KAMU KUAT – Jakarta
Suasana menjadi hening dan horor ketika orang tua memanggil seorang anak dengan nama lengkapnya. Alhasil, seketika sang anak menjadi penurut dan mau melaksanakan tugas atau perintah dari ayah dan ibunya.
“Pernah ngga merasakan pengalaman yang sama?”
Anak zaman dahulu dan zaman sekarang sudah banyak perubahan dari cara pandang. Kategori patuh pada orang tua pun menjadi berbeda. Jika dulu patuh pada orang tua adalah dengan menurut semua kata orang tua dan juga membantu pekerjaan di rumah, zaman ini kepatuhan anak punya model tersendiri.
Nah, mengulik soal kategori patuhnya seorang anak pada orang tua, setiap orang tua dan anak punya standar tersendiri tentunya. Untuk mengetahui pendapat anak tentang apa yang dimaksud patuh, yuk simak komentar-komentar jujur berikut.
Menurut Bunga Rizki Islami, Kelas 12 MIPA 4 SMA BOASH Bogor, yang jelas anak patuh kepada orang tya itu pasti baik. Tapi kadang orang tua jadi akan berpatok pada anak yang patuh saja dan akan selalu mengandalkan anak itu.

“Patuh tu kan maknanya bisa beragam ya, tapi kadang orang lain hanya bisa menilai patuh berdasarkan anak tersebut nurut atau tidaknya kepada orang tua, padahal sebenernya makna dari patuh tu luas, terlebih lagi anak yang di sebut “patuh” kadang menjadi bahan perbandingan untuk posisi anak lain yang terbilang belum patuh bagi kebanyakan orang, hal itu kadang membuat kecenderungan iri satu sama lain antara pihak yg dibandingkan dengan pihak pembanding,” ujar Bunga.
Ia mengakui kadang merasa dirinya sudah patuh. “Karena dari awal aku mikir, kalau belum bisa jadi anak yang pinter, seenggaknya jadi anak yang baik. Tapi kadang ga semua hal bisa dipatuhin, terlalu patuh juga bisa bikin orang susah ambil keputusan dan jadi orang ga enakan,” ujarnya.
Lain hal dengan Ahmad Akbar, siswa kelas 10 di SMK Letris Tangerang Selatan. Remaja yang hobi bermain musik berkomentar bahwa, patuh merupakan sebuah kewajiban.
“Tapi kalo keren atau ngga nya mungkin lebih ke biasa aja. Soalnya kayanya sudah sewajarnya seorang anak itu harus patuh kepada orang tua,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui punya pengalaman pernah membantah orang tua. “Kalo membantah ortu pernah sesekali, tapi ngga pernah sampai jadi kejadian yang buruk. Kaya menolak membantu hal kecil, akibatnya mungkin kena marah sedikit aja. Tapi perasaan juga jadi kerasa buruk,” ujar Akbar menyesali.
Sedangkan Adila Mufidah, mahasiswi semester 3, di UIN Raden Mas Said Surakarta, mengakui bahwa patuh dengan orang tua menurut dia sangat penting.
“Karena mau gimana pun, kan kita sebagai anak yaa, pasti orang tua juga niatnya selalu yang terbaik buat anaknya. Jadi mungkin walaupun ada beberapa hal yang pasti ada sulitnya buat anak nerima aturan itu, tapi tetep sebisa mungkin kita patuhi atau setidaknya didiskusikan kali yaa dari masing-masing sudut pandang,” ungkapnya.
Adila Mufidah mengakui jika ada teman yang sangat patuh kepada orang tua, itu keren banget. “Karena tadi yaa, gak semua yang ortu mau atau harapkan itu sesuai sama yang anaknya juga mau gituu. Jadi pasti susah buat saling nerima. Dari sisi ortu mau yang terbaik sekaligus menjaga anaknya dari hal-hal negatif, tapi bagi anak juga mungkin jadi lebih kerasa dibatasi,” ucapnya.

Menurutnya, sekali lagi karena kita sebagai anak sepatutnya memaksimalkan apapun yang kita bisa, untuk patuh pada semua nasehat dan pesan orang tua. “Karena nantinya kita juga bakal merasakan jadi mereka dan di situ nanti bisa jadi lebih ngerti yaa posisi menjadi orang tua seperti apa,” ujarnya.
Pemilik nama panggilan Dilla juga mengakui pernah pengalaman tidak nurut pada orang tua. Namun, ia kini berusaha lebih bijak dan patuh pada orang tua.
“Ini pasti banget pernah yaa. Cuma aku tuh ga bisa terlalu inget detail apa aja nyaa. Tapi yang jelas selama ini aku cukup menerapkan prinsip untuk keputusan-keputusan besar di hidupku. Setiap keputusan, penting banget ada do’a restu dan pendapat orang tua. Karena dari restu orang tua insyaallah kita juga bisa dapet restu dari Allah. Dan aku jadi bisa lebih percaya dirii buat mengambil suatu keputusan ituu karena dapet dua restu sekaliguss” papar dilla yang sekarang sedang merantau di Surakarta.
Seorang Ibu rumah tangga yang tinggal di Sawangan, Depok, Nur Khotijah, mengaku anak-anak kadang kerap tidak patuh pada orang tua.
Patuh, menurut Ibu 3 anak yang disapa Nurul itu yaitu, anak menurut apa kata atau pesan yang disampaikan orang tua kepada mereka, yang mestinya dikerjakan atau tidak dikerjakan.
“Biasanya kalo anak ngga patuh, saya sebagai ibu akan mengurangi uang jajannya sebagai hukuman. Atau memberi hukuman lain seperti tidak boleh bermain atau menonton TV sampai beberapa waktu. Termasuk menasehati bahwa tidak patuh itu berdosa kepada orang tua,” ungkapnya.
Guys, berbakti kepada kedua orang tua dikenal dengan istilah bir al walidain atau birrul walidain. Perilaku ini dapat dilakukan selama orang tua masih hidup atau sudah meninggal. Dalam surat Al Isra Ayat 23, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya,
“ Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
Guys, yuk maksimalkan kesempatan untuk mengasihi orang tua dan itu pasti keren banget. (rst)













Discussion about this post