KAMU KUAT – Jakarta
Kelestarian dan keindahan lingkungan di sekitar kita tentu akan menciptakan kesan bersih, asri, dan alami. Seiring dengan harapan itu pula, kita sering lupa bahwa untuk mendapatkan hal tersebut diperlukan kesadaran untuk memelihara dan menjaga lingkungan hidup.
Sampah menumpuk, pencemaran udara, penebangan liar hutan, dan lainnya yang jauh dari kesan indah dan asri, membuat alam menjadi tidak terjaga, kotor, serta tidak sehat. Padahal, menjaga kelestarian lingkungan bukan cuma tugas orang dewasa atau pemerintah, tapi juga tanggung jawab kita sebagai remaja.
Mencermati permasalahan tersebut, sebenarnya seberapa penting sih kepedulian terhadap lingkungan? Lalu aksi nyata seperti apa yang bisa dilakukan remaaja dan anak muda di lingkungan sekitarnya? Yuk, kita simak wawancara dan pandangan langsung dari sesama remaja yang sudah mulai bergerak menjaga bumi di kanal KAMU KUAT! Avesiar.com ini
Raina Aulia Fitri, siswi kelas 8, SMP Negeri 18 Bogor

Raina membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk ikut menjaga lingkungan. “Menurut saya, menjaga kelestarian lingkungan hidup berarti melakukan tindakan untuk melestarikan dan melindungi lingkungan dari kerusakan ataupun pencemaran,” ujar Raina.
Baginya, menjaga lingkungan bukan hanya soal kebersihan semata, tetapi juga tentang kehidupan. “Lingkungan yang sehat dan bersih itu sangat penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya,” tambahnya.
Raina tidak hanya berbicara, ia juga bertindak. Dalam kesehariannya, ia berusaha konsisten melakukan hal-hal kecil yang berdampak besar. Mulai dari mengurangi penggunaan plastik, menghemat air, membuang sampah pada tempatnya, hingga memisahkan sampah organik dan non-organik.
“Saya juga lebih memilih naik transportasi umum saat berangkat sekolah dan berjalan kaki saat pulang. Selain hemat energi, juga lebih sehat,” katanya sambil tersenyum.
Namun, tentu tidak mudah. Menurut Raina, ada tantangan yang sering ia hadapi saat mencoba peduli lingkungan. “Kurangnya kesadaran dan partisipasi masyarakat ataupun siswa dalam menjaga lingkungan, keterbatasan fasilitas, serta perilaku konsumtif dan boros itu jadi hambatan tersendiri,” ungkapnya.
Meski begitu, ia tidak menyerah dan terus berusaha memberi contoh lewat tindakan. Pendidikan lingkungan di sekolah menurut Raina masih bisa ditingkatkan lagi. Ia berharap topik-topik yang lebih luas dan mendalam bisa dibahas agar remaja lebih paham dan tergerak. Selain itu, ia juga percaya media sosial bisa jadi senjata ampuh untuk mengedukasi.
“Media sosial bisa digunakan untuk membagikan informasi, mempromosikan praktik hidup yang berkelanjutan, dan menggerakkan aksi kolektif untuk menjaga lingkungan,” ujarnya.
Raina pun mengajak teman-temannya untuk sadar bahwa kebiasaan buruk seperti menggunakan kantong plastik sekali pakai, membuang sampah sembarangan, atau lupa mematikan listrik saat tidak digunakan bisa berdampak besar.
“Kebiasaan buang sampah sembarangan yang masih dilakukan masyarakat sangat memprihatinkan. Itu bisa menyebabkan pencemaran lingkungan, kerusakan ekosistem, dan masalah kesehatan,” tegasnya menutup wawancara.
Wildan, mahasiswa Meteorologi Terapan IPB University

