• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home KAMU KUAT

Eksklusif! Saran Program Jika Ramadhan 2025 Sekolah Libur Menurut Siswa, Guru, Orang Tua, Kepala Sekolah

by Ave Rosa
13 Januari 2025 | 22:27 WIB
in KAMU KUAT
Reading Time: 11 mins read
A A
Eksklusif! Saran Program Jika Ramadhan 2025 Sekolah Libur Menurut Siswa, Guru, Orang Tua, Kepala Sekolah

Ilustrasi. Foto dan Kolase: Avesiar.com

KAMU KUAT – Jakarta

Wacana tentang rencana diliburkannya sekolah saat Ramadhan 1446 Hijriyah di 2025 oleh pemerintah terus menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Libur saat Ramadhan menjadi hal penting bagi siswa dan pihak sekolah, serta orang tua agar mampu memanfaatkan momen tersebut agar bermanfaat.

“(Libur Ramadhan) belum kita diskusikan. Siang ini saya baru bertemu dengan Pak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti,” kata Pratikno di Jakarta Utara, Senin (13/1/2025), dikutip dari situs berita online Kompas.

Sebelumnya, Wakil Menteri Agama Romo Muhamamd Syafi’i menyebutkan bahwa ada meliburkan sekolah selama satu bulan pada bulan Ramadhan 2025.

Menteri Agama Nasaruddin Umar juga turut memberi penjelasan bahwa pihaknya masih mempertimbangkan kemungkinan untuk meliburkan sekolah-sekolah di bawah naungan Kementerian Agama, seperti madrasah dan pondok pesantren.

“Ya, sebetulnya sudah warga Kementerian Agama, khususnya di pondok pesantren, itu libur,” kata Nasaruddin, 30 Desember 2024.

Sedangkan dilansir situs berita online Tempo, Kamis (2/1/2025), Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU Ahmad Fahrur Rozi mengatakan pemerintah perlu meninjau dampak dari rencana libur sekolah selama satu bulan saat Ramadan.

“Harus diperhitungkan lebih cermat dampak positif dan negatif terhadap pendidikan,” kata Fahrur saat dihubungi pada Rabu, 1 Januari 2025.

Bacaan Terkait :

No Content Available
Load More

Menurut Fahrur penerapan libur sebulan itu akan tidak bermanfaat apabila tidak dibarengi program dan atau kegiatan keagamaan. “Sehingga tidak lepas libur panjang begitu saja tanpa arti,” ucapnya.

Pemerintah, kata Fahrur, harus menyajikan program atau kegiatan keagamaan selama periode libur satu bulan agar menjadikan peserta didik lebih religius dan ikut menjalankan ibadah selama Ramadan.

Terlepas dari belum adanya kata sepakat dan jadi atau tidaknya rencana tersebut oleh pemerintah, masyarakat yang terdiri dari elemen siswa, sekolah, dan orang tua memberikan pandangan dan rencana atau program apa yang akan dilakukan jika kebijakan tersebut benar-benar akan dilakukan.

Wartawan kanal Remaja dan Anak Muda Berdaya KAMU KUAT!, Resty Rizki, secara khusus mewawancarai beberapa siswa sekolah, orang tua, guru, hingga kepala sekolah. Berikut komentar mereka.

Haifa Aprillia Zetha, siswi kelas 7, SMPN 4 Tangerang Selatan

Haifa Aprillia Zetha, siswi kelas 7, SMPN 4 Tangerang Selatan. Foto: istimewa

Sebagai seorang siswa, Haifa setuju dengan gagasan ini. “Jika sekolah tetap berlangsung meskipun dengan jadwal pulang cepat, saya dan teman-teman suka merasa kelelahan serta terkadang lemas karena harus menyeimbangkan kegiatan belajar dengan ibadah, seperti tarawih dan sahur,” ujar siswi yang mempunyai hobi Karate.

Selain itu, tidak sedikit siswa yang ingin memanfaatkan libur panjang untuk pulang kampung atau menghabiskan waktu di luar kota bersama keluarga. “Contohnya, tante saya yang tinggal di Ciawi, Bogor, sudah menawarkan saya untuk tinggal di rumahnya selama Ramadhan. Di sana, saya sering mengikuti pengajian bersama dan menikmati momen kebersamaan dengan tante saya, seperti pergi ke mal atau kafe di sekitarnya,” imbuhnya.

Namun, menurutnya, kebijakan libur panjang ini bukan berarti kita sepenuhnya meninggalkan pembelajaran. Haifa sering membuat jadwal pribadi selama liburan agar tetap produktif, meskipun belajar tidak harus setiap hari. “Dengan cara ini, saya tetap bisa menyeimbangkan waktu antara belajar dan menikmati liburan,” ungkapnya.

