Avesiar – Jakarta
Bagi para orang tua, anak-anak adalah generasi penerus dari setiap keluarga. Ayah dan Ibu dari keluarga Muslim senantiasa ikhtiar menanamkan ketakwaan kepada para putra-putrinya agar menjadi insan yang sholeh dan sholehah.
Mengulas tentang anak-anak yang kelak akan menjadi dewasa, dikutip dari laman resmi Majelis Ulama Indonesia, Sabtu (15/1/2022), perlu diingat kembali bahwa Al Qur’an menyebutkan terdapat tiga fase umum kehidupan yang akan dilewati manusia.
Fase pertama, manusia berada dalam keadaan lemah, yaitu pada masa bayi dan anak-anak.
Fase kedua, manusia berada dalam keadaan kuat atau dewasa.
Fase ketiga yaitu di mana manusia lemah dan beruban. Fase ini menunjukan bahwa seseorang telah memasuki usia tua atau lansia.
Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Ar Rum ayat 54:
“Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan dalam Al Qur’an terdapat lima kedudukan anak terhadap orang tua. Kedudukan tersebut disebutkan-Nya pada empat surat yang berbeda, yaitu:
- Kedudukan anak sebagai kesenangan hidup (Perhiasan) di dunia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Ali Imran, ayat 14, yaitu:
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
Merujuk pada penjelasan dari tafsir ringkas Kementerian Agama RI terdapat beberapa hal dari kesenangan hidup yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan yaitu dengan kehadiran anak dalam keluarga.
Adapun kedudukan anak sebagai kesenangan hidup dapat dipahami bahwa manusia secara naluriah memiliki kecenderungan untuk senang terhadap anak. Ayat di atas senada pula dengan firman-Nya di surat Al Kahfi ayat 46.
- Kedudukan anak sebagai cobaan atau fitnah. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Alquran surat Al Anfal ayat 28:
“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”
Mengutip dari kitab Al-Mufradat fi Gharib al-Quran karya ar-Ragib al-Isfahani, lafaz fitnah berasal dari kata fatana yang memiliki makna dasar ‘membakar logam emas atau perak untuk mengetahui kemurniannya’.
Sebagaimana yang dijelaskan Prof Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah, kedudukan anak anak sebagai fitnah tak hanya ketika orang tua memiliki dorongan atas dasar cinta kepadanya sehingga melanggar ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, akan tetapi hal tersebut berlaku dalam kedudukan anak sebagai amanah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Allah menguji hamba-Nya melalui anak yang dikaruniai oleh-Nya adalah untuk melihat apakah hamba tersebut mampu merawatnya dengan baik. Tak hanya memberi sandang, pangan, dan papan yang cukup, tapi juga mendidik dan mengembangkan potensi pada anak.
Potensi tersebutlah yang kelak menjadikan manusia sebagaimana yang dikehendaki Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yaitu sebagai hamba-Nya sekaligus khalifah di dunia.
- Kedudukan anak sebagai musuh. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat At Taghabun ayat 14:
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan mengenai sebab turun ayat di atas, salah satunya yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Dalam kitab tafsir Al-Qur’an al-Adhim, Ibnu Katsir mengutip ayat di atas berkaitan dengan persoalan sebagian dari penduduk Makkah yang ingin berhijrah, namun dihalangi istri dan anak-anak mereka.
Setelah berhijrah, mereka menemukan teman-teman yang telah lebih dahulu hijrah serta memiliki pengetahuan mendalam mengenai Islam. Pada saat itu, penyesalan timbul dan mereka bermaksud untuk menghukum istri dan anak-anak mereka yang menjadi penyebab ketertinggalan tersebut. Karenanya turunlah ayat ini untuk menjawab persoalan mereka.
- Kedudukan anak sebagai penyenang hati. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al Furqan ayat 74:
“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
Mengutip dari Tafsir Departemen Agama RI ayat di atas menjelaskan mengenai doa yang selalu dipanjatkan hamba-hamba yang dikasihi Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar diberikan pasangan dan anak-anak yang mampu menjadi penenang hati dan menyejukkan perasaan.
Semoga menjadikan pengingat yang bermanfaat. Wallahua’lam. (ard)













Discussion about this post