• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT!
    • Kanal Kamu Kuat
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home KAMU KUAT

Pekerja Anak, Kamu Setuju atau?

by Ave Rosa
4 Juni 2025 | 23:46 WIB
in KAMU KUAT
Reading Time: 5 mins read
A A
Pekerja Anak, Kamu Setuju atau?

Ilustrasi. Foto: ist & Pexels. Kolase: Avesiar.com

Hari Dunia Menentang Pekerja Anak atau World Day Against Child Labour adalah sebuah hari peringatan yang diadakan setiap tanggal 12 Juni untuk meningkatkan kesadaran global tentang isu pekerja anak yang masih terjadi di banyak negara di seluruh dunia.

Momen ini menjadi pengingat bahwa masih banyak anak-anak yang seharusnya duduk di bangku sekolah, justru harus turun ke jalan, bekerja memanggul beban hidup yang semestinya belum mereka pikul.

Di balik senyum polos mereka, tersimpan cerita perjuangan yang tak semua orang tahu. Ada yang menjual tisu di lampu merah, ada yang membantu orang tua di pasar, ada pula yang bekerja di tempat-tempat berisiko tinggi demi sekadar makan sehari-hari.

Lalu, sebagai anak-anak yang mungkin masih bisa belajar dengan tenang dan bermain dengan bebas, diharuskan untuk bekerja mencari uang sedemikian rupa. Kita patut bertanya: Apakah pekerja anak itu salah? Ataukah justru itu bentuk tanggung jawab dan pengorbanan?

Di sinilah kita diajak berpikir lebih dalam, melihat dari berbagai sisi, dan menentukan sikap. Karena masalah ini bukan hanya urusan mereka, tapi juga tanggung jawab kita sebagai bagian dari generasi muda yang peduli. Yuk kita simak penuturan para remaja kepada kanal KAMU KUAT! Avesiar.com!

Suci Mayang Gandasari, siswa kelas 10, SMK Kehutanan Bakti Rimba, Bogor

Suci Mayang Gandasari, siswa kelas 10, SMK Kehutanan Bakti Rimba, Bogor. Foto: istimewa

Suci, mengungkapkan isi hatinya saat melihat anak-anak di usia sekolah dasar yang harus bekerja. “Aku ngerasa sedih, karena anak kecil yang seharusnya sekolah malah harus bekerja di usia segitu. Sedih karena dia nggak bisa dapat ilmu seperti anak-anak lain,” ungkap Suci.

Bagi Suci, pekerja anak bukan sesuatu yang bisa dimaklumi. “Menurut aku, itu nggak bisa dimaklumi. Di umur mereka yang masih kecil, mereka seharusnya belajar, mengeksplor, bukan malah bekerja. Memang begitulah dunia anak kecil seharusnya,” tegasnya.

Bacaan Terkait :

TikTok Lapor Tutup 780 Ribu Akun Anak dan Roblox Belum Dianggap Patuh PP TUNAS, Beberapa Menyatakan Patuh

Cek Kesehatan Mental Remaja yang Memengaruhi Kematangan Emosional dan Cara Berpikir

Uni Eropa Mulai Menyelidiki TikTok atas Konten Online dan Perlindungan Anak

Jelang HAN 23 Juli : Apakah Facebook Sudah Aman Bagi Anak-Anak?

Load More

Ia juga menyoroti dampak jangka panjang dari kondisi ini. Menurutnya, anak yang sejak dini sudah terbiasa bekerja akan tumbuh dengan pola pikir yang hanya fokus mencari uang dan kurang memperhatikan pendidikan.

“Biasanya anak yang kerja dari kecil, pas udah besar mereka bakal lebih fokus kerja karena dari kecil sudah terbiasa cari uang. Mereka mungkin nggak terlalu peduli sama pelajaran. Walaupun nggak semuanya begitu, tapi aku pernah lihat sendiri, bahkan temenku ada yang kayak gitu,” kata Suci berapi-api.

