• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT!
    • Kanal Kamu Kuat
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Citizen Journalism & Video Cerpen dan Puisi

Cerpen: Kisah Para Terompah yang Lelah (bagian 2)

by Avesiar
5 Februari 2025 | 19:30 WIB
in Cerpen dan Puisi
Reading Time: 6 mins read
A A
Cerpen: Kisah Para Terompah yang Lelah (bagian 2)

AVESIAR - 6 FEB - Cerpen, Kisah Para Terompah yang Lelah (bagian 3)

Avesiar – Puisi dan Cerpen

Kisah Para Terompah yang Lelah (bagian 2)

Oleh: Mas Ngabehi

Di tengah semua kesunyian dan kesederhanaan itu, masjid tua dan para terompahnya tetap berdiri. Mereka adalah penjaga nilai-nilai yang abadi, meskipun dunia di sekitarnya terus berubah. Dan mereka tahu, selama mereka masih bisa melayani, mereka akan terus bertahan, apa pun yang terjadi.

Malam itu, setelah seharian menanggung beban langkah-langkah manusia, Si Tua Usang kembali mengeluh. Suaranya serak, hampir seperti desahan angin yang melewati celah-celah pintu masjid. “Aku tidak sanggup lagi. Beban ini terlalu berat. Mereka menyeretku, menginjakku tanpa peduli. Aku merasa seperti tidak dihargai.”

Terompah Renda menoleh ke arahnya. Mata imajinernya penuh rasa iba. “Usang, kita memang diciptakan untuk itu. Tapi aku mengerti, kau merasa dilecehkan. Aku pun sering merasa begitu, terutama saat mereka melemparku ke lantai tanpa pikir panjang.”

Si Cokelat Baru, yang selama ini lebih banyak mendengar, akhirnya bersuara. “Tapi bukankah manusia datang ke masjid untuk mencari kedamaian? Mengapa mereka justru memperlakukan kita seperti ini? Bukankah menghormati tempat ibadah juga berarti menghormati segala yang ada di dalamnya, termasuk kita?”

Diskusi pun semakin memanas. Para terompah mulai mencurahkan isi hati mereka. Mereka mengeluhkan bagaimana manusia kini lebih sering datang ke masjid untuk menunjukkan kesalehan mereka di media sosial daripada untuk beribadah.

Bacaan Terkait :

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 3, habis)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 2)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 1)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya,Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 3, habis)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 2)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 1)

Cerpen: Saat Takdir Bertaut di Mihrab Cinta (bagian 4, habis)

Load More

“Aku melihat mereka berfoto di depan mihrab tadi siang,” ujar Si Hijau Licin. “Mereka tersenyum lebar, memamerkan pakaian baru mereka. Namun, aku tidak melihat mereka berdoa setelahnya.”

Si Tua Usang mengangguk pelan. “Aku merasakan hal yang sama. Masjid ini dulu penuh doa dan air mata. Kini, hanya penuh kilatan kamera.”

Terompah Kecil, yang sering digunakan anak-anak, menyela dengan suara ceria namun menyimpan keprihatinan. “Dan mereka hanya datang saat acara besar, seperti Idul Fitri atau Maulid. Pada hari-hari biasa, kita sepi. Bukankah masjid seharusnya menjadi tempat yang selalu diisi dengan langkah manusia menuju Tuhan?”

Percakapan itu semakin dalam, menyentuh isu-isu yang lebih luas. Para terompah mengkritik bagaimana manusia kini memperlakukan masjid lebih sebagai simbol sosial daripada tempat ibadah sejati. Mereka mencatat bagaimana manusia lebih sibuk dengan atribut luar daripada makna dalam.

“Aku melihat banyak dari mereka yang hanya singgah sebentar,” kata Si Renda Putih.

“Mereka melipat sajadah bahkan sebelum doa selesai. Apa mereka benar-benar mencari Tuhan, atau hanya ingin terlihat?”

Keheningan sesaat menyelimuti rak kayu itu. Pertanyaan itu menggantung di udara, menjadi renungan bagi para terompah. Meski kecil dan sering kali diabaikan, mereka merasa memiliki peran penting sebagai saksi bisu dari perilaku manusia. Dan malam itu, mereka bertanya-tanya, apakah tugas mereka masih bermakna di tengah perubahan zaman ini.