Aruna Khairanugra Tsaqif, siswa kelas 9, SMP Al Amanah Setu

Aruna Khairanugra Tsaqif, siswa kelas 9, SMP Al Amanah Setu. Foto: istimewa

Berbeda dengan Haifa, Aruna siswa kelas 9 berikut merasa keberatan dengan kebijakan tersebut, “Bagi saya pribadi, libur satu bulan penuh terasa kurang efektif, terutama karena belum ada agenda yang jelas selama masa liburan tersebut. Jika hanya libur tanpa kegiatan, saya khawatir akan menghabiskan waktu di rumah dengan bermain game online. Ini tentu tidak memberikan manfaat besar, terutama bagi siswa seperti saya yang sedang bersiap memasuki jenjang pendidikan berikutnya, yaitu SMA atau SMK,” ucap Aruna yang sedang fokus belajar untuk mendapatkan sekolah lanjutan favoritnya

Menurut Aruna yang sudah di akhir masa pendidikan SMP, libur sekolah selama Ramadhan dianggap mengganggu proses belajar, terutama karena waktu yang seharusnya digunakan untuk persiapan menghadapi pelajaran baru malah terbuang percuma. Oleh karena itu, jika kebijakan ini benar-benar diterapkan, “saya berencana membuat jadwal belajar sendiri. Saya akan fokus pada mata pelajaran penting seperti Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, dan PPKn yang sangat dibutuhkan untuk jenjang pendidikan berikutnya.”

Selain itu, jika memungkinkan, aruna juga tidak akan ragu untuk mengikuti kegiatan tambahan di sekolah selama liburan. Bagi Aruna, berada di sekolah dan terlibat dalam aktivitas yang bermanfaat lebih baik daripada hanya menghabiskan waktu di rumah. “Namun, sejauh ini saya belum merencanakan secara detail kegiatan yang akan saya lakukan. Mungkin saya akan membuat jadwal belajar yang dilaksanakan di siang atau malam hari agar tetap produktif jika libur sekolah diberlakukan,” katanya mantap.

Mazaya Alifah, siswi kelas 8, MTSN 1 Tangerang Selatan

Mazaya Alifah, siswi kelas 8, MTSN 1 Tangerang Selatan. Foto: istimewa

“Isu libur satu bulan penuh selama Ramadhan? Pendapat saya 50:50. Di satu sisi, terus-menerus masuk sekolah selama Ramadhan bisa terasa melelahkan. Tetapi, di sisi lain, kalau terlalu lama di rumah, rasanya juga membosankan. Hari-hari hanya dihabiskan di kamar tanpa melakukan hal yang produktif, dan itu bukan pilihan yang ideal,” ujarnya yang belum mengetahui program apa yang akan direkomendasikan pemerintah jika siswa diliburkan.

Mazaya mengakui merasa lebih cocok jika liburan seperti tahun-tahun sebelumnya, yaitu libur dimulai mendekati Lebaran. Dengan begitu, siswa tetap punya waktu belajar yang cukup selama Ramadhan, sekaligus tetap bisa beristirahat dan menikmati suasana Bulan Suci.

Bagaimana jika ada program mengikuti pesantren kilat? “Hmm, sepertinya itu bukan pilihan siswi yang akrab disapa Aya. Ia merasa lebih nyaman di rumah ketika bulan Ramadhan. “Sebagai gantinya, saya biasanya membuat resolusi sendiri untuk mengisi liburan dengan hal-hal yang bermanfaat. Misalnya, jogging setiap pagi untuk menjaga kesehatan, membaca Al-Qur’an setelah Ashar, berusaha tarawih setiap malam, dan belajar minimal 30 menit setiap hari,” kata Aya yang berharap resolusi tersebut membantunya tetap produktif, meski liburan berlangsung lama.

Muhammad Alvin Faiz, siswa kelas 12, SMKN 1 Gunung Sindur, Bogor

Muhammad Alvin Faiz, siswa kelas 12, SMKN 1 Gunung Sindur, Bogor. Foto: istimewa

“Salah satu alasan utama saya setuju dengan kebijakan pemerintah adalah untuk memberikan kesempatan bagi siswa untuk fokus beribadah selama bulan suci. Dengan libur sekolah, kita bisa memanfaatkan waktu untuk kegiatan keagamaan seperti tadarus Al-Qur’an, sholat tarawih, dan ibadah lainnya tanpa terganggu oleh jadwal sekolah yang padat,” bebernya.

