• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
  • KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home KAMU KUAT

Passion Bakat Seni Remaja, Mereka Punya Cerita

by Avesiar
16 Januari 2025 | 23:55 WIB
in KAMU KUAT
Reading Time: 9 mins read
A A
Passion Bakat Seni Remaja, Mereka Punya Cerita

Ilustrasi. Foto: Freepik dan istimewa. Kolase: Avesiar.com

KAMU KUAT – Jakarta

Punya bakat unik  bisa menjadi kekuatan luar biasa jika diasah dengan tekun. Tidak semua remaja memiliki dan menyadari bakat seni yang ada di dalam diri. Bakat bukan hanya soal kemampuan, tetapi juga cara kita mengekspresikan perasaan, ide, dan mimpi.

Bakat seni adalah sesuatu yang sangat berharga. Dengan usaha dan keinginan untuk terus belajar, setiap remaja bisa mengembangkan bakatnya dan menemukan passion yang akan menjadi bagian penting dari perjalanan hidup.

Bagi kamu yang masih ragu apa bakat yang kamu miliki atau belum memaksimalkan bakat terpendammu, kini saat segera mencari tahu lebih serius dan mengasah pemberian Tuhan Yang Maha Esa tersebut. Sekalian kita simak yuk kata para remaja dan pakar tentang bakat yang dimiliki ini.

Alsya Dewi Adellifa, siswi kelas 9, SMP Rimba Teruna Kota Bogor

Alsya Dewi Adellifa, siswi kelas 9, SMP Rimba Teruna Kota Bogor. Foto: istimewa

Alsya mulai mengasah bakat seninya sejak 2018,  Bakat seni Alsya yang sudah diasah melalui berbagai sanggar tari di Bogor dan Jakarta, membuktikan bahwa hobi yang dijalani dengan tekun bisa membawa kesuksesan.

Dari Sanggar Seni Dewi Sri di Bogor hingga Sanggar Belantara Budaya Indonesia di Jakarta, Semua dimulai dari kecintaannya pada menari. Bukan karena paksaan, melainkan murni dari keinginannya sendiri. “Menari membuat aku happy, tambah teman, dan bangga sama karya yang aku buat sendiri,” katanya.

Namun, bukan berarti perjalanannya tanpa tantangan. Menari membutuhkan energi dan semangat penuh, tapi rasa lelah terbayar dengan hasil yang memuaskan. Sejak awal, orang tua Alsya selalu mendukung penuh. Dukungan tersebut memberinya kebebasan untuk mengeksplorasi berbagai seni tari hingga berhasil meraih banyak prestasi.

Bacaan Terkait :

Cerita Lucu dan Seru, Kamu juga Punya Kan?

Sepatu Docmart Buat Mejeng, ABG Indonesia Era 90-an Bakal Cengar-cengir Mengenangnya

Load More

Alsya pernah menjuarai lomba tari tingkat Kota Bogor, membawa pulang trofi Wali Kota Bogor, dan terpilih menjadi finalis Gen Budi Pekerti 2023 mewakili Bogor. Bahkan, ia juga mendapatkan penghargaan dari Rekor Dunia MURI di tahun yang sama.

Hebatnya lagi, meskipun aktif di dunia tari, ia tetap berprestasi di sekolah. “Alhamdulillah, menari tidak mengganggu pelajaran. Aku malah dapat ranking dua di kelas,” ungkapnya. Ini membuktikan bahwa menyeimbangkan hobi dan pendidikan itu sangat mungkin dilakukan.

Untuk Alysa menari bukan hanya soal gerakan tubuh, tetapi juga tentang melestarikan seni budaya Indonesia. “Menari itu penting, karena kita ikut menjaga dan memperkenalkan budaya Indonesia ke banyak orang,” ujarnya. Ia juga percaya bahwa menari bisa membantu remaja lain untuk percaya diri dan menyalurkan bakatnya.