Wildan ingin membuktikan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar teori dalam buku, tapi aksi nyata yang bisa dilakukan setiap hari. “Menjaga kelestarian lingkungan hidup berarti menjaga keseimbangan dan keberlanjutan alam agar tetap mampu mendukung kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya,” jelas Wildan.
Menurut Wildan, lingkungan yang sehat adalah fondasi kehidupan yang layak dari kesehatan, kenyamanan, hingga ketersediaan sumber daya. Dalam pandangan keilmuannya, ia juga menyinggung soal urban heat island, sebuah fenomena di mana suhu kota menjadi lebih panas dari daerah sekitarnya, yang bisa memengaruhi kenyamanan manusia. “Ini salah satu contoh bagaimana lingkungan berhubungan langsung dengan kehidupan kita,” tambahnya.
Wildan memilih langkah-langkah sederhana namun konsisten dalam kesehariannya. “Selama enam semester berkuliah di IPB University, saya memilih menggunakan moda transportasi bus kampus daripada kendaraan pribadi,” ujarnya.
Selain mengurangi emisi, ia juga mendukung kebijakan transportasi berkelanjutan yang diterapkan kampusnya. Tapi, tantangan tetap ada. Ketika di luar kampus, tidak semua tempat punya transportasi umum yang layak. “Kadang saya masih harus bergantung pada kendaraan pribadi karena opsinya terbatas,” akunya.
Sebagai mahasiswa, Wildan bersyukur karena di kampusnya akses terhadap informasi dan pendidikan lingkungan sangat mudah. Mulai dari proyek, kegiatan organisasi, hingga seminar, semuanya membuka wawasan soal keberlanjutan. “Yang sulit justru membiasakan gaya hidup ramah lingkungan dengan kesadaran penuh, bukan karena kewajiban proyek atau program kerja,” ujarnya.
Ada satu hal kecil yang sering kita anggap sepele, tapi menurut Wildan berdampak besar, membuang makanan. “Food waste itu menyumbang sekitar 7,29 persen dari total emisi gas rumah kaca tiap tahun di Indonesia,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa membuang makanan bukan cuma soal etika, tapi juga soal lingkungan. “Kita juga menyia-nyiakan energi, air, dan sumber daya lain yang digunakan untuk memproduksi makanan itu.”
Terkait kebiasaan buang sampah sembarangan, Wildan punya pengalaman langsung saat melakukan assessment bersama Indonesia Green Action Forum (IGAF) IPB. Hasilnya, meski fasilitas tempat sampah tersedia dan layak, distribusinya belum merata, dan yang lebih memprihatinkan, kesadaran masyarakat kampus masih rendah.
“Kesadaran pribadi memang penting, tapi harus dibarengi dengan fasilitas yang memadai agar upaya pengelolaan sampah bisa berhasil,” ujar Wildan
Zahra, siswi kelas 8, PPM Sahid Bogor

“Menjaga kelestarian lingkungan hidup menurut saya adalah kita sebagai manusia yang memiliki akal lebih dari makhluk lain, perlu tahu cara supaya lingkungan di sekitar kita tetap terpelihara, bahkan bisa lebih terawat lagi,” jelas Zahra.
Menurutnya, merawat lingkungan bukan hanya agar terlihat indah, tapi juga supaya manfaatnya bisa dirasakan bersama dan tidak sampai punah. Zahra sendiri mempraktikkan kepeduliannya lewat kebiasaan sehari-hari. Ia rajin membuang sampah pada tempatnya, serta menanam dan merawat tanaman hias di halaman rumah. “Sederhana sih, tapi itu bisa jadi langkah awal agar lingkungan lebih asri dan bersih,” katanya.
Namun, dalam perjalanannya menjaga lingkungan, Zahra juga menghadapi tantangan. Ia sering menemukan orang yang masih belum peduli, seperti buang sampah sembarangan atau membiarkan selokan tersumbat. “Akibatnya selokan jadi bau dan muncul genangan air tempat jentik nyamuk berkembang. Itu bisa sebabkan demam berdarah,” ujar Zahra prihatin.
Ia juga mengamati bahwa salah satu penyebab banyak orang masih membuang sampah sembarangan adalah karena minimnya fasilitas. “Di taman perumahan sulit ditemukan tempat sampah, atau letaknya jauh, jadi orang-orang mungkin tidak melihat keberadaannya dan akhirnya buang sampah sembarangan,” paparnya.
Zahra menyoroti satu kebiasaan kecil yang sering diremehkan tidak membersihkan selokan. “Padahal itu bisa menyebabkan jentik nyamuk dan berujung pada penyakit yang berbahaya, bahkan bisa menyebabkan kematian,” jelasnya.
Bagi Zahra, kebiasaan menjaga kebersihan harus tumbuh dari kesadaran pribadi, bukan karena disuruh atau sekadar formalitas.
Menjaga lingkungan bukan harus dimulai dari hal besar. Justru, kegiatan kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, hemat energi, atau mengajak teman untuk peduli bisa menjadi awal perubahan besar.
Dari wawancara ini, kita belajar bahwa anak muda punya peran penting dalam menciptakan masa depan bumi yang lebih bersih dan sehat. Jadi, tunggu apa lagi? Saatnya kita bukan hanya bicara soal peduli lingkungan, tapi benar-benar bergerak untuk menjaganya dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. (Resty)













Discussion about this post