Avesiar – Jakarta
Semua Muslim yakin dengan keberkahan bulan Ramadhan dan berbagai pahala serta ampunan dari Allah di dalamnya. Hal ini yang menjadi tekad setiap Ramadhan, banyak Muslim dan Mukmin yang berupaya untuk memperbaiki diri serta meningkatkan amal ibadahnya. Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sangat memuliakan bulan ini.
Dikutip dari tulisan Ustadz H Yendri Junaidi, Lc MA yang merupakan Ketua Bidang Fatwa dan Hukum MUI Tanah Datar, di laman Majelis Ulama Indonesia, Ahad (10/4/2022), ada 17 kebiasaan atau sunnah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam selama Ramadhan. Sunnah-sunnah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam selama Ramadhan itu adalah:
1. Mengakhirkan Sahur.
Dari Abu Hazim, dia mendengar Sahal bin Sa’ad berkata, “Aku sahur bersama keluargaku, kemudian aku buru-buru menyelesaikannya untuk bisa dapat sholat Fajar (Subuh) berjamaah bersama Rasulullah SAW.” (HR Bukhari no 577)
2. Sahurlah meskipun sedikit
“Sahurlah, karena dalam sahur itu ada keberkahan.” (HR Bukhari 1923)
Dari Amru bin al-‘Ash, Rasulullah SAW bersabda,
“Beda antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR Muslim 1096)
3. Mengajak teman makan sahur dan sahur dengan kurma.
‘Irbadh bin Sariyah berkata, “Aku diajak Rasulullah SAW untuk sahur di bulan Ramadhan. Beliau bersabda, “Mari nikmati makanan penuh berkah ini.” (HR Ahmad)
“Sebaik-baik sahur adalah kurma.” (HR Abu Dawud)
4. Mengurangi tidur dan banyak beristighfar.
“Mereka sedikit tidur di malam hari. Di waktu sahur mereka beristighfar.” (QS Ad Dzariyat 17-18)
5. Sholat sunnah Fajar dan sholat sunnah Syuruq (Isyraq)
Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam biasanya sholat sunnah Subuh dua rakaat yang ringan (singkat) di rumahnya. Kemudian beliau sholat Subuh berjamaah di masjid. Setelah itu duduk berdzikir sampai terbit matahari. Setelah menunggu sekitar sepertiga jam atau lebih sedikit beliau sholat dua rakaat (sholat sunat syuruq atau Dhuha).
Dari Anas ra, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang sholat Subuh berjamaah, kemudian dia duduk berdzikir sampai terbit matahari, lalu dia sholat dua rakaat, maka pahalanya sama seperti pahala haji dan umroh, sempurna, sempurna, sempurna.” (HR At-Tirmidzi)
6. Menjaga lidah selama puasa.
Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT berfirman (hadits qudsi) :
“Setiap amal anak cucu Adam adalah untuknya, kecuali puasa, itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya. Puasa itu perisai (benteng). Apabila kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor dan bersuara keras (berteriak-teriak). Kalau ada yang mengajak bertengkar atau berdebat maka katakanlah: “Aku sedang puasa.” (HR Bukhari 1904)
7. Berusaha untuk tetap puasa meski dalam perjalanan.
Dari Aisyah ra, Hamzah bin Amru al-Aslami bertanya pada Nabi SAW: “Apakah sebaiknya aku berpuasa dalam safar?” Hamzah adalah seorang yang hobi berpuasa. Nabi Saw menjawab: “Kalau mau silakan berpuasa, kalau mau silakan tidak berpuasa.” (HR Bukhari 1943)
8. Lebih fokus mengkaji Al Qur’an.
Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Rasulullah SAW adalah orang yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi ketika bertemu Jibril. Jibril bertemu dengan Nabi setiap malam Ramadhan untuk mengkaji/mengulang (mudarasah) Al Qur’an. Sungguh Rasulullah SAW lebih pemurah daripada angin yang bertiup.” (HR Bukhari 6)
9. Memperbanyak sedekah.
Dari Uqbah bin Amir, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya sampai diputuskan perkara manusia.”