Menurut remaja yang biasa di panggil Alvin, meski libur panjang, ia tidak melihat  sebagai hambatan untuk tetap belajar. Sebaliknya, liburan ini justru memberi waktu lebih fleksibel untuk belajar mandiri di rumah. Para siswa bisa mengatur sendiri waktu belajar sesuai dengan kondisi tubuh saat berpuasa. “Jadi, meskipun tidak ada aktivitas sekolah, saya percaya produktivitas tetap bisa dijaga,” katanya.

Untuk mengisi waktu liburan, meskipun Alvin belum memiliki rencana khusus, ia berharap dapat memanfaatkan waktu di rumah dengan baik. Selain belajar, saya ingin lebih banyak beribadah dan menjalani kegiatan yang bermanfaat selama Ramadhan. “Jadi, meskipun libur sebulan penuh, waktu tetap bisa diisi dengan hal-hal produktif dan mendukung pengembangan diri,” ungkapnya.

Jika komentar sebelumnya berasal dari siswa, bagaimana dengan orang tua?

Rosnilawati, Ibu rumah tangga, di Tangerang Selatan

Rosnilawati, Ibu rumah tangga, di Tangerang Selatan. Foto: istimewa

“Sebagai seorang ibu, saya setuju jika anak-anak libur selama Ramadhan. Dengan begitu, saya merasa lebih mudah mengawasi apakah mereka benar-benar menjalankan ibadah puasa atau tidak. Selain itu, libur panjang memberi kesempatan bagi anak-anak untuk membantu pekerjaan di rumah, yang tentunya meringankan tugas saya sehari-hari,” tuturnya.

Keuntungan lainnya bagi Rosnilawati sebagai orang tua adalah, ia tidak perlu repot antar jemput mereka ke sekolah. Hal ini menurutnya sangat membantu, terutama bagi ibu yang juga memiliki kesibukan lain. Meskipun begitu, ia tetap memastikan anak-anak terlibat dalam aktivitas tambahan, seperti mengikuti pesantren kilat atau kegiatan di Masjid setempat.

“Namun, untuk kegiatan harian, saya tidak membuat jadwal khusus bagi anak-anak. mengharuskan mereka melakukan sesuatu seperti khatam Al-Qur’an selama Ramadhan yang seringkali sulit dijalankan. Saya lebih memilih membiarkan mereka belajar mengatur waktu sendiri, meski tetap saya awasi agar tidak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal yang kurang bermanfaat. Bagi saya, libur panjang selama Ramadhan adalah kesempatan untuk mendidik anak-anak tentang tanggung jawab, baik dalam ibadah maupun membantu pekerjaan rumah,” bebernya.

Dewi Komalasari, Ibu rumah tangga, di Bandung

Dewi Komalasari, Ibu rumah tangga, di Bandung. Foto: istimewa

“Jika kebijakan ini benar-benar diterapkan, tentu ada dampak positif maupun negatifnya. Namun, menurut saya, sebaiknya hal ini tidak perlu dilakukan, kecuali ada alternatif kegiatan yang jelas dari pihak sekolah. Pertama, apa sebenarnya tujuan dari meliburkan siswa selama Ramadhan? Jika sekolah diliburkan sebulan penuh, konsekuensinya waktu belajar di bulan Juli dan Desember harus penuh. Ini berarti siswa akan kehilangan keseimbangan jadwal belajar dan beristirahat,” ucapnya.

Kedua, lanjutnya, kebijakan ini terlihat seperti memandang puasa sebagai penghalang aktivitas sehari-hari, termasuk belajar. Padahal, sebagai Muslim diajarkan untuk tetap melaksanakan kegiatan seperti biasa meskipun sedang berpuasa. Berpuasa adalah kewajiban, dan seharusnya menjadi latihan mendasar bagi siswa untuk tetap produktif, bukan alasan untuk menghentikan aktivitas.

“Jika sekolah diliburkan, saya khawatir ini mengajarkan anak-anak bahwa saat berpuasa, kita hanya perlu fokus pada ibadah tanpa melakukan kegiatan lain. Padahal, puasa adalah bagian dari kehidupan yang harus dijalani bersamaan dengan aktivitas lainnya,” ujarnya.

Selain itu, imbuh Dewi, libur panjang juga berpotensi menambah beban bagi orang tua. Mereka harus mencari kegiatan tambahan seperti pesantren kilat (sanlat) untuk mengisi waktu anak-anak. Namun, tidak semua anak tertarik atau mudah mengikuti kegiatan di luar lingkungan sekolah. Jika dibiarkan tanpa kegiatan, waktu anak-anak bisa saja habis untuk bermain ponsel atau hal lain yang kurang produktif.