Tharfia Sabania, siswi kelas 2,  MTsN 1 kota Tangsel

Tharfia Sabania, siswi kelas 2,  MTsN 1 kota Tangsel. Foto: istimewa

Berbeda dengan lainya, bakat seni Tharfja dimulai sejak dini pada usia 4 tahun.  Awalnya, ia hanya mencoret-coret kotak-kotak, bahkan saat itu tidak terlalu menyukai menggambar, meskipun sang ayah juga memiliki bakat di bidang ini.

Namun, semuanya berubah ketika ia mengunjungi museum. Melihat lukisan-lukisan yang terpajang rapi di dinding membuatnya berpikir, “Seru juga ya kalau suatu hari karya aku bisa dipajang kayak gini?” Dari situlah minatnya mulai tumbuh.

Uniknya, ia tidak pernah mengikuti les menggambar. Segala keterampilan yang dimiliki ia asah sendiri di rumah, bahkan di sela-sela pelajaran sekolah. “Aku biasanya menggambar hewan fantasi, kartun, atau anime,” katanya. Bagi dia, menggambar adalah cara terbaik untuk menyalurkan ide-ide liar yang muncul di kepala.

Menggambar juga membutuhkan proses. “Kalau buru-buru sih bisa selesai, tapi hasilnya enggak akan sebagus kalau aku kerjain pelan-pelan,” ujarnya. Ia percaya bahwa waktu dan kesabaran adalah kunci untuk menghasilkan karya terbaik.

Seiring bertambahnya usia, Tharfia semakin mendalami dunia seni. Di usia 8 tahun, ia mengenal seniman besar seperti Vincent van Gogh dan Pablo Picasso lewat YouTube. Van Gogh menginspirasinya dengan karya penuh emosi, sementara Picasso membuka pikirannya tentang bentuk dan perspektif yang revolusioner.

“Gaya mereka itu unik banget. Aku belajar banyak dari mereka tentang cara berpikir, teknik menggambar, dan eksplorasi ide,” katanya. Seniman-seniman ini menjadi inspirasinya untuk terus berkreasi.

Awalnya, ia ingin menyembunyikan bakat menggambarnya, ingin terlihat seperti “bakat terpendam” yang keren. Namun, semuanya berubah ketika ada yang membagikan gambarnya di WhatsApp Story. Keluarganya langsung mengetahuinya. “Lho, kamu bisa gambar toh? Kenapa enggak sekalian bikin lukisan buat kita aja?” begitu kata mereka.

Sejak itu, banyak permintaan datang. Ia bahkan mulai menjual karyanya. Harga gambarnya berkisar antara Rp2.000 hingga Rp30.000, tergantung permintaan dan tingkat kesulitan. “Biasanya uangnya aku tabung setengah, setengahnya lagi untuk beli alat gambar seperti pensil warna, kuas, cat air, atau kanvas,” ujarnya.

Keluarga dan teman-temannya selalu mendukung perjalanan seni ini. Suatu ketika, orang tuanya menghadiahkan pensil warna Faber-Castell setelah ia menang lomba di SD. Temannya juga pernah membelikannya kanvas sebagai hadiah juara lomba antar kelas. Jika ia kekurangan dana untuk membeli alat lukis, orang tua dengan senang hati menambahkannya.

Farrel Christian Suharyono, mahasiswa semester 1, Universitas Airlangga Surabaya

Farrel Christian Suharyono, mahasiswa semester 1, Universitas Airlangga Surabaya. Foto: istimewa

Bakat seni farrel dimulai sejak ia duduk di bangku kelas 6 SD, farrel tertarik pada musik, Berkat dorongan ibu yang mengajarinya bermain gitar, ia mulai menemukan kecintaannya pada dunia musik.