Lalu bagaimana dengan kepedulian remaja terhadap isu ini? Suci menilai bahwa saat ini masih banyak remaja yang bersikap cuek. “Menurut aku, remaja zaman sekarang kurang peduli. Mereka lebih fokus ke diri sendiri. Tapi memang ada juga beberapa yang peduli, misalnya dengan beli dagangan anak-anak atau bahkan menyekolahkan mereka. Semua kembali ke diri masing-masing, masih ada nggak sih rasa peduli terhadap orang lain?”  tutup suci.

Akhtar, siswa kelas 7, SMP Al-Azhar 25, Tangerang Selatan

Akhtar, siswa kelas 7, SMP Al-Azhar 25, Tangerang Selatan. Foto: istimewa

Akhtar pernah melihat langsung situasi itu. “Pernah, dan aku merasa cukup simpati,” ujarnya singkat. Bagi Akhtar, alasan utama di balik pekerja anak umumnya karena dua hal, keterpaksaan ekonomi keluarga atau justru eksploitasi oleh pihak lain. “Karena faktor ekonomi keluarga atau dipekerjakan orang lain. Sebenarnya itu nggak bisa dimaklumi,” ucapnya.

Ia melihat bahwa pekerjaan di usia dini bukan hanya persoalan fisik, tapi juga masa depan. “Pendidikan mereka akan terganggu. Mimpi-mimpi mereka nggak bisa tersalurkan atau bahkan terhambat oleh pekerjaan,” tutur Akhtar prihatin.

Meski begitu, Akhtar yakin masih ada harapan. Ia percaya tidak semua remaja cuek terhadap isu seperti ini. “Pasti ada beberapa remaja zaman sekarang yang peduli. Pemerintah atau organisasi juga harus ikut turun tangan,” tambahnya.

Muhammad Tiar, siswa kelas 12, SMA Negeri 2, Kota Tangerang Selatan

Muhammad Tiar, siswa kelas 12, SMA Negeri 2, Kota Tangerang Selatan. Foto: istimewa

 Tiar, mengaku sering melihat anak-anak bekerja di tempat umum. “Pernah, terutama di lampu merah atau pasar. Sedih dan miris lihat mereka harus bekerja di usia yang seharusnya masih bermain atau sekolah. Kadang juga khawatir dengan keselamatan mereka karena berada di tempat ramai,” ujarnya.

Menurut Tiar, akar masalah ini umumnya datang dari tekanan ekonomi keluarga. “Alasan utamanya biasanya karena kemiskinan. Bisa juga karena orang tua sakit, menganggur, atau karena anaknya terpaksa bantu ekonomi rumah tangga,” jelasnya.

Meski ia memahami situasinya, Tiar tetap menegaskan bahwa hal itu tidak bisa dibenarkan. “Alasannya bisa dimengerti, tapi nggak bisa dimaklumi. Anak tetap punya hak untuk sekolah dan menikmati masa kecilnya.”

Dampak pekerja anak terhadap masa depan pun tak main-main. “Pendidikan mereka terbengkalai, bahkan bisa putus sekolah. Tanpa pendidikan, peluang kerja mereka nanti jadi terbatas. Belum lagi risiko fisik dan mental karena kerja di usia dini bisa ganggu tumbuh kembang mereka,” urainya secara lugas.

Ketika ditanya soal kepedulian remaja masa kini, Tiar menjawab jujur, “Sebagian peduli, tapi banyak juga yang belum aware atau menganggap ini hal biasa. Harus ada edukasi supaya kita semua sadar ini masalah serius.”

Lalu, siapa yang harus turun tangan? Tiar menjawab dengan jelas, “Pemerintah harus buat kebijakan tegas, kayak program wajib belajar dan bantuan sosial. Tapi jangan cuma dibuat harus diawasi juga biar nggak salah sasaran. “Dan keluarga, tentu. Orang tua harus sadar bahwa pendidikan itu penting banget.” Tutupnya.

Pekerja anak bukan sekadar soal anak yang bekerja. Ini tentang mimpi yang tertunda, pendidikan yang terganggu, dan masa depan yang terancam. Kita tak bisa menutup mata dan berkata, “Itu bukan urusan saya.” Justru sebagai remaja yang punya akses informasi, suara, dan semangat perubahan, kita punya peran penting untuk bersuara dan bergerak.

