Avesiar – Jakarta
Berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah bagian dari ibadah yang berpahala. Seorang Muslim dan Muslimah akan senantiasa mengharapkan agar hajat dan keinginannya dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dengan keinginan tersebut, maka berdoa adalah solusinya.
Namun, dalam berdoa ada hal-hal penting yang harus diperhatikan agar amal ibadah tersebut selain diganjar pahala, juga dikabulkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dihimpun dari berbagai sumber, berikut adalah panduan dan adab ketika berdoa.
1. Menghadap Kiblat
Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa ketika seorang muslim berdoa hendaknya menghadap kiblat. Hal ini tercantum dalam surat Al Baqarah ayat 149-150,
“Dan dari manapun engkau (Muhammad) keluar, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil haram, sesungguhnya itu benar-benar ketentuan dari Tuhanmu. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 186,
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga menegaskan dalam haditsnya bahwa doa adalah perkara yang mulia di mata Allah SWT. Dalam riwayat lainnya, beliau juga bersabda,
Artinya: “Mintalah kepada Allah, karena Dia suka diminta. Ibadah yang terbaik adalah menunggu saat salat wajib tiba.”(HR Tirmidzi)
2. Disunnahkan Mengangkat Tangan Ketika Berdoa
sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagaimana termaktub dalam salah satu haditsnya yang diceritakan oleh Ibn Abbas:
“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah bersabda: Apabila engkau memohon kepada Allah, maka bermohonlah dengan bagian dalam kedua telapak tanganmu, dan jangan dengan bagian luarnya. Dan ketika kamu telah usai, maka usaplah mukamu dengan keduanya.” (HR. Ibn Majah 1/373)
Dalam kitab I’anatut Thaibin juz II diterangkan:
“Dan pada waktu berdoa disunnahkan mengangkat kedua tangannya yang suci setinggi kedua bahu, dan disunnahkan pula mengusap muka dengan kedua tangannya seusai berdoa.”
Keterangan ini dikomentari oleh Syaikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdy dalam Al-Hawasyil Madaniyyah dengan sangat singkat:
“Batas maksimal mengangkat tangan adalah setinggi kedua bahu, kecuali apabila keadaan sudah amat kritis, maka boleh melewati tinggi kedua bahu.”
Dewasa ini banyak bermunculan kelompok yang meragukan dan menyangsikan sunnah Rasulullah ini dan mereka menanyakan kembali tentang keabsahannya. Kesangsian ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru, karena dulu telah disinggung oleh Syaikh Muhammad bin Allan al-Siddiqi al-Syafi’i dalam kitab al-Futuhatur rabbaniyyah:
“Telah ada hadits-hadits yang tak terbatas banyaknya mengenai mengangkat tangan ke langit ketika berdoa, barang siapa menganggap itu tidak ada, maka ia telah keliru.”
3. Mengucap shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW.
Terdapat hadits dari Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu yang menyatakan:
“Semua doa itu terhalang, sampai dibacakan shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Disadur dari Silsilah Ahadits Shahihah, keterangan hadits no. 2035
Karena, bagian dari adab dalam doa, sebelum berdoa hendaknya kita membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih dahulu. Semoga dengan ini akan semakin memperbesar peluang dikabulkannya doa.
4. Pilih Waktu Terbaik
Waktu terbaik atau waktu istijabah tersebut adalah waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi umat muslim. Meskipun pada dasarnya berdoa tidak mengenal waktu dan tempat, umat muslim juga tetap perlu memerhatikan waktu-waktu musjatab dengan harapan doa dapat terkabul.
Beberapa waktu di antaranya yakni sepertiga malam terakhir, saat berbuka puasa, antara azan dan iqamah, saat azan berkumandang, sujud dalam salat, dan saat turun hujan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
Artinya: “Dua doa yang tidak akan tertolak atau paling tidak jarang ditolak oleh Allah SWT yaitu antara azan dan iqamah serrta berdoa ketika turun hujan,” (HR Abu Dawud).
5. Berwudhu, bersiwak atau menggosok gigi, dan memakai wangi-wangian
6. Memilih Kalimat Singkat, Padat, dan Berisi
Ketika berdoa, hendaknya seseorang memilih kalimat yang singkat, padat, serta berisi. Tidak perlu bertele-tele agar permohonan dapat tersampaikan dengan baik.
