Avesiar – Cerpen dan Puisi
Lentera di Tengah Kabut (bagian 1)
Oleh: Mas Ngabehi
***************
Kabut yang Menyelimuti Desa
Di lereng bukit yang sunyi, tersembunyi sebuah desa kecil yang namanya jarang disebutkan di peta. Desa itu seolah-olah terpisah dari dunia oleh selimut kabut tebal yang tak pernah pergi. Kabut itu bukan kabut biasa. Ia menyelimuti desa dari pagi hingga malam, meresap ke setiap celah kehidupan, mengaburkan pandangan dan membatasi gerak.
Bagi sebagian besar warga, kabut itu adalah bagian dari hidup mereka, sesuatu yang tak perlu dipertanyakan. Namun, bagi yang lain, seperti Rahmat, kabut itu lebih dari sekadar fenomena alam. Ia adalah tirai yang menutup pandangan masyarakat dari cahaya pengetahuan dan perubahan.
Rahmat adalah seorang pemuda sederhana. Tubuhnya jangkung, dengan mata tajam yang selalu terlihat tenggelam dalam pikiran. Rumahnya berada di tepi desa, berdampingan dengan hutan yang misterius.
Sehari-hari, ia menjalani kehidupan yang biasa: bercocok tanam, merawat ternak, dan sesekali membantu tetangga. Namun, ada satu kebiasaan Rahmat yang membuatnya berbeda. Setiap malam, di bawah cahaya redup dari lentera minyak, ia tenggelam dalam dunia yang hanya sedikit orang di desanya pahami: buku-buku tua.
Buku-buku itu adalah peninggalan ayahnya, seorang guru yang pernah mengajar di desa ini sebelum meninggal dunia beberapa tahun lalu. Ayahnya adalah satu-satunya orang yang pernah mencoba membawa sedikit cahaya pengetahuan ke desa itu.
Namun, usahanya sering kali terbentur tembok ketakutan dan kecurigaan. Warga percaya bahwa belajar, terutama dari hal-hal yang tertulis, adalah cara untuk mengundang bencana. Mereka menghubungkan hal itu dengan kabut yang tak pernah pergi. “Kabut ini adalah kutukan,” kata seorang tetua desa suatu hari. “Dan membaca hanya akan membuat kutukan itu semakin kuat.”
Pandangan seperti itulah yang membuat Rahmat menjadi sosok yang terasing. Banyak yang menganggapnya aneh, bahkan berbahaya. Anak-anak dilarang bermain dekat rumahnya, dan para tetua desa sering memberi peringatan kepada orang-orang agar tidak terlalu banyak bergaul dengannya.
Tapi Rahmat tidak peduli. Baginya, buku-buku itu adalah jendela ke dunia yang lebih luas, dunia yang tidak dapat dilihat oleh warga desa yang matanya telah terlalu terbiasa dengan kabut.
Namun, kehidupan di desa itu tidak hanya ditentukan oleh ketakutan terhadap buku. Mereka juga terperangkap dalam adat yang kaku dan kepercayaan pada cerita-cerita mistis. Konon, kabut itu berasal dari roh penjaga bukit yang marah karena ulah manusia.
Setiap malam Jumat, warga desa berkumpul di balai desa untuk melakukan ritual persembahan kepada roh itu, berharap agar kabut tidak berubah menjadi badai yang memusnahkan mereka.
Bagi Rahmat, ritual itu adalah bukti lain dari kebutaan masyarakatnya terhadap kebenaran. Ia tahu bahwa kabut itu hanyalah fenomena alam, hasil dari lembah yang lembap dan udara yang dingin. Tapi, bagaimana caranya menjelaskan hal itu kepada orang-orang yang telah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan?
Ketakutan itulah yang membuat Rahmat merasa sendiri, meski ia dikelilingi oleh ratusan jiwa. Ia sering bertanya-tanya, apakah ada cara untuk mengubah cara pikir mereka? Apakah ada cara untuk menyalakan lentera di tengah kabut ini?
