yang dinilai secara sosial seperti kecantikan, moralitas, dan kesehatan mental. (adm)













Discussion about this post