• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT!
    • Kanal Kamu Kuat
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Citizen Journalism & Video Cerpen dan Puisi

Cerpen: Lentera di Tengah Kabut  (bagian 1)

by Avesiar
28 Februari 2025 | 21:30 WIB
in Cerpen dan Puisi
Reading Time: 5 mins read
A A
Cerpen: Lentera di Tengah Kabut  (bagian 1)

Ilustrasi. Foto: via mahasiswa.co.id & ist. Kolase: Avesiar.com

Avesiar – Cerpen dan Puisi

Lentera di Tengah Kabut  (bagian 1)

Oleh: Mas Ngabehi

***************

Kabut yang Menyelimuti Desa

Di lereng bukit yang sunyi, tersembunyi sebuah desa kecil yang namanya jarang disebutkan di peta. Desa itu seolah-olah terpisah dari dunia oleh selimut kabut tebal yang tak pernah pergi. Kabut itu bukan kabut biasa. Ia menyelimuti desa dari pagi hingga malam, meresap ke setiap celah kehidupan, mengaburkan pandangan dan membatasi gerak.

Bagi sebagian besar warga, kabut itu adalah bagian dari hidup mereka, sesuatu yang tak perlu dipertanyakan. Namun, bagi yang lain, seperti Rahmat, kabut itu lebih dari sekadar fenomena alam. Ia adalah tirai yang menutup pandangan masyarakat dari cahaya pengetahuan dan perubahan.

Rahmat adalah seorang pemuda sederhana. Tubuhnya jangkung, dengan mata tajam yang selalu terlihat tenggelam dalam pikiran. Rumahnya berada di tepi desa, berdampingan dengan hutan yang misterius.

Bacaan Terkait :

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 3, habis)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 2)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 1)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya,Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 3, habis)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 2)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 1)

Cerpen: Saat Takdir Bertaut di Mihrab Cinta (bagian 4, habis)

Load More

Sehari-hari, ia menjalani kehidupan yang biasa: bercocok tanam, merawat ternak, dan sesekali membantu tetangga. Namun, ada satu kebiasaan Rahmat yang membuatnya berbeda. Setiap malam, di bawah cahaya redup dari lentera minyak, ia tenggelam dalam dunia yang hanya sedikit orang di desanya pahami: buku-buku tua.

Buku-buku itu adalah peninggalan ayahnya, seorang guru yang pernah mengajar di desa ini sebelum meninggal dunia beberapa tahun lalu. Ayahnya adalah satu-satunya orang yang pernah mencoba membawa sedikit cahaya pengetahuan ke desa itu.

Namun, usahanya sering kali terbentur tembok ketakutan dan kecurigaan. Warga percaya bahwa belajar, terutama dari hal-hal yang tertulis, adalah cara untuk mengundang bencana. Mereka menghubungkan hal itu dengan kabut yang tak pernah pergi. “Kabut ini adalah kutukan,” kata seorang tetua desa suatu hari. “Dan membaca hanya akan membuat kutukan itu semakin kuat.”

Pandangan seperti itulah yang membuat Rahmat menjadi sosok yang terasing. Banyak yang menganggapnya aneh, bahkan berbahaya. Anak-anak dilarang bermain dekat rumahnya, dan para tetua desa sering memberi peringatan kepada orang-orang agar tidak terlalu banyak bergaul dengannya.

Tapi Rahmat tidak peduli. Baginya, buku-buku itu adalah jendela ke dunia yang lebih luas, dunia yang tidak dapat dilihat oleh warga desa yang matanya telah terlalu terbiasa dengan kabut.

Namun, kehidupan di desa itu tidak hanya ditentukan oleh ketakutan terhadap buku. Mereka juga terperangkap dalam adat yang kaku dan kepercayaan pada cerita-cerita mistis. Konon, kabut itu berasal dari roh penjaga bukit yang marah karena ulah manusia.

Setiap malam Jumat, warga desa berkumpul di balai desa untuk melakukan ritual persembahan kepada roh itu, berharap agar kabut tidak berubah menjadi badai yang memusnahkan mereka.

Bagi Rahmat, ritual itu adalah bukti lain dari kebutaan masyarakatnya terhadap kebenaran. Ia tahu bahwa kabut itu hanyalah fenomena alam, hasil dari lembah yang lembap dan udara yang dingin. Tapi, bagaimana caranya menjelaskan hal itu kepada orang-orang yang telah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan?

Ketakutan itulah yang membuat Rahmat merasa sendiri, meski ia dikelilingi oleh ratusan jiwa. Ia sering bertanya-tanya, apakah ada cara untuk mengubah cara pikir mereka? Apakah ada cara untuk menyalakan lentera di tengah kabut ini?

Meski kerap dianggap gila, Rahmat tidak pernah berhenti berharap. Setiap kali ia membuka halaman sebuah buku, ia merasa seperti menemukan secercah cahaya kecil yang dapat membimbingnya keluar dari kegelapan.

Namun, di desa ini, cahaya adalah hal yang langka. Lentera-lentera yang dinyalakan warga hanya cukup untuk menerangi rumah-rumah mereka, tidak untuk menyinari jalan mereka ke masa depan. Dan kabut terus bertahan, menyelimuti desa dengan dinginnya yang tak kenal ampun. Tapi Rahmat tahu, di balik setiap kabut, pasti ada cahaya yang menunggu untuk ditemukan.

Harapan dalam Kegelapan

Di lereng bukit yang sunyi, tersembunyi sebuah desa kecil yang namanya jarang disebutkan di peta. Desa itu seolah-olah terpisah dari dunia oleh selimut kabut tebal yang tak pernah pergi. Kabut itu bukan kabut biasa. Ia menyelimuti desa dari pagi hingga malam, meresap ke setiap celah kehidupan, mengaburkan pandangan dan membatasi gerak.