“Ibu saya yang ngajarin saya pertama kali. Sejak itu, saya mulai suka bermain gitar dan music. Saya belajar sendiri, dengan bantuan internet dan pengalaman,” katanya dengan semangat. Meskipun awalnya tidak mengikuti kursus musik formal, ia belajar secara otodidak.

Pertama kali tampil di depan umum terasa menegangkan, pengalaman itu justru menjadi titik baliknya dalam mengembangkan kepercayaan diri. “Waktu pertama kali tampil di acara sekolah, saya merasa gugup. Banyak kesalahan, tapi akhirnya bisa tampil dengan baik,” ujarnya sambil tertawa mengenang momen tersebut.

Dari situ, ia semakin berani untuk tampil di berbagai acara, mulai dari acara sekolah hingga kegiatan di kampus. Setiap penampilan membuatnya semakin percaya diri dan termotivasi untuk terus belajar. Bagi banyak remaja, musik lebih dari sekadar cara untuk bersenang-senang. Musik bisa menjadi sarana untuk menenangkan hati dan pikiran.

“Buat saya, musik itu seperti terapi. Ketika merasa lelah atau stres, musik bisa menenangkan dan membuat saya merasa lebih baik. Musik memberi ruang untuk mengekspresikan perasaan, dan bagi saya, bermain gitar adalah cara untuk melepaskan segala ketegangan yang ada,” ujarnya.

Dengan tekad dan rasa cinta pada musik, ia terus mengembangkan kemampuannya. Meski belajar otodidak, ia merasa dunia musik selalu memberi tantangan dan peluang baru. “Saya senang belajar hal baru tentang musik, baik itu teknik permainan gitar atau mengenal alat musik lain. Setiap kali tampil, saya merasa lebih berkembang,” ungkapnya.

Perjalanan dalam dunia musik tentu tidak lepas dari dukungan orang tua. “Orang tua saya selalu mendukung selama musik ini menjadi hal positif dan tidak mengganggu pendidikan,” ujarnya. Walaupun musik menjadi hobi yang menyenangkan, ia tetap menjaga keseimbangan antara hobi dan tanggung jawabnya di tempat kuliah.

Alviko Ishaq Wiranu, siswa kelas 11, SMA Global Islamic School 2 Serpong

Alviko Ishaq Wiranu, siswa kelas 11, SMA Global Islamic School 2 Serpong. Foto: istimewa

Terkadang, bakat seni datang dari hal yang tidak terduga. Begitu pula dengan perjalanan seorang remaja yang awalnya hanya menyanyi untuk bersenang-senang. “Awalnya saya nggak pernah berpikir serius tentang nyanyi, cuma nyanyi iseng aja buat senang-senang,” ungkapnya.

Namun, situasi berubah ketika ia bergabung dalam sebuah band sekolah. Band tersebut membutuhkan seorang vokalis, tetapi tidak ada anggota laki-laki yang bersedia. Akhirnya, ia diminta untuk menggantikan posisi tersebut.

“Karena nggak ada vokalis laki-laki, saya yang diminta menggantikan,” tambahnya. Pengalaman itu membawanya tampil di acara-acara besar seperti Gis2fest dan perayaan 17 Agustusan. Untuk meningkatkan kemampuannya, ia sempat mengambil les vokal. Tujuannya sederhana, yaitu agar bisa mengerti cara bernyanyi yang benar. Sayangnya, perjalanan ini tidak berlangsung lama.

“Saya sempat les vokal, tapi sekarang sudah nggak lagi karena kesibukan sekolah” katanya. Meski begitu, pengalaman ini menjadi bekal berharga dalam mengenal dunia musik lebih dalam. Viko sempat merasa ragu dengan kemampuannya.

“Setiap saya nyanyi dan denger suara saya sendiri, rasanya nggak enak. Saya merasa nggak cocok,” ujarnya jujur. Namun, teman-teman band dan orang-orang yang pernah mendengarnya bernyanyi justru memberikan dorongan positif.

