Avesiar – Jakarta
Pemerintah saat ini melakukan relaksasi di dunia pendidikan dengan mengizinkan Pertemuan Tatap Muka dalam bentuk PTM Terbatas, baik dalam bentuk uji coba dan pelaksanaan.
Penerapan protokol kesehatan ketat untuk menghindari penularan atau penyebaran kasus baru pun wajib dilakukan oleh penyelenggara sekolah. Penerapan prokes ini dimulai dari pimpinan sekolah, para guru, hingga pegawai di sekolah, serta memberikan aturan khusus kepada para siswa untuk taat prokes sesuai aturan pemerintah.
Dalam pelaksanaannya, bisa dikatakan bahwa dari sisi psikologis, baik orang tua, anak, dan para pengajar juga telah mengalami masa yang lama tanpa proses mengajar secara offline atau bertatap muka.
Secara otomatis, kebiasaan-kebiasaan lama serta perilaku yang terbentuk bertahun-tahun sebelumnya, menjadi berubah dengan pertemuan yang dilakukan secara online. Hal ini tentu tidak bisa disepelekan, mengingat perilaku siswa yang sudah lebih dari 1,5 tahun berada di rumah, terbiasa dengan tidak masuk sekolah dan sedikit bersosialisasi dengan lingkungan.
Sebaliknya, bagi siswa yang terbiasa mengabaikan prokes karena faktor lingkungannya, mereka malah terlalu banyak bermain, sehingga malas belajar. Hal ini tidak bisa dipungkiri terjadi di banyak wilayah terutama saat meledaknya kasus penularan yang tinggi hanya beberapa bulan lalu.
Namun, menurut dokter ahli kejiwaan atau Psikiater senior dari RSUD Cengkareng Jakarta Barat dr. H. Djoni Hendarwin Ismoyo, SpKJ, kebiasaan lama dalam pertemuan offline akan perlahan terbentuk kembali dengan kesabaran para guru, orang tua, dan siswa. Utamanya dalam mengembalikan semangat belajar secara psikologis.
“Panduan secara khusus sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang telah disampaikan oleh pemerintah. Hanya saja kita sebagai orang Indonesia dan secara khusus umat Islam sedikitnya mempunyai beberapa perilaku yang dibangkitkan kembali yang bisa dijadikan pegangan. Baik untuk membangkitkan semangat belajar dan juga berikhtiar menjaga diri,” terang Psikiater yang kini berusia 65 tahun itu kepada avesiar.com.
Berikut daftar kegiatan untuk membangkitkan semangat belajar dan juga ikhtiar menjaga diri dari hal-hal yang tidak diinginkan :
1. Anak sebaiknya mencium tangan orang tua sebelum berangkat sekolah.
2. Mengucapkan salam sebelum meninggalkan rumah, karena salam adalah doa.
3. Membaca doa yang dicontoh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam agar bagi pembacanya selalu dalam lindungan Allah Subhahanu Wa Ta’ala yaitu :
“Bismillahi, tawakkaltu ’alallah, laa haula wa laa quwwata illaa billaah billâhil ‘aliyyil ‘adhîm”
Artinya, “Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”
4. Demikian pula saat sampai ke rumah. Mengucap syukur sudah selamat kembali ke rumah. Kemudian mengucapkan salam terlebih dahulu.
5. Setelah membersihkan badan dan mengganti pakaian, lakukan kegiatan mencium tangan orang tua.
6. Orang tua dan guru agar mengingatkan anak-anak untuk sholat 5 waktu berjamaah, tilawah Qur’an, sholat Dhuha di rumah, dan bersedekah.
Dokter Djoni melanjutkan, bahwa dari sisi para guru atau pengajar, harus mempunyai motivasi yang luhur dan kuat dengan visi misi yang lebih jauh ke depan.
“Mereka harus berkeyakinan bahwa apa yang mereka ajarkan adalah untuk menciptakan generasi Muslim yang mumpuni, yang mampu menghadapi masa depan yang Lebih sulit, penuh tantangan, dan cobaan,” kata Djoni menekankan.
Sebaiknya, lanjut Psikiater yang suka menyeimbangkan antara terapi medis dengan agamis pada prakteknya itu, seorang guru tidak saja memberikan muridnya contoh cerdas dalam pendidikan knowledge, tapi harus juga cerdas dalam pendidikan karakter, akhlaq, moral, sesuai dengan pemahaman spiritual sesuai keyakinan masing-masing murid. (ard)













Discussion about this post