Mulailah dari hal sederhana memahami isu ini dengan hati, menyuarakan keadilan untuk anak-anak yang kehilangan masa kecilnya, dan mendukung program-program yang membantu mereka kembali ke jalur pendidikan. Ingat, anak-anak tidak seharusnya bekerja di masa belajar dan bermain menikmati masa kecil. Mereka adalah generasi penerus yang punya hak untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi agar masa depan diharapkan bisa lebih baik. (Resty)

Tags: Generasi PenerusJangan Pekerjakan AnakKeluarga SejahteraPekerja Anakperlindungan anak
ShareTweetSendShare
Previous Post

Tanda atau Ciri-ciri Diterimanya Kurban dan Larangan Saat Berkurban

Next Post

Benarkah? Ponsel Pintar Anda Adalah Parasit, Menurut Evolusi

Mungkin Anda Juga Suka :

Cara Menguatkan Mental untuk Menjalani Hari-harimu

Cara Menguatkan Mental untuk Menjalani Hari-harimu

27 September 2026

...

Tetap Bugar di Sekolah Meskipun Banyak Kegiatan, Simak Tips Berikut

Tetap Bugar di Sekolah Meskipun Banyak Kegiatan, Simak Tips Berikut

2 Agustus 2026

...

Coba 8 Pilihan Ini Ketika Kamu Belum Lulus Seleksi Masuk PTN

Coba 8 Pilihan Ini Ketika Kamu Belum Lulus Seleksi Masuk PTN

8 Juli 2026

...

Penuhi Komitmen, 4,7 Juta Akun Anak Sudah Dinonaktifkan Platform Sosmed

Penuhi Komitmen, 4,7 Juta Akun Anak Sudah Dinonaktifkan Platform Sosmed

26 Juni 2026

...

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

Cara Jadi Mahasiswa Tokcer dan Bahkan Bintang Kelas di Kampus

14 Januari 2026

...

Load More
Next Post
Benarkah? Ponsel Pintar Anda Adalah Parasit, Menurut Evolusi

Benarkah? Ponsel Pintar Anda Adalah Parasit, Menurut Evolusi

Shalat 5 Waktu, Hukumnya Menurut Pengetahuan Kamu Sebagai Muslim dan Menyikapinya?

Shalat 5 Waktu, Hukumnya Menurut Pengetahuan Kamu Sebagai Muslim dan Menyikapinya?

Discussion about this post

TERKINI

Demi Kedaulatan Ekonomi, Jemaah Umrah Diimbau Tidak Naik Maskapai yang Transit Singapura dan Malaysia

26 Oktober 2026

Empat Negara Besar Akhirnya Bertemu di Teheran Membahas Keamanan dan Stabilitas Regional Buntut Agresi AS-Israel

26 Oktober 2026

Awali Abad ke-2, Rais Aam PBNU Tegaskan NU Harus Menunjukkan Perannya sebagai Miniatur Islam

25 Oktober 2026

Surat Pernyataan 12 Negara Termasuk Iran Menuntut Larangan Serangan Terhadap Fasilitas Nuklir

24 Oktober 2026

Strategi Simpel Berbenah Rumah dengan Barang-barang yang Menumpuk Layaknya Permainan

23 Oktober 2026

Uang Curian Dikembalikan Secara Diam-diam, Hukum dan Penjelasannya

22 Oktober 2026

Iran Ancam Serang Kabel Internet Bawah Laut di Selat Hormuz serta Aset-aset AS dan Sekutu Jika Kembali Diserang

21 Oktober 2026

Gelombang Pertama Disusul Kedua Berangkat 11 April dan 26 April 2027, Kepulangan Jemaah Mulai 21 Mei

21 Oktober 2026

Penanganan Karhutla Harus Lebih Masif dan Terpadu, Prabowo Perintahkan Seluruh Unsur Terkait Gerak Cepat

20 Oktober 2026

Warga Prancis Demo dan 2.400 Ditangkap, Macron Kritik Tindakan Anarki

19 Oktober 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT!
    • Kanal Kamu Kuat
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video