Bagi sebagian besar warga, kabut itu adalah bagian dari hidup mereka, sesuatu yang tak perlu dipertanyakan. Namun, bagi yang lain, seperti Rahmat, kabut itu lebih dari sekadar fenomena alam. Ia adalah tirai yang menutup pandangan masyarakat dari cahaya pengetahuan dan perubahan.

Rahmat adalah seorang pemuda sederhana. Tubuhnya jangkung, dengan mata tajam yang selalu terlihat tenggelam dalam pikiran. Rumahnya berada di tepi desa, berdampingan dengan hutan yang misterius. Sehari-hari, ia menjalani kehidupan yang biasa: bercocok tanam, merawat ternak, dan sesekali membantu tetangga.

Namun, ada satu kebiasaan Rahmat yang membuatnya berbeda. Setiap malam, di bawah cahaya redup dari lentera minyak, ia tenggelam dalam dunia yang hanya sedikit orang di desanya pahami: buku-buku tua.

Buku-buku itu adalah peninggalan ayahnya, seorang guru yang pernah mengajar di desa ini sebelum meninggal dunia beberapa tahun lalu. Ayahnya adalah satu-satunya orang yang pernah mencoba membawa sedikit cahaya pengetahuan ke desa itu.

Namun, usahanya sering kali terbentur tembok ketakutan dan kecurigaan. Warga percaya bahwa belajar, terutama dari hal-hal yang tertulis, adalah cara untuk mengundang bencana. Mereka menghubungkan hal itu dengan kabut yang tak pernah pergi.

“Kabut ini adalah kutukan,” kata seorang tetua desa suatu hari. “Dan membaca hanya akan membuat kutukan itu semakin kuat.”

Pandangan seperti itulah yang membuat Rahmat menjadi sosok yang terasing. Banyak yang menganggapnya aneh, bahkan berbahaya. Anak-anak dilarang bermain dekat rumahnya, dan para tetua desa sering memberi peringatan kepada orang-orang agar tidak terlalu banyak bergaul dengannya.

Tapi Rahmat tidak peduli. Baginya, buku-buku itu adalah jendela ke dunia yang lebih luas, dunia yang tidak dapat dilihat oleh warga desa yang matanya telah terlalu terbiasa dengan kabut.

Namun, kehidupan di desa itu tidak hanya ditentukan oleh ketakutan terhadap buku. Mereka juga terperangkap dalam adat yang kaku dan kepercayaan pada cerita-cerita mistis.

Konon, kabut itu berasal dari roh penjaga bukit yang marah karena ulah manusia. Setiap malam Jumat, warga desa berkumpul di balai desa untuk melakukan ritual persembahan kepada roh itu, berharap agar kabut tidak berubah menjadi badai yang memusnahkan mereka. (bersambung ke bagian 2)

______________

Selayang pandang:

Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.

Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.

Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan  pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).

Tags: Cerita PendekCerpenCerpen KehidupanCerpen MotivasiKabutLentera
ShareTweetSendShare
Previous Post

Serba-serbi Menyambut Ramadhan di Daerahku, Kamu Seperti Apa?

Next Post

Tidak Gentar, Demonstrasi Mahasiswa pro-Palestina di New York Terus Berlanjut

Mungkin Anda Juga Suka :

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

14 Maret 2026

...

Di Ambang Mahacahaya

Di Ambang Mahacahaya

9 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

9 Maret 2026

...

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

8 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

8 Maret 2026

...

Load More
Next Post
Tidak Gentar, Demonstrasi Mahasiswa pro-Palestina di New York Terus Berlanjut

Tidak Gentar, Demonstrasi Mahasiswa pro-Palestina di New York Terus Berlanjut

Tips Agar Kamu Tetap Semangat Saat Puasa

Tips Agar Kamu Tetap Semangat Saat Puasa

Discussion about this post

TERKINI

Ijtima Ulama Indonesia Tegaskan Dukungan Mengawal Pembangunan Nasional di Bawah Kepemimpinan Presiden Prabowo

25 Juli 2026

Mencengangkan, Taipan SK Hynix Korea Selatan Harus Membayar Uang Cerai ke Mantan Istri Sebesar 644 Juta Dolar

24 Juli 2026

Hana Nabila Bustami, Kejar Cita-cita ke Inggris di Jurusan Mechanical Engineering with Aeronautics

24 Juli 2026

Agusnadi “The Social Trainer”, Eks Supir Angkot yang Kini Chief Learning & Communications Strategist

24 Juli 2026

Ingin Dongkrak Wisatawan Usai Dihantam Iran, Dubai  Tawarkan Hadiah Bagi Warganya yang Membantu

23 Juli 2026

Diwakili 87 Organisasi di Bawah MUI, KUII ke-8 Pada 26-28 Juli Bahas Hukuman Khusus Bagi Koruptor

23 Juli 2026

Dua Pangkalan AS di Yordania Rusak Dihantam Rudal dan Drone Iran, Tentara AS Tewas dan Luka-luka

22 Juli 2026

Indonesian Education Digitalization Accelerated, President Prabowo Reaffirms Government Commitment

21 Juli 2026

Digitalisasi Pendidikan Indonesia Dipercepat, Presiden Prabowo Kembali Tegaskan Komitmen Pemerintah

21 Juli 2026

Kemenangan Spanyol di Piala Dunia Dirayakan Warga Gaza Palestina di Antara Reruntuhan dan Genosida

20 Juli 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT!
    • Kanal Kamu Kuat
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video