7. Tidak Berdoa untuk Keburukan
Adab kedua yang harus diperhatikan ketika berdoa pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala ialah tidak untuk memohon keburukan. Baik itu ditujukan kepada keluarga, diri sendiri, harta, maupun kerabatnya. Dari Jabir RA, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Janganlah kalian berdoa buruk atas kalian, jangan berdoa buruk atas anak-anak kalian, jangan berdoa buruk atas pelayan-pelayan kalian, dan janganlah berdoa buruk atas harta kalian; kalian tidak tahu saat mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengabulkan doa kalian.” (HR Muslim)
8. Ulangi Doa Sebanyak 3 Kali
Mengulangi doa sebanyak 3 kali juga menjadi adab yang dapat diterapkan seorang muslim ketika berdoa. Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyukai (mengulangi) doa sebanyak 3 kali dan beristighfar 3 kali. Hadits ini berdasarkan riwayat Ahmad dan lainnya.
9. Merasa Yakin Doanya Pasti Dikabulkan
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Janganlah salah seorang dari kalian berkata, ‘Ya Allah ampunilah aku, jika Engkau berkenan; ya Allah kasihilah aku, jika Engkau berkenan.’ Tetapi hendaklah dia yakin bahwa doanya akan dikabulkan, karena tidak ada yang dapat memaksa kepada-Nya.” (HR Bukhari dan Muslim)
10. Berdoa dengan memuji Allah SWT.
Dari Fadhalah bin ‘Ubad Radhiyallahu anhu, ia berkata:
“Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan duduk-duduk, masuklah seorang laki-laki. Orang itu kemudian melaksanakan sholat dan berdoa: ‘Ya Allah, ampunilah (dosaku) dan berikanlah rahmat-Mu kepadaku.’ Maka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau telah tergesa-gesa, wahai orang yang tengah berdoa. Apabila engkau telah selesai melaksanakan sholat lalu engkau duduk berdoa, maka (terlebih dahulu) pujilah Allah dengan puji-pujian yang layak bagi-Nya dan bersholawatlah kepadaku, kemudian berdoalah.’ Kemudian datang orang lain, setelah melakukan sholat dia berdoa dengan terlebih dahulu mengucapkan puji-pujian dan bersholawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, ‘Wahai orang yang tengah berdoa, berdoalah kepada Allah niscaya Allah akan mengabulkan doamu.'” (HR. at-Tirmidzi dan Abu Dawud)
Doa adalah wujud permintaan kita kepada Allah, maka dari itu ketika meminta sesuatu kepada Allah, sebaiknya dimulai dengan kalimat-kalimat pujian kepada Allah. Seperti misal diawali dengan kalimat, “Ya Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
11. Melemahlembutkan suara ketika berdoa.
Seperti dalam surat Al A’raf ayat 55, Allah meminta hamba-Nya untuk memanjatkan doa dengan lembut atau dengan mengatur volume suara agar tidak terlalu keras tetapi juga tidak terlalu rendah. Hal ini juga terdapat dalam surat Al Isra ayat 110 yang berbunyi sebagai berikut:
“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.”
12. Berdoa dengan penuh harap.
Dalam surat Al Anbiya ayat 90, Allah berfirman:
“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”
Dalam surat tersebut, Allah menyukai hamba-Nya yang berdoa dengan penuh harapan dan rasa takut akan dosa-dosa yang mereka miliki sehingga dapat menghalangi terkabulnya suatu doa.
13. Jauhi harta dan makanan haram.
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyib (baik). Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya, ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan’. Dan Allah juga berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu’. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku’. Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan doanya?” (HR. Muslim).
Adapun sesuatu yang dapat menghalangi terkabulkannya suatu doa yakni karena seseorang memiliki harta atau makanan yang haram. Maka supaya doa lekas dikabulkan, jauhilah semua perkara yang haram dan tidak disukai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
14. Bertobat.
Jika seseorang memiliki harta atau makanan, dan telah melakukan perbuatan keji, maka diwajibkan untuk bertaubat dan menyesali segala perbuatannya agar doa-doa yang ia panjatkan dapat lebih mudah dikabulkan oleh Allah.
“Pasal kesepuluh, ini pasal terpenting dan cukup mendasar dalam pengabulan doa, yaitu tobat, mengembalikan benda-benda kepada mereka yang teraniaya, dan “menghadap” Allah SWT.” (Lihat An-Nawawi, Al-Adzkar Al-Adzkarul Muntakhabah min Kalami Sayyidil Abrar, Kairo, Darul Hadits, 2003 M/1424 H, halaman 372)
15. Berdoa kepada Allah sambil bertawasul
Dengan tawasul yang disyariatkan. Seperti, berdoa dengan menyebut nama Allah Yang Agung, jika Allah dimintai dengan nama itu, pasti Dia mengabulkan permintaan tersebut. Berdoa seperti doa Nabi Yunus. Berdoa kepada Allah dengan menyebut Asmaul Husna. Berdoa dengan menyebut amal-amal shalih yang telah dikerjakan oleh orang yang berdoa. Wallahua’lam. (ard/dari berbagai sumber)













Discussion about this post