“Mereka bilang vokal saya bagus dan masih bisa dikembangkan,” tambahnya. Kata-kata tersebut menjadi motivasi besar baginya untuk tetap percaya pada bakat yang dimiliki.

Yudhis Citra Hr, Pelukis dan Ilustrator

Yudhis Citra Hr, Pelukis dan Ilustrator. Foto: istimewa

“Remaja ya, di mana energi sedang on fire. Bakat seni pada remaja dapat dikenali melalui ketertarikan kuat mereka pada aktivitas kreatif, mereka ini punya cara unik dalam mengekspresikan diri, dan biasanya sangat perhatian pada detail karya yang mereka buat. Mereka cenderung gigih, menikmati proses berkarya, dan sering mengeksplorasi berbagai medium seni tanpa takut mencoba hal baru dan mereka bersenang-senang aktifitas ini,” terang Yudhis yang menekuni seni lukis selama lebih dari 30 tahun.

Mereka, lanjut Yudhis, biasanya juga responsif pada tantangan kreatif atau sekedar ‘ngobrol’ tentang seni, musik, lukis, graffiti, puisi, dll. Dalam usia mereka para remaja dengan bakat seni biasanya memiliki cara berpikir visual yang dalam dan ide-ide yang orisinal. Ketika diberi ruang untuk berekspesi, mereka meresponnya dengan antusias, senang.

Bagaimana cara mengembangkannya? Apakah ada teknik tersendiri?

Pendekatan kepada remaja atau anak berbakat dapat dimulai dengan memberikan ruang eksplorasi yang luas, karena mereka membutuhkan tempat untuk menyalurkan ekspresi diri. Remaja dengan jiwa seni cenderung ingin menyampaikan imajinasi, ide, atau gagasannya melalui berbagai media.

“Anda mungkin pernah melihat sebuah kertas penuh gambar atau coretan yang bercerita itulah cara mereka “curhat,” menuangkan isi hati mereka dalam bentuk visual. Pada tahap ini, kita dapat mendekat dengan menjadi pendamping yang mendukung, melatih, dan mendengarkan, sekaligus mengapresiasi bakat mereka, yang mungkin selama ini mereka pendam,” jelasnya.

Membangun kepercayaan diri adalah kunci, terutama dengan menunjukkan bahwa ada orang yang percaya pada kemampuan mereka. Berdasarkan pengalamannya mengajar, menjadi teman yang selalu percaya dan mendukung bakat mereka adalah langkah penting.

“Bersama, kami menciptàkan karya demi karya dengan landasan rasa percaya diri bahwa mereka mampu. Pendekatan ini tidak hanya untuk memotivasi, tetapi juga membantu mereka berkembang dengan lebih optimal. intinya, bangun kepercayaan diri, kita harus mempercayai mereka,” beber Yudhis.

Apakah perkembangan zaman mempengaruhi bakat seni pada remaja?

Pasti, sekarang era digital, sangat memengaruhi perkembangan bakat seni pada remaja, baik dari segi medium, gaya, maupun cara mereka mengekspresikan diri. remaja tidak lagi terbatas pada seni tradisional seperti melukis atau menggamba, mereka kini memiliki akses ke seni digital, animasi, desain grafis, hingga seni berbasis teknologi.

Kecenderungan untuk eksis di media sosial pun terkadang melebihi keinginan eksis di dunia nyata. Media sosial punya berperan besar dalam membentuk karakter, selira, bahkan pilihan ruang eksistensi mereka sebagai ‘seseorang’, untuk menunjukkan karya-karya mereka ke audiensi global (viewer).

“Mungkin inilah zaman di mana apresiasi dan ekspektasi terhadap seni menjadi lebih dinamis, sangat berbeda dengan zaman-zaman sebelumnya. Keadaan ini juga menghadirkan tantangan bagi mereka, bagi para orang tua, guru atau pendidik mereka, jangan sampai menjadi tekanan untuk selalu tampil sempurna atau terpaku pada trend tertentu,” tuturnya.