Malam itu, keheningan masjid dipecahkan oleh kedatangan sepasang sandal baru. Warnanya mencolok, emas mengilap dengan aksen perak di sisi-sisinya. Mereka berdiri dengan angkuh di rak kayu, seolah-olah merasa terlalu istimewa untuk bersandar pada terompah yang sudah usang. “Lihat saja dirimu,” ejek salah satu sandal baru, suaranya tajam. “Begitu kusam, penuh debu, bahkan bentukmu pun sudah tak jelas lagi. Apa kalian masih layak disebut alas kaki?”

Para terompah tua saling memandang dalam keheningan yang penuh luka. Si Tua Usang, yang biasanya menjadi pemandu percakapan, merasakan getaran perih di sudut hatinya. Namun, ia tahu bahwa kemarahan tidak akan membawa mereka ke mana-mana.

“Kawan,” katanya lembut, “kami memang tua, kusam, dan penuh debu. Tapi kami telah melewati banyak perjalanan, mendengar banyak doa, dan menjadi saksi bisu dari kerendahan hati yang sejati. Itu adalah kehormatan yang tak bisa diukur dengan kilauan emas.”

Sandal baru itu tertawa kecil, suaranya penuh sinisme. “Kerendahan hati? Jangan bercanda. Orang-orang datang ke masjid ini membawa kami, sandal mahal, sebagai simbol status. Mereka ingin dunia tahu betapa sucinya mereka, betapa berharganya setiap langkah mereka. Dan kalian, dengan bentuk tua kalian, hanya menjadi beban memalukan bagi rak ini.”

Para terompah mendengarkan dengan hati yang berat. Kata-kata sandal baru itu seperti duri yang menusuk ke dalam jiwa mereka. Mereka merasa seakan-akan semua pengabdian mereka selama ini tak berarti. Namun, Si Tua Usang tetap tenang. “Jika yang kau cari adalah pujian manusia, maka kau akan selalu hidup dalam bayang-bayang mereka. Kami di sini bukan untuk diakui, tetapi untuk melayani. Kami menanggung beban bukan karena terpaksa, tetapi karena itulah nilai kami yang sesungguhnya.”

Percakapan itu berlanjut sepanjang malam. Para terompah saling berbagi pengalaman, mengingat kembali momen-momen saat mereka menampung kaki yang basah oleh air wudhu, menyaksikan anak-anak yang belajar mengaji, atau mendengar doa-doa lirih di tengah malam yang sunyi. Mereka menemukan penghiburan dalam kenangan itu, meskipun kata-kata sandal baru terus menghantui mereka.

Sementara itu, sandal baru semakin menunjukkan kesombongannya. Mereka menolak untuk digunakan pada hari-hari biasa, menunggu momen-momen istimewa seperti acara besar atau kunjungan tamu penting. Para terompah melihat ini sebagai ironi yang pahit. “Mereka lebih memilih untuk menjadi pajangan daripada melayani,” bisik salah satu terompah.

Ketimpangan sosial yang diwakili oleh sandal baru itu menjadi semakin jelas. Mereka melambangkan manusia yang memuja kemewahan dan status, yang lupa bahwa inti dari ibadah adalah ketulusan hati. Para terompah tua, meskipun terluka oleh ejekan, tetap berusaha mengingatkan satu sama lain tentang makna sejati keberadaan mereka.

“Ingatlah, kawan,” ujar Si Tua Usang pada akhirnya, “kemewahan tidak akan bertahan lama. Ketika kilauan itu memudar, yang tersisa hanyalah fungsi sejati kita. Dan itulah yang akan memberi kita kebahagiaan sejati, meskipun dunia tidak melihatnya.”

Malam itu, para terompah kembali keheningan mereka, tetapi tidak dengan perasaan kalah. Mereka merasa bahwa meskipun mereka tidak dipandang istimewa, mereka tetap memiliki tempat dalam siklus kehidupan ini. Mereka adalah saksi dan pelayan, dan itu sudah cukup bagi mereka. Namun, di sudut hati mereka, tumbuh sebuah pertanyaan: apakah manusia akan pernah mengerti nilai sesungguhnya dari kesederhanaan dan pengabdian?