“Oleh karena itu, menurut saya, lebih baik sekolah tetap berjalan dengan penyesuaian jadwal selama Ramadhan. Dengan begitu, siswa tetap bisa belajar sekaligus menjalankan puasa. Jika memang ingin ada waktu libur, sebaiknya dilakukan seperti biasanya, yaitu mendekati Hari Raya Idul Fitri. Ini akan lebih seimbang dan tidak memberikan beban tambahan bagi siswa maupun orang tua,” katanya.

Komentar berikut ini dari kepala sekolah dan guru. Apa kata mereka?

Soleh Sofyan, S.Si., M.M, Kepala Sekolah, SMP Muhammadiyah 29, Sawangan, Depok

Soleh Sofyan, S.Si., M.M, Kepala Sekolah, SMP Muhammadiyah 29, Sawangan, Depok. Foto: istimewa

Sebagai kepala sekolah, menurut Soleh Sofyan, dalam setiap kebijakan yang diambil, pasti ada sisi positif dan negatif, serta kelebihan dan kekurangannya. “Kami, sebagai pihak sekolah, siap menerima dan menjalankan keputusan pemerintah dengan penuh tanggung jawab. Namun, penting bagi kami agar kebijakan tersebut diumumkan jauh-jauh hari, bukan secara mendadak. Hal ini akan memberikan waktu bagi sekolah untuk merencanakan program yang sesuai dengan kebijakan tersebut,” terangnya.

Di bulan Ramadhan, menurut Soleh, sekolah tempat dia mengajar memiliki berbagai program untuk mendukung kegiatan ibadah siswa. Salah satu yang menjadi tradisi adalah penggunaan buku penghubung Ramadhan, yang memantau ibadah seperti shalat tarawih, shalat lima waktu, tadarus Al-Qur’an, dan kegiatan ibadah lainnya. Selain itu, mereka juga rutin mengadakan kegiatan seperti buka puasa bersama, pengumpulan zakat fitrah, hingga program takjil on the road.

“Jika kebijakan libur penuh selama Ramadhan benar-benar diterapkan, kami tetap berkomitmen untuk menjalankan agenda-agenda tersebut agar siswa tetap produktif di bulan yang penuh berkah ini. Bahkan, kami sedang mempertimbangkan alternatif seperti pembelajaran dari rumah selama Ramadhan agar proses belajar tetap berjalan,” ungkapnya.

Namun, lanjutnya, libur panjang tanpa pengelolaan yang baik dapat berdampak negatif, terutama pada siswa. Salah satu dampaknya adalah kejenuhan dan kebosanan yang mendorong anak untuk lebih banyak bermain di luar rumah atau menghabiskan waktu dengan gadget. Akibatnya, anak semakin terbiasa dengan aktivitas non-akademik, sehingga saat kembali ke sekolah, mereka kehilangan motivasi belajar. Mengembalikan semangat belajar anak setelah libur panjang tentu menjadi tantangan tersendiri.

“Sebagai sekolah, kami menyadari pentingnya menyiapkan program yang dapat menjembatani libur Ramadhan dengan kegiatan akademik dan ibadah yang seimbang. Oleh karena itu, kami berharap kebijakan yang diambil dapat didiskusikan secara matang dan disosialisasikan dengan baik, sehingga semua pihak, baik sekolah, siswa, maupun orang tua dapat beradaptasi dan menjalankannya dengan optimal,” pungkasnya.

Tika Susmayanti, Guru Mapel dan Wakakur, SMP IT Insan Harapan, Tangerang Selatan

Tika Susmayanti, Guru Mapel dan Wakakur, SMP IT Insan Harapan, Tangerang Selatan. Foto: istimewa

Di tengah isu pemerintah yang berencana meliburkan sekolah selama satu bulan penuh selama Ramadhan, beberapa sekolah memilih untuk tetap menjalankan program yang sudah dirancang sesuai kalender akademik (Kaldik).

“Salah satunya adalah sekolah kami yang in sya Allah tidak mengikuti kebijakan tersebut, melainkan tetap melaksanakan kegiatan sesuai rencana awal. Program utama yang akan berjalan selama Ramadhan meliputi proyek P5 dengan tema Demokrasi, yang dirancang sebagai bagian dari penggantian kepengurusan OSIS SMP IT. Selain itu, kegiatan Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa) juga akan diadakan menjelang 10 hari terakhir Ramadhan. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai ibadah di bulan suci tanpa mengganggu aktivitas belajar,” ungkapnya.