Meski kerap dianggap gila, Rahmat tidak pernah berhenti berharap. Setiap kali ia membuka halaman sebuah buku, ia merasa seperti menemukan secercah cahaya kecil yang dapat membimbingnya keluar dari kegelapan.
Namun, di desa ini, cahaya adalah hal yang langka. Lentera-lentera yang dinyalakan warga hanya cukup untuk menerangi rumah-rumah mereka, tidak untuk menyinari jalan mereka ke masa depan. Dan kabut terus bertahan, menyelimuti desa dengan dinginnya yang tak kenal ampun. Tapi Rahmat tahu, di balik setiap kabut, pasti ada cahaya yang menunggu untuk ditemukan.
Harapan dalam Kegelapan
Di lereng bukit yang sunyi, tersembunyi sebuah desa kecil yang namanya jarang disebutkan di peta. Desa itu seolah-olah terpisah dari dunia oleh selimut kabut tebal yang tak pernah pergi. Kabut itu bukan kabut biasa. Ia menyelimuti desa dari pagi hingga malam, meresap ke setiap celah kehidupan, mengaburkan pandangan dan membatasi gerak.
Bagi sebagian besar warga, kabut itu adalah bagian dari hidup mereka, sesuatu yang tak perlu dipertanyakan. Namun, bagi yang lain, seperti Rahmat, kabut itu lebih dari sekadar fenomena alam. Ia adalah tirai yang menutup pandangan masyarakat dari cahaya pengetahuan dan perubahan.
Rahmat adalah seorang pemuda sederhana. Tubuhnya jangkung, dengan mata tajam yang selalu terlihat tenggelam dalam pikiran. Rumahnya berada di tepi desa, berdampingan dengan hutan yang misterius. Sehari-hari, ia menjalani kehidupan yang biasa: bercocok tanam, merawat ternak, dan sesekali membantu tetangga.
Namun, ada satu kebiasaan Rahmat yang membuatnya berbeda. Setiap malam, di bawah cahaya redup dari lentera minyak, ia tenggelam dalam dunia yang hanya sedikit orang di desanya pahami: buku-buku tua.
Buku-buku itu adalah peninggalan ayahnya, seorang guru yang pernah mengajar di desa ini sebelum meninggal dunia beberapa tahun lalu. Ayahnya adalah satu-satunya orang yang pernah mencoba membawa sedikit cahaya pengetahuan ke desa itu.
Namun, usahanya sering kali terbentur tembok ketakutan dan kecurigaan. Warga percaya bahwa belajar, terutama dari hal-hal yang tertulis, adalah cara untuk mengundang bencana. Mereka menghubungkan hal itu dengan kabut yang tak pernah pergi.
“Kabut ini adalah kutukan,” kata seorang tetua desa suatu hari. “Dan membaca hanya akan membuat kutukan itu semakin kuat.”
Pandangan seperti itulah yang membuat Rahmat menjadi sosok yang terasing. Banyak yang menganggapnya aneh, bahkan berbahaya. Anak-anak dilarang bermain dekat rumahnya, dan para tetua desa sering memberi peringatan kepada orang-orang agar tidak terlalu banyak bergaul dengannya.
Tapi Rahmat tidak peduli. Baginya, buku-buku itu adalah jendela ke dunia yang lebih luas, dunia yang tidak dapat dilihat oleh warga desa yang matanya telah terlalu terbiasa dengan kabut.
Namun, kehidupan di desa itu tidak hanya ditentukan oleh ketakutan terhadap buku. Mereka juga terperangkap dalam adat yang kaku dan kepercayaan pada cerita-cerita mistis.
Konon, kabut itu berasal dari roh penjaga bukit yang marah karena ulah manusia. Setiap malam Jumat, warga desa berkumpul di balai desa untuk melakukan ritual persembahan kepada roh itu, berharap agar kabut tidak berubah menjadi badai yang memusnahkan mereka. (bersambung ke bagian 2)
______________
Selayang pandang:
Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.
Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.
Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).













Discussion about this post