Avesiar – Jakarta
Pengampunan diajukan oleh Ibu dari jurnalis Prancis yang dipenjara, Christophe Gleizes, kepada presiden Aljazair. Dilansir The New Arab, Selasa (16/12/2025), sang Ibu menulis surat meminta agar ia mengampuni putranya dari hukuman tujuh tahun atas tuduhan terkait terorisme.
Atas tuduhan “mengagungkan terorisme” pada bulan Juni, seorang penulis olahraga bernama Gleizes dinyatakan bersalah.
“Dengan hormat saya meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan pengampunan kepada Christophe, agar ia dapat memperoleh kembali kebebasannya dan keluarganya,” tulis Sylvie Godard dalam surat tersebut, yang bertanggal 10 Desember dan dilihat oleh AFP pada hari Senin.
Pengacara Gleizes juga berupaya untuk mendapatkan persidangan baru di pengadilan tertinggi negara tersebut.
Jurnalis Prancis itu ditangkap pada Mei 2024 saat melakukan perjalanan ke wilayah Kabylia di timur laut Aljazair untuk menulis tentang klub sepak bola paling berprestasi di negara itu, Jeunesse Sportive de Kabylie.
Pada tahun 2021, ia bertemu dengan kepala Gerakan untuk Penentuan Nasib Sendiri Kabylie (MAK), sebuah kelompok yang berbasis di luar negeri yang ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Aljir.
Pada sidang banding bulan ini, Gleizes mengatakan bahwa ia tidak mengetahui MAK telah terdaftar sebagai organisasi teroris dan meminta maaf kepada pengadilan atas “kesalahan jurnalistiknya”.
Pengadilan banding Aljazair menguatkan hukumannya bulan ini, sebuah keputusan yang oleh ibunya disebut “tidak dapat dipahami”.
“Di mana pun dalam tulisannya, Anda tidak akan menemukan jejak pernyataan yang bermusuhan dengan Aljazair dan rakyatnya,” tulisnya dalam suratnya kepada Presiden Abdelmadjid Tebboune.
Menurut kelompok hak asasi manusia Reporters Without Borders (RSF), Gleizes saat ini adalah satu-satunya jurnalis Prancis yang dipenjara di luar negeri, dan Presiden Prancis Emmanuel Macron telah berjanji untuk berupaya membebaskannya.
Hal itu terjadi di tengah gesekan diplomatik antara Paris dan Aljir setelah Prancis tahun lalu secara resmi mendukung kedaulatan Maroko atas wilayah Sahara Barat yang disengketakan, di mana Aljazair mendukung Front Polisario yang pro-kemerdekaan. (ard)













Discussion about this post