Konflik internal para terompah terus bergulir, sementara sandal baru tetap memancarkan kesombongan mereka. Ketegangan ini membawa cerita menuju puncak yang lebih tajam, di mana pelajaran hidup akan diuji dan dipahami dengan cara yang tak terduga.

Hari itu, Masjid Tua menjadi lebih ramai dari biasanya. Shalat Jumat membawa gelombang manusia yang melangkah dengan tergesa, meninggalkan jejak kaki mereka pada lantai yang dingin. Deretan sandal dan terompah, tua maupun baru, berdesakan di rak kayu yang sudah mulai goyah. Di tengah hiruk-pikuk itu, sandal emas mengilap dengan aksen perak berdiri dengan bangga, mencolok di antara terompah tua yang lusuh.

Ketika shalat Jumat berlangsung, keheningan yang khusyuk meliputi ruangan. Namun, di luar masjid, sepasang tangan yang cekatan menggapai rak sandal. Dengan gesit, tangan itu menyambar sandal emas mengilap, lalu menghilang ke dalam kerumunan. Ketika jamaah mulai keluar setelah selesai shalat, kehebohan pun pecah.

“Sandalku!” teriak sandal emas dengan suara panik. “Di mana aku? Aku dicuri! Tolong aku!” (Bersambung ke bagian 3)

Selayang pandang:

Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.

Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.

Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan  pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).

Tags: Cerita PendekCerpenTerompahTerompah Masjid
ShareTweetSendShare
Previous Post

Family Time, Kata Mereka Soal Kumpul Keluarga

Next Post

Pribadi Kamuflase atau ‘Bertopeng’, Mengelabui Agar Sesuai Dengan Masyarakat Saat Ini

Mungkin Anda Juga Suka :

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

14 Maret 2026

...

Di Ambang Mahacahaya

Di Ambang Mahacahaya

9 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

9 Maret 2026

...

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

8 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

8 Maret 2026

...

Load More
Next Post
Pribadi Kamuflase atau ‘Bertopeng’, Mengelabui Agar Sesuai Dengan Masyarakat Saat Ini

Pribadi Kamuflase atau ‘Bertopeng’, Mengelabui Agar Sesuai Dengan Masyarakat Saat Ini

Berbohong untuk Menyenangkan Orang, Baik atau Nggak Ya?

Berbohong untuk Menyenangkan Orang, Baik atau Nggak Ya?

Discussion about this post

TERKINI

Kejamnya Fitnah dalam Masyarakat dan Hukumnya Menurut Islam

27 Juli 2026

Mahkamah Konstitusi Putus Uji Materi Biaya Pendidikan yang Diajukan Empat Mahasiswa UT

26 Juli 2026

Ijtima Ulama Indonesia Tegaskan Dukungan Mengawal Pembangunan Nasional di Bawah Kepemimpinan Presiden Prabowo

25 Juli 2026

Mencengangkan, Taipan SK Hynix Korea Selatan Harus Membayar Uang Cerai ke Mantan Istri Sebesar 644 Juta Dolar

24 Juli 2026

Hana Nabila Bustami, Kejar Cita-cita ke Inggris di Jurusan Mechanical Engineering with Aeronautics

24 Juli 2026

Agusnadi “The Social Trainer”, Eks Supir Angkot yang Kini Chief Learning & Communications Strategist

24 Juli 2026

Ingin Dongkrak Wisatawan Usai Dihantam Iran, Dubai  Tawarkan Hadiah Bagi Warganya yang Membantu

23 Juli 2026

Diwakili 87 Organisasi di Bawah MUI, KUII ke-8 Pada 26-28 Juli Bahas Hukuman Khusus Bagi Koruptor

23 Juli 2026

Dua Pangkalan AS di Yordania Rusak Dihantam Rudal dan Drone Iran, Tentara AS Tewas dan Luka-luka

22 Juli 2026

Indonesian Education Digitalization Accelerated, President Prabowo Reaffirms Government Commitment

21 Juli 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT!
    • Kanal Kamu Kuat
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video