Avesiar – Jakarta
Tentara Israel diserang para pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki, saat membantu para pengembala Palestina mencari kambing mereka yang dicuri, Sabtu (24/2/2024), dilansit The New Arab.
Insiden itu terjadi ketika tentara Israel sedang menggeledah pos terdepan Hava setelah para penggembala Palestina mengajukan keluhan bahwa 250 ekor kambing telah dicuri dan dibawa ke pos terdepan Hava pada hari Jumat.
Saat tentara membawa para penggembala ke pos terdepan untuk mengidentifikasi kambing-kambing tersebut, para pemukim mulai berdatangan dengan mobil dari pos-pos sekitar.
Menurut seorang aktivis Israel yang berbicara dengan Haaretz yang menemani militer dan para penggembala, para pemukim mulai mengguncang mobilnya dan menggedor-gedor jendela, mengabaikan permintaan tentara untuk pergi, dan mempertanyakan mengapa warga Palestina berada di pos terdepan.
Aktivis itu menambahkan bahwa pemukim mendorong seorang tentara Israel yang kemudian melepaskan tembakan peringatan ke udara. Seorang pemukim kemudian berteriak pada tentara itu, “Apakah kamu menembak? Bajingan pengkhianat”.
Setelah konfrontasi tersebut, dan kedatangan lebih banyak pemukim, tentara Israel dan para penggembala Palestina pergi.
Menurut seorang pejabat keamanan Israel yang berbicara dengan Haaretz, beberapa kambing diidentifikasi di pos terdepan sebagai telah dicuri, serta mengkonfirmasikan kejadian tersebut.
Insiden ini terjadi setelah Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich mengumumkan bahwa 3.300 permukiman baru Israel di Tepi Barat yang diduduki akan dibangun.
Pengumuman tersebut menuai kecaman internasional, dan Josep Borrel dari Uni Eropa menyebut tindakan tersebut “menghasut dan berbahaya”.
Anthony Blinken juga mengecam pengumuman tersebut, dengan mengatakan: “Pemerintahan kami tetap menentang perluasan pemukiman. Menurut penilaian kami, hal itu hanya melemahkan, bukan memperkuat keamanan Israel”.
Komentar tersebut merupakan kemunduran nyata dari ‘Doktrin Pompeo’ yang menyatakan dukungan resmi AS terhadap permukiman Israel dan pembangunannya di Tepi Barat, Dataran Tinggi Golan, dan Yerusalem Timur yang diduduki, yang merupakan tindakan ilegal menurut hukum internasional.
Insiden di Tepi Barat dan pengumuman perluasan pemukiman terjadi ketika Mahkamah Internasional mendengarkan kesaksian tentang konsekuensi hukum pendudukan Israel di Tepi Barat dan pelanggaran hak menentukan nasib sendiri rakyat Palestina. (ard)













Discussion about this post