Yazid berkata, “Abu al-Khair, tak pernah satu hari pun berlalu melainkan dia pasti bersedekah, walaupun hanya sepotong kue atau sebutir bawang dan semisalnya.” (HR Ahmad)
10. Memperbanyak doa.
“Tiga doa yang tidak akan ditolak yaitu doa orang tua, doa orang berpuasa, dan doa musafir.” (HR Baihaqi)
11. konsisten dalam amal
Dari Aisyah ra, dia berkata, “Rasulullah SAW apabila mengerjakan sesuatu beliau konsisten (menetapinya). Apabila beliau tertidur di malam hari atau sakit beliau (menggantinya dengan) mengerjakan sholat sunnah dua belas rakaat di siang hari.” (HR Muslim 746)
12. Menyegerakan berbuka
Dari Abu ‘Athiyyah, dia berkata: “Saya bersama Masruq datang menemui Sayyidah Aisyah. Kami berkata, “Wahai Ummul Mukminin, ada dua orang sahabat Nabi SAW yang pertama menyegerakan berbuka dan menyegerakan mengerjakan sholat. Yang kedua menunda buka dan menunda sholat.” Aisyah ra bertanya: “Siapa yang menyegerakan berbuka dan menyegerakan sholat?” Kami menjawab: “Abdullah bin Mas’ud.” Ia berkata: “Demikian juga yang dilakukan Rasulullah SAW.” (HR Muslim)
“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka. Segerakanlah berbuka, karena orang-orang Yahudi sengaja melambatkannya.” (HR Ibnu Majah 1698)
13. Berbuka dengan kurma
Dari Anas bin Malik ra, dia berkata: “Rasulullah SAW biasa berbuka dengan rutab (korma muda/basah) sebelum sholat Maghrib. Kalau tidak ada rutab maka beliau berbuka dengan tamar (kurma kering). Kalau tidak ada maka beliau berbuka dengan minum beberapa teguk air.”
14. Memberi hidangan/makan orang berbuka puasa.
Dari Zaid bin Khalid al-Juhani, dia berkata:
“Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membukakan (memberikan perbukaan) orang yang berpuasa maka dia akan mendapatkan pahala puasanya tanpa mengurangi pahala orang itu sedikitpun.” (HR Tirimidzi 807)
15. Qiyam Ramadhan.
“Sesungguhnya orang yang qiyam bersama imam sampai imam pulang maka itu ditulis seolah-olah qiyam semalam penuh.” (HR Tirmidzi)
Ini yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam untuk umatnya. Adapun untuk beliau sendiri sebagai berikut:
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kalau selesai sholat tarawih beliau tidur sebelum sholat witir. Aisyah bertanya: “Ya Rasulullah, engkau tidur sebelum mengerjakan witir?” Beliau menjawab, “Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, tapi hatiku tak pernah tidur.”
16. Memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir.
Aisyah ra berkata, “Rasulullah SAW bersungguh-sungguh melakukan ibadah di sepuluh terakhir melebihi malam-malam lainnya.” (HR Muslim)
Aisyah juga berkata, “Ketika masuk sepuluh terakir, Nabi SAW mengencangkan sarungnya, menghidupkan seluruh malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari 2024)
17. Itikaf di sepuluh hari terakhir.
“Sesungguhnya aku itikaf di sepuluh pertama Ramadhan untuk mencari Lailatul Qadar. Setelah itu aku juga itikaf di sepuluh kedua (pertengahan). Kemudian aku diberi tahu bahwa Lailatul Qadar itu di sepuluh terakhir. Maka siapa yang ingin itikaf maka lakukanlah.” Akhirnya banyak orang yang itikaf bersama Nabi SAW.” (HR Muslim 1167).
(ard)













Discussion about this post