Menurut Yudhis, perlu pendekatan yang mendukung, memberi mereka kepercayaan diri, sehingga mereka dapat diarahkan untuk memanfaatkan perkembangan zaman tanpa kehilangan keunikan dan identitas seni mereka.

Apakah perkembangan jaman mempengaruhi bakat seni pada remaja?

Pasti, sekarang era digital, sangat memengaruhi perkembangan bakat seni pada remaja, baik dari segi medium, gaya, maupun cara mereka mengekspresikan diri. remaja tidak lagi terbatas pada seni tradisional seperti melukis atau menggamba, mereka kini memiliki akses ke seni digital, animasi, desain grafis, hingga seni berbasis teknologi.

“Bakat adalah anugerah-Nya, dan berkarya adalah salah satu cara kita mensyukuri anugerah itu,” ucap Yudhis.

Wuihh, keren ya, Guys? Bakat seni adalah sesuatu yang sangat berharga. Dengan usaha dan keinginan untuk terus belajar, setiap remaja bisa mengembangkan bakatnya dan menemukan passion yang akan menjadi bagian penting dari perjalanan hidup mereka. Jadi, jangan ragu untuk mengejar impian dan mengasah kemampuan seni yang kamu miliki! (Resty)

Tags: Bakat RemajaBakat SeniBakat Seni RemajaMasa Remaja
ShareTweetSendShare
Previous Post

Lebih Bersemangat dengan Olahraga Favorit

Next Post

Asuransi Jiwa, Asuransi Jiwa Syariah, dan Takaful

Mungkin Anda Juga Suka :

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

14 Oktober 2025

...

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

13 Oktober 2025

...

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

10 Oktober 2025

...

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

9 Oktober 2025

...

Pertama Kali Kamu Naik Kereta, Pesawat, atau Kapal Laut dan Kemana Tujuannya?

Pertama Kali Kamu Naik Kereta, Pesawat, atau Kapal Laut dan Kemana Tujuannya?

8 Oktober 2025

...

Load More
Next Post
Asuransi Jiwa, Asuransi Jiwa Syariah, dan Takaful

Asuransi Jiwa, Asuransi Jiwa Syariah, dan Takaful

Nikon 400mm Super-telefoto Baru Bisa Jadi ‘Raja Hutan” Fotografi Satwa Liar

Fotografi yang Menarik Jadi Hobi

Discussion about this post

TERKINI

Eropa Bersatu Melawan Ancaman ‘Pencaplokan’ oleh AS, Prancis Juga Mengirim Pasukan ke Greenland

15 Januari 2026

Hubungan Antara Camilan Sore dan Meningkatnya Risiko Demensia

15 Januari 2026

Ikut Campur Urusan Negaranya, Iran Ancam Akan Serang Pangkalan Militer AS di Timur Tengah

14 Januari 2026

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

14 Januari 2026

Iran Klaim Demontrasi di Negaranya Terkendali, Sedangkan Trump Sebut Bakal Ada Negosiasi

13 Januari 2026

Teknik Menutup ‘Lingkaran Terbuka’ atau Open Loops Anda Jika Sudah Bosan Kelelahan Sepanjang Waktu

13 Januari 2026

Nikaragua Tangkap 60 Orang yang Mendukung Penculikan Maduro, Rodriguez Venezuela akan Pulihkan Hubungan dengan Washington

12 Januari 2026

Total 166 Sekolah Rakyat di Seluruh Indonesia Diresmikan, Prabowo Tegaskan untuk Anak-anak Keluarga Tertinggal

12 Januari 2026

Respon Tubuh Ketika Anda Membenci Pekerjaan yang Dijalani

11 Januari 2026

Stresnya Paling Sedikit, Daftar Pekerjaan bagi Orang yang Menghargai Work-Life Balance

10 Januari 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
  • KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video