Untuk siswa kelas 9, imbuhnya, sekolah juga sedang mempertimbangkan pelaksanaan asesmen akhir dan ujian sekolah di bulan Mei. Dengan demikian, meskipun isu libur penuh selama Ramadhan benar-benar terjadi, in sya Allah hal itu tidak akan memengaruhi proses belajar mengajar siswa di SMP IT Insan Harapan.

“Terkait pandangan orang tua, sebagian besar tampaknya lebih setuju jika sekolah tetap berjalan. Dalam obrolan dengan beberapa orang tua, mereka menyampaikan bahwa kebijakan libur penuh justru kurang ideal, terutama bagi keluarga yang kedua orang tuanya bekerja. Jika anak-anak hanya berada di rumah, kontrol terhadap aktivitas mereka menjadi lebih sulit,” bebernya tentang kondisi siswa yang kedua orangtuanya bekerja.

Dengan adanya program-program yang bermanfaat selama Ramadhan, lanjutnya, sekolah berharap dapat memberikan pengalaman belajar yang seimbang antara akademik dan penguatan nilai-nilai agama. Ia berharap kebijakan tersebut dapat mendukung kebutuhan siswa dan orang tua dengan baik.

Nah, sahabat kanal remaja dan anak muda KAMU KUAT!, itulah komentar mereka tentang rencana akan diterapkannya libur sekolah di bulan Ramadhan. Bagaimana dengan kamu? Silahkan berbagi di kolom komentar di paling bawah halaman baca ya! (Resty Rizki)

Tags: Libur RamadhanRamadhan Libur SekolahWacana L:ibur RamadhanWacana Libur Ramadhan
ShareTweetSendShare
Previous Post

Netizen X Marah, Legenda UFC Khabib Nurmagomedov Dikeluarkan dari Pesawat

Next Post

Riset: Teknologi Baru yang Harusnya Mampu Mengurangi Kelelahan Guru, Terkadang Malah Memperburuknya

Mungkin Anda Juga Suka :

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

14 Januari 2026

...

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

Jenis-jenis Usaha Sederhana yang Cocok untuk Remaja dengan Modal Kecil

14 Oktober 2025

...

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

Kapan Kamu Pernah Mengalami Homesick?

13 Oktober 2025

...

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

Masakan yang Kamu dan Keluargamu Suka Ketika di Rumah dan Bepergian

10 Oktober 2025

...

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

Apa Makna Kecukupan Sesuai Agama dan Kamu Menyikapinya?

9 Oktober 2025

...

Load More
Next Post
Riset: Teknologi Baru yang Harusnya Mampu Mengurangi Kelelahan Guru, Terkadang Malah Memperburuknya

Riset: Teknologi Baru yang Harusnya Mampu Mengurangi Kelelahan Guru, Terkadang Malah Memperburuknya

Penting Nggak Sih Belajar Bahasa Asing? Ini Kata Mereka

Penting Nggak Sih Belajar Bahasa Asing? Ini Kata Mereka

Discussion about this post

TERKINI

Pematangan Giant Sea Wall Pantura Dipercepat, Ratas Dipimpin Presiden Prabowo

21 April 2026

Negosisasi Putaran Dua Akan Kembali Dimediasi Pakistan dalam Beberapa Jam, Iran Belum Konfirmasi dan Trump Kembali Ancam

20 April 2026

Tingkatan Rezeki Dalam Islam, Harta Ternyata Ada di Bagian Ini

20 April 2026

Iran Memaksa AS Akui Sistem Pertahanannya yang Murah dan Efektif

19 April 2026

Hormuz Kembali Ditutup Buntut AS Tidak Buka Blokade, Dua Kapal Kena Tembakan Iran

18 April 2026

Imbas Naiknya Kekerasan Perempuan di Ruang Digital, Pemerintah Awasi dan Bisa Tutup Platform yang Abai

18 April 2026

Kabar Baik Dibukanya Selat Hormuz, Saham Melonjak dan Harga Minyak Anjlok 10 Persen

17 April 2026

Paus Leo Tidak Takut pada Trump, Menyebut Dunia Sedang Dihancurkan Segelintir Tiran Saat Berseteru dengan Gedung Putih

16 April 2026

Polemik Alat Vape Disalahgunakan, Menelusuri Hukum Rokok Elektrik

15 April 2026

Saksikan Segera, Podcast Khusus Profesional “Ladders to be Leaders” Mengulas Perjalanan Hidup dan Karir

15 April 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video